Hijryah-2 (Bulan
Muharam)
By : Abu Albi Bambang
Wijonarso
Blog :
dakwahrenunganhati.blogspot.com
Bulan Muharam adalah bulan yang mulia, yang juga disebut awal bulan
ditahun Hijriyah yang mana ada beberapa keutamaan pertama, bulan ini dinamakan Allah dengan “ Syahrullah “, yaitu
bulan Allah. Penisbatan sesuatu kepada Allah mengandung makna yang mulia,
seperti “ Baitullah “ ( rumah Allah ), “Saifullah” ( pedang Allah ), “
Jundullah” ( tentara Allah) dan lain-lainnya. Dan ini juga menunjukkan bahwa
bulan tersebut mempunyai keutamaan khusus yang tidak dimilili oleh bulan-bulan
yang lain.
Kedua,
bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan yang dijadikan Allah
sebagi bulan haram, sebagaimana firman Allah swt :"Sesungguhnya bilangan
bulan di sisi Allah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah diwaktu Dia
menciptakan langit dan bumi, diantaranya terdapat empat bulan haram."
(Q.S. at Taubah :36). Dan dalam hadis Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda
:“Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaiman bentuknya semula di waktu Allah
menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan, diantaranya
terdapat empat bulan yang dihormati : 3 bulan berturut-turut; Dzulqo’dah,
Dzulhijjah, Muharram dan Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan Jumada
Tsaniah dan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim) In shaa Alloh barangsiapa
melakukan kebaikan dibulan2 mulia tersebut akan mendapatkanpahala yang berlipan
dan begitu pula jika melakukan keburukan akan mendapat kemurkaan Alloh berlipat
lipat. ketiga, bulan ini dijadikan
awal bulan dari Tahun Hijriyah, sebagaimana yang telah disepakati oleh para
sahabat pada masa khalifah Umar bin Khattab ra. Tahun Hijriyah ini dijadikan
momentum atas peristiwa hijrah nabi Muhammad saw.
Melihat fenomena dimasyarakat banyaknya hal yang sangat bertentangan
dengan pemahaman islam yaitu dalam menyikapi tahun Tahun Baru Hijriyah,
sebagian kaum Muslimin mengerjakan beberapa amalan yang tidak pernah
dicontohkan oleh Rasulullah saw, maka hendaknya kekeliruan tersebut bisa
dihindarkan dari kita. Diantara kekeliruan tersebut adalah :
Menjadikan tanggal 1 bulan Muharram
sebagai hari raya kaum Muslimin, mereka merayakannya dengan cara saling
berkunjung satu dengan yang lainnya, atau saling memberikan hadiah satu dengan
yang lainnya, bahkan sebagian dari mereka mengadakan sholat tahajud dan
doa’-do’a khusus pada malam tahun baru. Padahal dalam Islam hari raya hanya ada
dua, yaitu hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha. Hal itu sesuai dengan
hadist Anas bin Malik ra, bahwasanya ia berkata : “Rasulullah saw datang ke kota Madinah, pada waktu
itu penduduk Madinah merayakan dua hari tertentu, maka Rasulullah saw bertanya:
Dua hari ini apa ? Mereka menjawab: “Ini adalah dua hari, dimana kami pernah
merayakannya pada masa Jahiliyah. Maka Rasulullah saw bersabda : “ Sesungguhnya
Allah swt telah menggantikannya dengan yan lebih baik: yaitu hari raya Idul
Adha dan hari raya Idul Fitri. (HR Ahmad, Abu Daud dan Nasai )
Begitu juga, merayakan tahun baru
adalah kebiasaan orang-orang Yahudi dan Nasrani, maka kaum Muslimin
diperintahkan untuk menjauhi dari kebiasaan tersebut, sebagaimana yang terdapat
dalam hadist Abu Musa Al Asy’ari bahwasanya ia berkata : “Hari Asyura adalah
hari yang dimuliakan oleh Yahudi dan mereka menjadikannya sebagai hari raya.”
Dalam riwayat Al-Nasai dan Ibnu Hibban, Rasulullah bersabda, “Bedalah dengan
Yahudi dan berpuasalah kalian pada hari Asyura.”
Menjadikan tanggal 10 Muharram sebagi
hari berkabung, sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok Syi’ah Rafidhah.
Mereka meratapi kematian Husen bin Ali yang terbunuh di Karbela. Bahkan sejak
Syah Ismail Safawi menguasai wilayah Iran, dia telah mengumumkan bahwa
hari berkabung nasional berlaku di seluruh wilayah kekuasaannya pada tanggal 10
hari pertama bulan Muharram. Ritual meratapai kematian Husen ini dilakukan
dengan memukul tangan-tangan mereka ke dada, bahkan tidak sedikit dari mereka
yang menyabet badan mereka dengan pisau dan pedang hingga keluar darahnya, dan
sebagian yang lain melukai badan mereka dengan rantai.
Menjadikan malam satu Muharram untuk
memburu berkah dengan berbondong-bondong kesuatu tempat dan menyaksikan ritual
kirab dan pelepasan kerbau bule, yang kemudian mereka berebut mengambil
kotorannya, yang menurut keyakinan mereka bisa menyebabkan larisnya dagangan
dan membawa berkah di dalam kehidupan mereka. Semoga Allah menjauhkan kita dari
perbuatan syirik dan bid’ah dan menunjukkan kita kepada jalan yang lurus.
Demikian muda-mudahan dibulan yang penuh dengan kemuliaan ini dapat
mengisinya dengan hal-hal yang pasti diperintahkan Allah dan RosulNya sehingga
sebagai momentum awal tahun baru Islam dengan sebuah pertanda awal kebaikan untuk mengisi bulan-bulan
selanjutnya.
Wallahu
a’lam bish-shawab
Renungan
HAti
Abu
Albi Bambang Wijonarso
Tidak ada komentar:
Posting Komentar