Sabtu, 05 Mei 2018

Malu adalah ahlak orang yang beriman


Abu Alby Bambang Wijonarso

Hadits.

عَنْ أَبِيْ مَسْعُوْدٍٍ اْلأَنْصَاريِ الْبَدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((إِنَّ مِـمَّـا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِِ النُّبُوَّةِ اْلأُوْلَى : إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ ؛ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ)). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.

Dari Abu Mas’ûd ‘Uqbah bin ‘Amr al-Anshârî al-Badri radhiyallâhu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya salah satu perkara yang telah diketahui oleh manusia dari kalimat kenabian terdahulu adalah, ‘Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu.’”

TAKHRÎJ HADÎTS
Hadits ini shahîh diriwayatkan oleh: Al-Bukhâri (no. 3483, 3484, 6120), Ahmad (IV/121, 122, V/273), Abû Dâwud (no. 4797), Ibnu Mâjah (no. 4183), ath-Thabrâni dalam al-Mu’jâmul Ausath (no. 2332), Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ’ (IV/411, VIII/129), al-Baihaqi (X/192), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 3597), ath-Thayâlisi (no. 655), dan Ibnu Hibbân (no. 606-at-Ta’lîqâtul Hisân).

PENJELASAN HADÎTS.

1. Pengertian Malu
Malu adalah satu kata yang mencakup perbuatan menjauhi segala apa yang dibenci.

Menurut jumhur ulama pengertian hadits tersebut diatas adalah kalimat ancaman seakan Rosulullah saw bersabda jika kalian tidak memiliki rasa malu malu maka lakukanlah sekehendakmu, dan Allah swt akan memberimu siksa yg pedih. Perintah seperti ini juga ada dalam al Qur'an berbuatlah sesuka hati kalian (qs.Fushilat :40).



2. Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata, “Malu berasal dari kata hayaah (hidup), dan ada yang berpendapat bahwa malu berasal dari kata al-hayaa (hujan), tetapi makna ini tidak masyhûr. Hidup dan matinya hati seseorang sangat mempengaruhi sifat malu orang tersebut. Begitu pula dengan hilangnya rasa malu, dipengaruhi oleh kadar kematian hati dan ruh seseorang. Sehingga setiap kali hati hidup, pada saat itu pula rasa malu menjadi lebih sempurna.

3. Imam An Nawawi rahimahullah berkata,  Jika makna malu adalah mencegah dari melakukan sesuatu yg tercela, maka seruan untuk memiliki malu pada dasarnya, adalah seruan untuk mencegah segala maksiat, kejahatan dan keburukan.

4. Disamping itu rasa malu adalah ciri khas dari kebaikan yg senantiasa diinginkan oleh manusia. Mereka melihat bahwa tidak memiliki rasa malu adalah kekurangan dan suatu aib.

4. Rasa Malu juga bagian dari kesempurnaan iman dalam hadits nya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

َاْلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ َاْلإِيْمَانُ.

“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah perkataan ‘Lâ ilâha illallâh,’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang iman.
[Shahîh: HR.al-Bukhâri dalam al-Adâbul Mufrad (no. 598), Muslim (no. 35), Abû Dâwud (no. 4676), an-Nasâ-i (VIII/110) dan Ibnu Mâjah (no. 57), dari Shahabat Abû Hurairah].

5. Imam Nawawi rahimahullah berkata segala perintah yg bermakna wajib dan sunah maka orang akan malu untuk tidak melaksanakannya.
Sedangkan larangan yg bermakna haram dan makruh maka orang akan malu untuk melanggarnya. Sedangkan terhadap apa2 yg dibolehkan (mubah) maka rasa malu karna melakukannya atau sebaliknya tidak ada masalah.

6. Malu pada hakikatnya tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan. Malu mengajak pemiliknya agar menghias diri dengan yang mulia dan menjauhkan diri dari sifat-sifat yang hina.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلْـحَيَاءُ لاَ يَأْتِيْ إِلاَّ بِخَيْـرٍ.

“Malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata-mata.” [Muttafaq ‘alaihi]

Dalam riwayat Muslim disebutkan,

اَلْـحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ.

“Malu itu kebaikan seluruhnya  [
Shahîh: HR.al-Bukhâri (no. 6117) dan Muslim (no. 37/60), dari Shahabat ‘Imran bin Husain.

