Rabu, 08 Juli 2015
Sebelas Type Suami
Senin, 19 Desember 2011
|
Tahun Baru Masehi
By Abu Alby Bambang
Email :bambang.wijonarso@yahoo.com
Bagaimana umat islam menyikapi pergantian
tahun baru Masehi…? Islam sama sekali tidak mengenal tahun baru
masehi sebagai sesuatu yang luar biasa, apalagi dengan penuh acara yang
berhura-hura yang kita kenal dengan sebutan Malam Tahun Baru…baik berupa
hiburan –hiburan yang dikemas dalam bentuk bermacam-macam misalnya acara di
media electronik (TV) berupa Band,Tari-tarian, atau berkumpul bersama disuatu
tempat begadang sampai pagi intinya
menghabiskan perpindahan waktu dengan
sesuatu yang sia-sia tidak ada manfaatnya sebagai bekal diakherat kelak
bahkan dapat melalaikan ingat kepada
Allah.
Tahun baru bagi umat islam 01 Muharram perjuangan Rosulullah dari
Hijrahnya dari kota Mekah ke Kota Madinah sebagai titik awal penentuan
kalender Islam. Tentunya umat islam harus mengambil pelajaran dari perjuangan
Rosulullah sebagai landasan untuk mengapai kehidupan yang selamat didunia
maupun diakherat kelak. Dijaman Rosulallah dan para sahabat sama sekali tidak
pernah melakukan acara yang mengkhususkan pergantian tahun baik tahun Hijriah
apalagi masehi.
Bagaimana Islam menyikapi segala aktifitas atau kegiatan berupa
amalan-amalan yang khususnya mengenai pergantian tahun coba kita melihat
firman Allah SWT :
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang
kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati,
semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya (Qs. Al Israa (17) ayat 36). Dari
ayat tersebut sudah jelas bahwa seluruh aktifitas hidup pada awalnya boleh
dilakukan sampai ada dalil/hukum (Al Qur’an dan Hadis) yang melarangnya.
Bahkan Allah melarang untuk mengikuti seluruh aktifitas yang lahir dari
orang-orang Nasrani dan Yahudi yang difirmankan dalam Al Qur’an :”Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan
Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi
sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi
pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya
Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim (Qs.Al Maa’idah/5
ayat 51).
Pemimpin ini maksudnya orang atau golongan, bahkan
Negara sekalipun yang dapat mempengaruhi umat/rakyat/orang/negara menjadikan lalai kepada seluruh aturan
Allah dan rosulNya. Sehingga kita ketahui bahwa orang-orang kafir jangan
diikuti :
Orang-orang
yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang
ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak
dapat mengambil manfaat sedikit pun dari apa yang telah mereka usahakan (di
dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh (Qs. Ibrahim 14 ayat
18).
Bagaimana fenomena dimasyarakat
dari tahun ketahun (Tahun Masehi) dibelahan bumi selalu diperingati
pergantian tahun dengan bersenang-senang menghabiskan waktu sampai pagi,
khususnya negara maju seperti di Eropa, Amerika dan Australia dari anak-anak,
remaja, ibu-bapak serta kakek-nenek. Akan tetapi lucunya masyarakat yang nota
bene negara berkembang dengan penuh kemiskinannya, sikaya dan simiskin
semakin jelas bahkan 89% penduduknya mengaku beragama Islam mengikuti
gaya-gaya mereka (Negara Maju), kejadian yang menimpa umat islam khususnya di
Indonesia sudah disinyalir sejak jaman Rosulullah seribu empat ratus tahun
yang lalu dengan hadisnya :” Barangsiapa meniru-niru tingkah laku suatu kaum maka
dia tergolong dari mereka. (HR. Ahmad dan Abu Dawud).
Marilah tidak ada salahnya dalam pergantian tahun kita
meng "EVALUASI DIRI" (muhasabah) seluruh amalan baik hati kita, pemikiran kita,
aktifitas kita,dan prilaku kita sudah sesuai dengan tuntunan Allah dan
RosulNya….makin dekat atau makin jauh …..makin taat atau makin
bermaksiat…..makin sombong atau makin tawadu….makin tidak mau tahu atau
selalu mau tahu tentang ilmu……makin peduli terhadap Agama atau makin
Cuek…..Bagaimanakah jabatan kita….harta kita….pekerjaan kita….keluarga
kita….usia kita….waktu luang kita….popularitas kita kesehatan kita, atau
waktu muda kita sebagai sarana & prasarana yang Allah berikan untuk menciptakan amal soleh. sudahkah
kita melakukan itu semua… Manusia yang Cerdas adalah mampu menahan nafsu
buruknya, kemudian dia beramal soleh sebagai bekal dinegeri akherat…. Perlu
diketahui Jabatan, harta dan popularitas hanya mengantarkan sampai sakaratul
maut, kemudian istri/suami dan kerabat handai taulan hanya mengantarkan kita
sampai liang kubur…..sedangkan amal sholeh akan mengantarkan kita menemui
Allah aza wajala (sangat dibutuhkan saat di yaumil hisab).
