Jumat, 15 September 2017

Syukur pandangan Islam



Renungan HAti
Abu Alby Bambang Wijonarso

      Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah beliau sampai hari kiamat.

Kaum muslimin yang kami muliakan, sesungguhnya segala kebaikan dan kenikmatan yang ada pada kita adalah karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ (Qs. An Nahl : 53)

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)…” (QS. An-Nahl: 53)

Betapa melimpahnya kenikmatan yang Allah Ta’ala berikan kepada kita, yang tidak terhingga jumlahnya. Allah memberikan kita kehidupan, kesehatan, makanan, minuman, pakaian dan begitu banyak nikmat yang lainnya. Jika kita berusaha menghitung nikmat yang Allah karuniakan kepada kita, niscaya kita tidak akan mampu menghitungnya. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.” (QS. An-Nahl: 18).

          Pengertian Syukur secara bahasa kata syukur diambil dari kata syakara, syukuran, wa syukuran dan wa syukuran yang berarti berterima kasih kepadaNya.
Secara istilah adalah suatu sifat yang penuh kebaikan dan rasa menghormati serta mengagungkan atas segala nikmatNya, baik diekspresikan dengan lisan, dimantapkan dengan hati maupun dilaksanakan melalui perbuatan.

Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Bagaimanapun keadaannya, dia tetap masih bisa meraih pahala yang banyak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu).

Segala nikmat yang Allah berikan kepada kita adalah ujian bagi kita, apakah kita akan menjadi hamba-Nya yang bersyukur ataukah menjadi orang yang kufur. Sungguh benar apa yang diucapkan oleh Nabi Sulaiman ‘alaihis salam tatkala mendapatkan nikmat, beliau mengatakanهَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْ لِيَبْلُوَنِيْ أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّيْ غَنِيٌّ كَرِيْمٌ (40)

Ini termasuk karunia dari Rabb-ku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur ataukah mengingkari (nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Rabb-ku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (QS. An-Naml: 40).

Al-Bukhari dan Muslim menceritakan di dalam kitab Shahih-nya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun shalat malam hingga kedua kaki beliau bengkak. Lalu istri beliau, yaitu ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya, ”Mengapa Anda melakukan ini, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosa Anda yang dulu maupun yang akan datang?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
أَفَلاَ أَكُوْنُ عَبْدًا شَكُوْرًا”Tidak pantaskah jika aku menjadi hamba yang bersyukur?” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 4837 dan Muslim, no. 2820)

Hakikat Syukur adalah akhlaq yang mulia, yang muncul karena kecintaan dan ke-ikhlas’an/keridho’an yang besar terhadap Sang Pemberi Nikmat. Syukur tidak akan mungkin bisa terwujud jika tidak diawali dengan ke-ikhlas’an/keridho’an. Seseorang yang diberikan nikmat oleh Allah walaupun sedikit, tidak mungkin akan bersyukur kalau tidak ada ke-ikhlas’an/keridho’an. Orang yang mendapatkan penghasilan yang sedikit, hasil panen yang minim atau pendapatan yang pas-pasan, tidak akan bisa bersyukur jika tidak ada ke-ikhlas’an/keridho’an. Demikian pula orang yang diberi kelancaran rizki dan harta yang melimpah, akan terus merasa kurang dan tidak akan bersyukur jika tidak diiringi ke-ikhlans’an/keridho’an.

Kaum muslimin yang kami muliakan, syukur yang sebenarnya tidaklah cukup hanya dengan mengucapkan “alhamdulillah”. Namun hendaknya seorang hamba bersyukur dengan hati, lisan dan anggota badannya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Qudamah rahimahullah, “Syukur (yang sebenarnya) adalah dengan hati, lisan dan anggota badan. (Minhajul Qosidin, hal. 305).

Syukur dibagi Tiga yaitu Syukur Hati, Lisan dan anggota badan.