Malu adalah akhlak para Nabi , terutama pemimpin mereka, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih pemalu daripada gadis yang sedang dipingit.

7. Rasa malu dapat diperoleh dengan dua jalan yaitu rasa malu dari bawaan sejak lahir
dan rasa malu yg diperoleh dari melalui usaha.

Yang pertama dari tabiat bawaan yg Allah berikan sejak kecil dan terus tumbuh dipupuk dan berkembang maka seseorang tidak akan melakukan maksiat, perbuatan keji, dan berbagai prilaku yg menunjukkan kerandahan akhlak.

Yang kedua rasa malu yg diperoleh dari bentuk usaha seseorang melalui belajar dan terus belajar tentang kebesaran, keagungan, mengenal, kedekatan kepada Allah Azza Wajjalla. Dia yakin sekali bahwa pengawasan Allah swt tidak luput dari semua aktifitasnya didunia.

8. Umar radhyallahuanhu  berkata barangsiapa yang merasa malu maka dia akan sembunyi. Barangsiapa yg bersembunyi maka akan berhati2 dan batangsiapa yang berhati2 maka ia akan terjaga..

9. Jika dalam diri manusia tdk ada lagi rasa malu baik yg bersifat bawaan maupun yg diusahakan maka tidak ada lagi yg menghalanginya untuk melakukan perbuatan yg dilarang Allah dan mudah untuk melanggar apa yg Allah dan Rosul perintahkan..

10. Rasa malu adalah kebaikan jadi semakin tebal rasa malu yg dimiliki maka semain banyak kebaikannya dan semakin sedikit rasa malu yg dimiliki maka semakin sedikit sebaikan nya..

Note : ingat malu disini malu kepada Allah swt dan kepada manusia.. dan kebaikan disini kebaikan menurut Allah dan Rosulnya bukan menurut manusia.

11. Konsekuensi Malu Menurut Syari’at Islam
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اِسْتَحْيُوْا مِنَ اللهِ حَقَّ الْـحَيَاءِ، مَنِ اسْتَحْىَ مِنَ اللهِ حَقَّ الْـحَيَاءِ فَلْيَحْفَظِ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى وَلْيَذْكُرٍِِِِِِِِِِِِِِ الْـمَوْتَ وَالْبِلَى، وَمَنْ أَرَادَ اْلأَخِِِِرَة تَرَكَ زِيْنَةَ الدُّنْيَا، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدِ اسْتَحْيَا مِنَ اللهِ حَقَّ الْـحَيَاءِ.

Hendaklah kalian malu kepada Allah Azza wa Jalla dengan sebenar-benar malu. Barang-siapa yang malu kepada Allah Azza wa Jalla dengan sebenar-benar malu, maka hendaklah ia menjaga kepala dan apa yang ada padanya, hendaklah ia menjaga perut dan apa yang dikandungnya, dan hendaklah ia selalu ingat kematian dan busuknya jasad. Barangsiapa yang menginginkan kehidupan akhirat hendaklah ia meninggalkan perhiasan dunia. Dan barangsiapa yang mengerjakan yang demikian, maka sungguh ia telah malu kepada Allah Azza wa Jalla dengan sebenar-benar malu.[Hasan: HR.at-Tirmidzi (no. 2458), Ahmad (I/ 387), al-Hâkim (IV/323), dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 4033). Lihat Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr (no. 935).

Dengan usia kita sekarang dan akan semakin tua alias menuju kepada kematian maka dengan adanya pemahaman ilmu bab tentang malu diharapkan kita bisa introspeksi diri dan menilai sudah berapa persenkah rasa malu kita kepada Allah azza wa jalla...

Mudah2an dengan modal ilmu agama ini kita bisa melaksana kan apa yg Allah dan RosulNya perintahkan dan apa yg dilarang sehingga menumbuhka rasa malu yang maksimal dan bekualitas aamiin ya rabbal alamiin..

Kebenaran datang dari Allah azza wajalla dan kesalahan datang dari saya mohon maaf.

Walllahu 'alam
Abu Alby Bambang Wijonarso
29 April 2018
13 Sha'ban 1439

Tidak ada komentar:

Posting Komentar