Wallahu a’lam bish-shawab
Renungan Hati
Abu Alby Bambang
|
Minggu, 04 Desember 2011
Hijryah-3 (Hari Asyura)
Senin, 17 Oktober 2011
Kiat Haji Mabrur (bagian ke-2)
Oleh : H. Abu Albi Bambang Wijonarso
Al Hajjulmabrur laysalahu jazaa un illaljannah, Rosulullah SAW bersabda dari Abu Hurairah r.a Dan tidak ada pahala bagi haji mabrur kecuali surga (Muttafaq alahi).
Istilah “Mabrur” secara harfiah dapat diterapkan pada berbagai jenis ibadah dalam agama Islam. Namun istilah ini sangatlah popular untuk ibadah haji.
Kata “mabrur” sendiri secara etimologis berasal dari kata Barra-yabirru-birrun yang artinya bebuat baik atau patuh dan kata birrun yang merupakan kata benda dari kata itu yang artinya orang yang mendapatkan kebaikkan atau menjadi baik. Maka haji mabrur adalah haji yang mendapatkan kebaikkan, atau haji yang pelakunya menjadi baik.
Ibnu Umar r.a. berkata “Seorang haji yang paling baik adalah yang niatnya paling ikhlas, biayanya paling bersih, dan keyakinannya (aqidah & tauhid) paling baik.
Oleh sebab itu tentunya mendapatkan predikat haji mabrur sangatlah tidak gampang dan sembarangan, tidak semudah kebanyakan orang yang dengan bangga sepulang tanah suci dipanggil pak atau ibu Haji tapi prilakunya jauh dari tuntunan Allah dan Rosul-nya.
Beberapa kiat-kiat yang harus ditempuh setiap calon jemaah haji untuk meraih predikat haji mabrur. Mereka harus mempersiapkan diri sejak yaitu :
Pertama faktor “Niat”
Orang yang melaksanakan haji niatnya bermacam-macam ada yang mencari popularitas , berdagang, berdo’a didepan ka’bah dari masalah yang dihadapi. Niat yang ikhlas karena mencari ridho Allah sangatlah penting, dan hal ini tidak dapat diciptakan dengan mudah akan tetapi harus diupayakan, diciptakan, dan berdo’a minta pertolongan Allah agar niatnya menjadi sebuah keikhlasan. Seluruh ulama sepakat bahwa niat 100% adalah pekerjaan hati sehingga pelaku calon haji harus merekondisikan atau membersihkan seluruh penyakit hati (Iri, dengki, sombong, hasut, egois dsb) dan modal utamanya adalah ilmu agama Islam, keimanan dan ketakwaan seseorang. Sehingga seberapa besar modal tersebut sangatlah berpengaruh untuk mengatasi penyakit hati.
Barometer kebenaran dari sebuah “niat” dapat dilihat sepulangnya dari Haji apakah lebih taat atau melanggar perintah serta larangan Allah dan Rosul-Nya?
Dari Amirul Mu’minin, (Abu Hafsh atau Umar bin Khottob rodiyallohu’anhu) dia berkata: ”Aku pernah mendengar Rosululloh shollallohu’alaihi wassalam bersabda: ’Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang berhijrah karena Alloh dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Alloh dan Rosul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena (untuk mendapatkan) dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang menjadi tujuannya (niatnya).’” (Diriwayatkan Bukhori dan Muslim).
Kedua, faktor harta.