Pertama : adapun syukur Hati adalah mengakui dan meyakini bahwa nikmat tersebut semata-mata datangnya dari Allah Ta’ala dan bukan dari selain-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)…” (QS. An-Nahl: 53). Meskipun bisa jadi kita mendapatkan nikmat itu melalui teman kita, aktivitas jual beli, bekerja atau yang lainnya, semuanya itu adalah hanyalah perantara untuk mendapatkan nikmat.Mencintai Allah Ta’ala yang telah memberikan semua nikmat itu kepada kita.  Meniatkan untuk menggunakan nikmat itu di jalan yang Allah ridhai.

Kedua, Adapun Syukur lisan adalah memuji (dengan ucapan Alhamdulillah) dan menyanjung Dzat yang telah memberikan nikmat tersebut pada kita. Rosulullah saw bersabda dari Ibnu Jarir dan Al Hakim : Apabila kalian mengucapkan Alhamdulillahi robbil ‘alamiin dengan demikian engkau telah bersyukur kepada Allah dan Dia akan menambah nikmatNya.

Ketiga, adapun Syukur anggota badan adalah menggunakan nikmat tersebut untuk mentaati Dzat yang kita syukuri (yaitu Allah Ta’ala) dan menahan diri agar jangan menggunakan kenikmatan itu untuk bermaksiat kepada-Nya. Contoh Syukur anggota badan seperti sholat, puasa, dan seluruh kebaikan berdasarkan karena Allah.

Dari Ibnu Abbas menceritakan, Rosullah bersabda : Orang pertama yang akan dipanggil untuk masuk Surga adalah orang-orang yang senantiasa memuji Allah dalam keadaan lapang dan dalam keadaan sempit (Tanbihul Ghafilin 197).

Dan Allah berfirman dalam Al Qur’an “Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti aku akan menambah nikmatKu kepadamu dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku sesungguhnya azab-Ku sangat pedih (Qs.Ibrahim ayat 7).

Dari Abu Sa’id (Al-Kudri) ra, ia berkata : Rosulullah shallahu alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa belum berterima kasih kepada manusia, maka ia belum bersyukur kepada Allah (HR At-Tirmizi IV/339 no.1955 dan Ahmad III/32 no.11298).

Dari Abu Hurairah ra, dari nabi Shallahu alaihi wasallam, beliau bersabda “Tidaklah beryuskur kepada Allah siapa saja yang tidak berterima kasih kepada orang lain (HR Abu Daud II/671 no.4811 dan Ahmad II/295 no.7926).

       Akan tetapi untuk meraih predikat atau derajat ahlak yang mulia dari “Syukur” sangatlah sulit sekali melalui perjuangan dan pengorbanan yang sangat luar biasa karena Iblis dan sekutunya tidak akan pernah rela manusia bersyukur kepada Allah. Hal ini diungkapkan iblis la’na tullah didalam Al Qur’an :

Iblis berkata, "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka (1) dari muka dan (2)dari belakang mereka, (3)dari kanan dan (4)dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta`at)” (Qs. Al A’raaf ayat 16 dan 17).

Menurut Al Hakam bin Utaibah bahwa yang dimaksud dengan: dari muka adalah dunia; dari belakang adalah akhirat; dari kanan adalah kebaikan dan dari kiri adalah keburukan. Kendatipun Al Hakam telah memberi tafsiran untuk empat kata di atas, namun tafsiran tersebut masih memerlukan penjelasan. Karena ayat tersebut mengandung makna

yang jauh lebih luas dari tafsir yang di atas. Maka yang dimaksud dengan:
1. Mendatangi mereka dari muka adalah bahwa setan senantiasa menggunakan kehidupan manusia dalam urusan dunia yang terlihat jelas untuk melupakan mereka terhadap urusan yang masih gaib, yaitu akhirat dan kehidupan dunia dipandang tidak berhubungan dengan akhirat.