Dimana bagi calon peserta haji juga harus memperhatikan kehalalan dan bagaimana memperolehnya ?. Mengeluarkan bekal dijalan haji merupakan pengeluaran biaya dijalan Allah. Satu dirham dilipatgandakan pahalanya menjadi tujuh ratus dirham. Banyak kejadian peserta calon haji ada yang biaya (Harta) nya diperoleh secara aneh dan luar biasa subhanallah..!! misalkan ada sebagian yang mendapat gratisan dari salah satu instansi baik pemerintah maupun swasta, atau mendapat biayanya dari saudara /teman /kerabat, atau mendapatkan warisan, ada yang benar-benar menabung sedikit demi sedikit (dari perhitungan akan berangkat 10 tahun lagi tapi ternyata realisasinya 3 tahun berangkat haji),serta ada yang mengorbankan hartanya (jual Rumah, Mobil dsb) dan masih banyak cerita lain akan tetapi yang pasti kesemuanya itu jalan/syariat atas ketetapan yang telah Allah tentukan (Takdir).
Dan yang sangat juga mempilukan adalah tidak ada aturan khusus yang berangkat haji harus Ulama, Ustad, Ahli ibadah, kaya, miskin, tua-muda dsb, hal ini membuktikan bahwa keberangkatan haji seseorang adalah hak prerogratif dari Allah SWT. Bayangkan dari 1,000 orang hanya dipilih satu sebagai tamu Allah SWT di tanah Suci (Kouta dari Saudi Arabia jumlah penduduk dibagi seribu orang). Bagaimana orang yang sudah siap dengan hartanya tapi belum dipanggil Allah begitu pula berlaku bagi seorang yang siap dari sisi ilmu agamanya (Ustad/Ulama) inilah tanda hak prerogratif Allah. Tentunya semua keadaan tersebut diatas sebagai wujud untuk calon haji yang sudah dipanggil Allah mengucapkan terima kasih atas nikmat –Nya dan sebagai modal motivasi memanfaatkan agar diperoleh haji mabrur.
orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dgn harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (Qs. At Taubah 9:20)
Ketiga, Ilmu manasik haji.
Sejak awal seseorang sudah berniat untuk berhaji, dan menyisihkan uang yang didapat, maka mulai saat itulah yang bersangkutan mulai mengubah sikap prilakunya untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dengan melaksanakan perintah dan larangannya yang tentunya melalui belajar baik membaca, mengkaji mengamalkan dengan bimbingan guru/ustad.
Menggapai haji mabrur itu tidak cukup dengan mendalami masalah haji dalam waktu yang singkat, manasik haji itu hanya sekedar memantapkan kembali, bukan baru mulai mengenal masalah haji. Dengan manasik haji diharapkan calon jemaah haji akan bisa memaknai dan memahami nilai-nilai filosofos yang terkandung disetiap gerakan yang dilakukannya. Setiap calon haji juga harus tahu syarat, rukun dan wajib haji jangan sampai mengejar yang sunah justru melupakan yang wajib, apalgi rukun haji. Meninggalkan yang wajib maka harus membayar dam (denda), akan tetapi kalau meninggalkan rukun haji maka haji nya tidak sah dan harus mengulang ditahun berikutnya.
Dari ketiga kiat-kiat tersebut diatas sebagai bekal yang harus dibawa dan insyaAllah sepulangnya dari tanah suci akan mendapat predikat Haji mabrur bukan hanya sekedar panggilan pak atau ibu haji semata.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Renungan HAti
H. Abu Albi Bambang Wijonarso
Selasa, 11 Oktober 2011
Haji (Bagian ke-1)
email : bwmbang_wijonarso@yahoo.com
Syeihul muslim dari mesir Dr. Yusuf Qordowi, mengatakan bahwa pelaksanaan ibadah magdho umat islam ada beberapa penekanan khusus diantaranya “ibadah dzikir” (Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu akbar dsb) penekanannya pada “lisan”, untuk “ibadah sholat” penekanannya pada “gerak”, dan “ibadah Zakat, Infaq dan Sadaqah penekanannya pada harta, serta untuk “ibadah puasa” penekanannya pada proses pengendalian diri (Imsak), sedangkan untuk “Ibadah Haji” penekanannya sekaligus yaitu lisan, gerak, harta dan pengendalian diri dalam waktu yang bersamaan dengan durasi yang cukup lama 18 s/d 40 hari berada ditanah suci.
Bagaimana hukum asal dari ibadah haji adalah rukun islam yang kelima akan tetapi ada penekanan khusus yaitu jika mampu (Istithoah) hal ini difirmankan Allah dalam Al Qur’anul qarim :
mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah[216]. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Qs. Al Imraan 3:97).
Kemampuan (Istithoah) disini minimal ada empat hal jika diantara satu tidak ada maka tidak dapat terealisir kemampuannya yaitu mampu dari ilmu manasik haji, harta, jasmani dan rohani serta kendaraan. Sebagai contoh pada tahun 2007 pemberangkatan haji Indonesia hampir mengalami kegagalan dimana saat itu ada pelarangan pesawat Garuda Indonesia mendarat di Saudi Arabia, saat itu indonesia merencanakan tidak memberangkatkan haji alhamdulillah dengan rahmat Allah perundingan kedua Negara membuahkan hasil yang disetujuinya pendaratan Garuda Indonesia dengan persyaratan yang minimal. Padahal tahun itu ada kurang lebih 200 ribu ibadah haji Indonesia sudah siap dari ilmu manasik haji, harta, jasmani dan rohani akan tetapi kendaraan (pesawat) sedikit bermasalah. Adapun persyaratan lain adalah harus Islam, Baliq, Merdeka (bukan hamba sahaya), Berakal (tidak gila) dan perjalanan aman.
Dari ayat tersebut diatas ada ancaman bagi yang mengingkari kewajiban haji yaitu berupa pelanggaran kepada perintah Allah (termasuk Dosa besar/kemaksiatan), begitu pula disabdakan Rosulullah Barangsiapa memiliki bekal dan kendaraan (biaya perjalanan) yang dapat menyampaikannya ke Baitillahil haram dan tidak menunaikan (ibadah) haji maka tidak mengapa baginya wafat sebagai orang Yahudi atau Nasrani. (HR. Tirmidzi dan Ahmad).
Hadis tersebut mengartikan kematiannya tidak dalam keadaan islam. Perhatian buat umat islam kemampuan haji harus diukur dari kacamata Allah dan Rosulnya……akan tetapi fenomena dimasyarakat sangatlah berbeda, yang mampu biaya beralasan tunggu hidayah Allah, atau pekerjaan tidak dapat ditinggal, masih ada yang lebih prioritas, serta yang tidak mampu akan beralasan, tunggu biaya untuk naik haji, tunggu tabungannya cukup, tunggu rejeki nomplok datang baru pergi haji dsb. Hampir seluruh orang yang telah melaksanakan haji memberikan resepnya naik haji adalah luruskan dan kuatkan setiap saat “NIAT” dan mau mencoba sedikit saja “berkorban” untuk kepentingan Allah.
Reward orang yang melaksanakan haji tidak ada balasannya kecuali surganya Allah hal ini disabdakan Rosulullah dari Abu Hurairah r.a Dan tidak ada pahala bagi haji mabrur kecuali surga (Muttafaq alahi).
Akan tetapi hadis tersebut mempunyai konsukuensi yang sangat penting dalam Arti Haji MABRUR adalah haji yang diterima Allah, dan hal ini ditandai dengan saat seluruh pelaksanaan prosesi haji selama ditanah suci dilakukan dengan kualitas dan kuantitas yang optimal (Ilmu manasik Haji, Jasmani dan rohani, serta harta) dan yang lebih penting sepulang dari haji peningkatan ketaatannya kepada Allah sangat tinggi sehingga bermanfaat untuk dirinya, keluarganya, dan orang lain, banyak mengorbankan untuk kepentingan agama, selalu senang dengan berlomba-lomba dengan kebaikkan, tidak senang dengan hal-hal yang tidak berguna, Visi dan misinya mencari ridhonya Allah, kehidupannya selalu berpedomanan pada tuntunan agama (Al Qur’an dan Hadis).
Adapun yang sepulang dari haji semangkin jauh dari Allah dan tidak merubah dirinya dari berbohong, namimah, ghibah, fitnah, korupsi, dengki, iri, hasut, dan kemaksiatan yang lainnya, malas pergi ke masjid, tidak belajar agama lewat majelis ta’lim/ilmu, visi dan misinya hanya mengejar duniawi cuek negeri akherat dsb, indikator tersebut diatas dikatakan Haji MARDUD (haji yang ditolak Allah).
Kalau kita mau infestasi pahala pun kita dapat berhitung jika di Masjid di madinah saat sholat arbain delapan hari (40 waktu) kita mendapatkan minimal 40 ribu pahala,dan jika diMasjidil Haram minimal 20 hari (100 waktu ) kita mendapatkan pahala minimal 10 juta pahala……jadi total mendapatkan minimal 10 juta 40 ribu pahala (Perhitungan ini sebagai motivasi manusia)…….. karna hal ini disabdakan rosulullah saw Dari Ibnu al-Zubair Radliyallaahu 'anhu bahwa: "Sekali sholat di masjidku ini lebih utama daripada 1000 kali sholat di masjid lainnya kecuali Masjidil Haram, dan sekali sholat di Masjidil Haram lebih utama daripada 100 kali sholat di masjidku ini." Riwayat Ahmad. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.