2. Mendatangi mereka dari belakang, yaitu menggunakan amal ukhrowi untuk kepentingan dunia. Al Quran adalah pembimbing yang mengarahkan semua kehidupan manusia agar menjadi amal ibadah demi kepentingan akhirat. Namun, dengan belajar dari pengalaman yang sudah ribuan tahun, maka Iblis terus-menerus membisik dan mengarahkan manusia agar menggunakan Al Quran untuk kepentingan dunia. Dia juga mengarahkan orang yang suka beribadah agar menjadikan ibadahnya untuk kepentingan
dunia pula.
Bahkan dia juga menanamkan ke dalam hati manusia keangkuhan tersembunyi, yaitu meyakini bahwa keajaiban-keajaiban yang dialaminya adalah bukti ketakwaan dirinya kepada Allah. Jika sudah muncul keangkuhan maka desakan menuju kemusyrikan semakin kuat dan jalan kesesatan di hadapannya semakin terbuka lebar.

3. Dengan kebaikan. Amal kebaikan yang dikerjakan seorang hamba pun tidak lepas dari incaran setan. Setan berupaya menggunakan amal kebaikan seorang hamba sebagai jalan menuju keangkuhan. Dia membisik kepada orang yang beramal kebaikan agar memandang dirinya sebagai orang yang lebih utama dan mulia bahkan lebih dari itu merasa diri sebagai orang suci dari dosa.
Alkisah, pada suatu hari seorang praktisi ruqyah ditanya: ustadz, mengapa bacaan ustadz sangat berpengaruh bagi pasien sementara bacaan orang lain tidak, padahal yang lain pun mampu membaca yang ustadz baca? Dengan yakin dia menjawab: oh itu urusan ketakwaan.
Kisah lain, seorang yang mengaku sufi mengaku bahwa dia telah mampu membela diri dengan kekuatan gaib. Ketika seorang pemuda berkata:
Ustadz, tolong ajarkan padaku agar aku memiliki bekal untuk berjihad. Dia berkata kepada pemuda itu: kalian belum sampai kepada maqam yang kami capai. Bahkan dari kalangan mereka ada yang lebih parah lagi, yaitu mengaku lebih mulia daripada nabi dan malaikat seperti yang diungkapkan seorang tokoh spiritual di Asia Tengah:
إن لأئمتنا مقاما لم يبلغ إليه نبي مرسل ولا ملك مقرب
Sesungguhnya pemimpin-pemimpin kami menempati kedudukan yang tidak dicapai oleh nabi yang diutus dan tidak pula dicapai oleh malaikat yang dekat.

4. Dengan keburukan. Ketika seorang hamba mendapat satu musibah atau menghadapi kesulitan maka setan akan terus berusaha untuk menanamkan keresahan, kegelisahan hingga kehilangan kontrol dalam sikap dan ucapan yang akhirnya keluar kata-kata kufur dan syirik. Di samping itu juga sangat mungkin setan membisiki seorang hamba tadi agar mengatasi masalah dengan cara yang melanggar syari’at seperti mengatasi penyakit dengan menggunakan dukun, mengatasi kemiskinan dengan mencuri atau merampok.

             Untuk mengetahui lebih rinci tentang program setan dan agar terhindar dari berbagai bahayanya, maka perlu kita kaji surat An Nisa yang dengan rinci Allah menjelaskan program Iblis, yaitu:
Dan mereka tidak lain hanyalah menyembah setan yang durhaka, yang dila`nati Allah dan setan itu mengatakan, "Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (untuk saya): (1)aku benar-benar akan menyesatkan mereka, (2) akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, (3) akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan (4) akan aku suruh mereka (merobah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merobahnya". Barangsiapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata (Q.S. 4: 117-119).


Semoga Allah Ta’ala memberikan pertolongan-Nya kepada kita untuk mensyukuri nikmat-Nya dan menjadikan kita hamba-Nya yang pandai bersyukur.

Wallahu ‘alam bish-shawab.
Renungan HAti
Abu Alby Bambang Wijonarso

Tidak ada komentar:

Posting Komentar