Sebagai pengingat memori kita dimana Islam artinya adalah berserah diri tunduk dan patuh kepada Allah SWT, seberapa besar kita sudah melaksanakan ketaatan kepada Allah dan RosulNya??? Sehingga melahirkan Niat yang kokoh sehingga terbentuk pengorbanan apapun untuk melaksanakan perintahnya salah satunya rukun islam yang kelima yaitu ibadah haji. Sering-seringlah berintrospeksi apakah ketidakmampuan pergi haji karena jawaban nafsu belaka! berhisablah dengan harta yang kita miliki sebelum Allah menghisabnya di yaumil akhir (sudah tidak berguna).
Wallahu a’lab bish-shawab
Renungan HAti
H. Abu Albi Bambang Wijonarso
Minggu, 09 Oktober 2011
Siksa Kubur
Oleh : Abu Alby Bambang Wijonarso Bermegah-megahan telah melalaikan kamu[1598], sampai kamu masuk kedalam kubur…….(Qs .At Takaasur 102 : 1) [1598]. Maksudnya: bermegah-megahan dalam soal banyak harta, anak, pengikut, kemuliaan, dan seumpamanya telah melalaikan kamu dari ketaatan. Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ayat ini (S.102:1-2) turun berkenaan dengan dua qabilah Anshar. Bani Haritsah dan Bani Harts yang saling menyombongkan diri dengan kekayaan dan keturunannya dengan saling bertanya: "Apakah kalian mempunyai pahlawan yang segagah dan secekatan si Anu?" Mereka menyombongkan diri pula dengan kedudukan dan kekayaan orang-orang yang masih hidup. Mereka mengajak pula pergi ke kubur untuk menyombongkan kepahlawanan dari golongannya yang sudah gugur, dengan menunjukkan kuburannya. Ayat ini (S.102:1-2) turun sebagai teguran kepada orang-orang yang hidup bermegah-megah sehingga terlalaikan ibadahnya kepada Allah. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Buraidah.) Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa Ali pernah berkata: "Pada mulanya kami sangsi akan siksa qubur. Setelah turunnya ayat ini (S.102:1-4) hilanglah kesangsian itu." (Diriwayatkan oleh Ibnu jarir yang bersumber dari Ali.). Untuk menambah keyakinan umat islam terhadap kebenaran ”Siksa Kubur” ada baiknya kita melihat kisah nyata disebuah negara di Oman (Timur tengah) dimana ada seorang pemuda berusia 18 tahun yang meninggal dunia di rumah sakit, dimana setelah dimandikan, dikafankan dan disholatkan kemudian dikuburkan. Akan tetapi Ayahnya sangat penasaran atas kejadian itu dan menginginkan untuk dilakukan otopsi penyebab kematiannya.....atas persetujuan keluarga dan polisi setempat akhirnya penggalian dilakukan. Alangkah terkejutnya si Ayah dan para kerabat yang sebelumnya turut memandikan, mengkafankan, mensholatkan dan menguburkan dimana kondisi simayit sangatlah berbeda sebelum dan sesudah dikubur padahal baru tiga jam berlalu.Seperti hancur berantakan, diantaranya kulit seperti berwarna abu-abu, rambut mendadak putih...(tanda-tanda ketuaan terlihat), muka seperti habis dipukuli bengkak-bengkak dan memar, keluar darah dari seluruh lubang, posisi anggota tubuh tangan dan kaki berantakan (alias hancur tulang-tulangnya).hal ini seperti adanya penyiksaan besar-besaran terhadap si mayit...sekali lagi padahal baru tiga jam berlalu (Lihatlah Gambar Inset)....Kalau kita menghitung aturan Allah dan Rosulnya bahwa manusia akan diperhitungkan dosa-dosanya setelah usia akil balik (contoh untuk laki-laki usia 15 tahun) jika secara matematika kita hitung tentunya...pemuda tersebut baru menjalankan kehidupan (dicatat sebagai amal baik atau dosa) selama tiga tahun bentuk siksaan yag dialami begitu dahsyatnya....bagaimana kita yang sudah masuk usia 30, 40 dan 50 tahun tentunya ini sebagai renungan kita semua. Inse Tentunya kita perlu ketahui mengapa ”siksa kubur” itu terjadi selain bentuk-bentuk pelanggaran terhadap seluruh aturan Allah SWT dan Rosulnya juga terjadi diantaranya : 1. Air kencing. Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sucikanlah dirimu dari air kencing karena kebanyakan siksa kubur itu berasal darinya." Riwayat Daruquthni. Menurut riwayat Hakim: "Kebanyakan siksa kubur itu disebabkan (tidak membasuh) air kencing." Hadits ini sanadnya shahih. Bagaimana anak kecil? Syaratnya belum memakan makanan... dengan hadisnya : Aisyah, Ummul mukminin, berkata, "[Rasulullah saw. biasa didatangkan kepadanya anak-anak kecil, lalu beliau memanggil mereka, maka, 7/156] dibawalah kepadanya seorang anak laki-laki yang masih kecil (dalam satu riwayat: beliau meletakkan seorang anak laki-laki kecil di pangkuan beliau untuk beliau suapi, 7/76), lalu anak itu kencing di atas pakaian beliau. Beliau kemudian meminta air, lalu menyertai kencing itu dengan air tadi (yakni tempat yang terkena kencing diikuti dengan air yang dituangkan di atasnya) [dan beliau tidak mencucinya]." 2. Menangisi si mayit dengan berlebihan dan bahasa lisan jahiliyah. . Al-Mughirah berkata, ' Aku (Mughirah) mendengar Nabi bersabda pula, 'Barangsiapa yang diratapi, maka ia disiksa sebab diratapi itu.'". Abdullah (bin Mas'ud) r.a. mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, "Bukan dari golongan kami orang yang menampar-nampar (dalam satu riwayat: memukul-mukul 2/83) pipi, merobek leher baju, dan berseru dengan seruan jahiliah." Begitu pula dari sahabah Umar r.a. berkata, "Biarkanlah mereka menangisi Abu Sulaiman, asalkan tidak menaburkan tanah di atas kepala डी[an tidak berteriak-teriak. 3. Meninggalkan Sholat Ashar sampai masuk waktu maghrib. Hadis riwayat Ibnu Umar ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Orang yang terlewat salat Asar seolah-olah keluarga dan hartanya telah hilang darinya. (Shahih Muslim No.991). Hadis riwayat Ali ra., ia berkata: Pada hari perang Ahzab, Rasulullah saw. bersabda: Mudah-mudahan Allah memenuhi kubur dan rumah mereka dengan api, sebagaimana mereka telah menahan dan membuat kami sibuk dari melaksanakan salat Asar hingga terbenam matahari. (Shahih Muslim No.993). Dan masih banyak lagi siksa kubur yang lain diantaranya berghibah (membicarakan orang lain yang benar dimana jika orang yang dibicarakan itu tidak senang kalau mengetahuinya) atau hanya sebagai pendengar ghibah dalam hal ini Infotaiment...(Gosip, Kabar-kabari, dsb). Kalau yang dibicarakan itu ternyata salah maka ini termasuk ”Fitnah/kebohongan”. Sangatlah disarankan oleh baginda Rosulullah SAW untuk selalu berlidung dari siksa kubur diantaranya doa didalam sholat (Atahiyat terakhir) yaitu : Aisyah, istri Nabi saw., menginformasikan bahwa Rasulullah selalu berdoa dalam shalat "Allahumma innii a'uudzu bika min 'adzaabil-qabri wa a'uudzu bika min fitnatil-mashiihid dajjaali, wa a'uudzu bika min fitnatil-mahyaa wafitnatil-mamaati. Allahumma innii a'uudzu bika minal-ma'tsami wal maghrami." "Ya Allah, sesungguhnya saya berlindung kepada Mu dari siksa kubur. Dan saya berlindung kepada Mu dari fitnah Al-Masiih Dajjal. Dan saya berlindung kepada Mu dari fitnah ketika hidup dan fitnah setelah mati. Ya Allah, sesungguhnya saya berlindung kepada Mu dari dosa dan utang." Lalu seseorang berkata kepada Rasulullah, "[Wahai Rasulullah, 3/85], alangkah seringnya engkau memohon perlindungan dari utang." Beliau bersabda, 'Sesungguhnya seseorang yang berutang bila berbicara, maka dia berdusta. Apabila berjanji, maka dia mengingkari.'" (Dan dalam satu riwayat dari Aisyah) dia berkata, "Saya mendengar Rasulullah berlindung kepada Allah di dalam shalatnya dari fitnah Dajjal." Wallahua’lam bish-shawab Bambang Wijonarso Renungan Hati.
rt। Kisah nyata bentuk siksa kubur।

