Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Juli 2015

Sebelas Type Suami



By        :  Abu Alby Bambang Wijonarso
Blog     :  http//:dakwahrenunganhati.blogspot.com
Email   :  bambang.wijonarso@yahoo.com

         Dalam Kitab Syarah Hadis Ummu Zar’a, dimana ada dari sebelas penjuru negri Arab, sebelas wanita curhat dan ber-ghibah kepada ummul mukminin, ummu Abdillah, Aisyah ra. Masing-masing wanita tersebut mengungkapkan prilaku suami terhadap istrinya. Semua penuturan para istri yg tidak dikenali oleh Aisyah ra tersebut bahasanya berbentuk syair-syair arab , disinilah nilai kepahaman/kecerdasan Aisyah ra dalam menterjemahkan (menurut ulama Aisyah ra hafal 18 ribu syair2 arab yang ini akan mempermudah da’wah beliau). Adapun ber-ghibah diantaranya : (Note : Ini termasuk ghibah yang diperbolehkan, karna ada kaidah boleh berghibah yang kita tidak mengenalnya untuk kepentingan umat).
1.      Wanita Pertama, mengungkapkan bahwa suamiku seperti daging onta kurus, yang berada diatas puncak gunung terjal, susah untuk dinaiki gunung tersebut , sudah diatas malas untuk membawa pulang daging tersebut, maksudnya adalah “SUAMI YANG PELIT terhadap istrinya. Setiap istrinya membutuhkan sesuatu yg wajib maka harus merayu suaminya itupun diberikannya hanya sedikit sekali.
Hadis : Dari Abu Hurairah ra berkata bahwa Rosulullah saw bersabda,” Satu dinar yang kamu nafkahkan dijalan Allah , satu dinar yang kamu nafkahkan untuk memperdeka kan budak, satu dinar yang kamu berikan kepada fakir miskin dan satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu, maka yang paling besar pahalanya ialah satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu (HR Muslim).
2.      Wanita Kedua, berbelok dari rencana awal, saya tidak akan membongkar rahasia, karena saya takut ditinggalkan, kalaupun saya akan buka maka saya akan buka sampai urat-urat yg ada dileher (terbuka) maupun yang ada diperut (tersembunyi). Maksudnya adalah Suami yang sangat dzolim kepada istrinya ia sangat takut dicerai karna istrinya tidak siap.

Allah berfirman untuk para suami : ”Dan bergaullah kalian (para suami) dengan mereka (para istri) secara patut.” (An-Nisa`: 19).
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat di atas menyatakan: “Yakni perindah ucapan kalian terhadap mereka (para istri) dan perbagus perbuatan serta penampilan kalian sesuai kemampuan. Sebagaimana engkau menyukai bila ia (istri) berbuat demikian, maka engkau (semestinya) juga berbuat yang sama.

3.      Wanita ke-tiga, Suamiku tinggi dan kalau saya ngomong dicerai tapi kaya diam saya terkatung-katung. Maksudnya adalah suami yang angkuh, setiap permasalahan yang timbul istrinya tidak diberi kesempatan berbicara dan selalu dalam posisi yang salah.

Hadis : Dari 'Aisyah Radhiyallahu 'anha meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda : sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku" [HR. At Tirmidzi no: 3895 dan Ibnu Majah no: 1977 dari sahabat Ibnu ‘Abbas. Dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah no: 285].

4.      Wanita ke-empat, Suamiku seperti udara malam hari di-pegunungan “Tihima”, tidak panas dan tidak dingin, tidak menakutkan dan tidak membosankan. Maksudnya artinya suamiku semuanya biasa-biasa saja termasuk cintanya, dalam prilaku tidak pernah marah dan tidak pernah melarang, sulit berkomunikasi dan terkesan pendiam atau dingin.
Hadis : Ibnu Umar ra menerangkan bahwa Rosulullah saw bersabda : kalian adalah pemimpin dan kalian akan dimintai pertangung jawaban atas kepemimpinan kalian. Seorang penguasa adalah pemimpin, seorang suami adalah pemimpin seluruh keluarganya. Begitu pula seorang istri pemimpin atas rumah suami dan anaknya. Kalian adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinan kalian (HR Mutafaqun alaihi).
5.      Wanita Kelima, Suamiku kalau masuk rumah seperti macan, kalu keluar seperti singa dan tidak bertanya2 apa yang dia dapati. (macan menangkap mangsanya santai saja sampai mangsanya lari, kalau singa penuh keseriusan dalam memangsa).
Hadis : “Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk. Dan sungguh bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah yang paling atasnya. Bila engkau ingin meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Dan jika engkau ingin bersenang-senang dengannya, engkau bisa bersenang-senang namun padanya ada kebengkokan.” (HR. Al-Bukhari no. 3331 dan Muslim no. 3632)           
               Menurut Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, Hadits ini menunjukkan keharusan berlaku lembut kepada wanita, bersikap baik terhadap mereka, bersabar atas kebengkokan akhlak dan lemahnya akal mereka. (Al-Minhaj, 9/299).
6.      Wanita ke-Enam. Suamiku kalau makan banyak menunya dan sangat banyak serta habis semua, dan kalau minum habis semua, kalau tidur pake selimut sendiri dan jarang membelai. Maksudnya suami yang Egois.
Allah berfirman : “Dan para istri memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang   ma’ruf.” (Al-Baqarah: 228).
7.      Wanita ke-Tujuh, Suamiku tidak kuat, lemah syawat dan bodoh, setiap penyakit dan aib ada pada dirinya dia memukul badanku dan wajahku. Maksudnya inilah istri yang paling menderita dan terdzolimi.

8.      Wanita ke-delapan, Suamiku sentuhannya sentuhan kelinci dan aromanya sangat harum baunya seperti aroma bunga. Maksudnya prilaku akhlaknya sangat baik kepada istri dan orang lain.

9.      Wanita ke-sembilan. Suamiku si Malik tahukah kalian siapakah si Malik, si Malik lebih baik dari pada yang anda prasangkakan. Dia punya onta yang kandangnya banyak akan tetapi pengembalanya sedikit (artinya sering berkurban), saat ontanya dibawa orang2 sangat senang ( karna pasti memperoleh daging sembilihannya). Kepada istri sikapnya lebih baik daripada kepada orang lain dan dermawan.

10.  Wanita ke-sepuluh. Suamiku rumahnya tinggi (rumahnya besar) sarung pedangnya panjang (orangnya tinggi besar), rumahnya sebagian banyak debu (sering memasak dalam jumlah banyak), rumahnya seperti tempat pertemuan (menjamu para tamunya).

11.  Wanita ke- sebelas bernama Ummu Zarrah, suamiku adalah abu zarrah, siapakah Abu Zarrah,  suamiku menjadikan telinga dan tanganku berat (perhisan emas) sering membuat hatiku gembira, Abu Zarra orang kaya raya, aku tidur sepuasnya (banyak pembantunya), Abu Zarrah mempunyai keluarga besar ibu-bapak, mertua, kerabat, keponakan, teman, dan pembantu yang selalu diperlakukan sangat baik sekali baik dari prilaku maupun financialnya. Akan tetapi suatu saat Abu Zarrah menceraikan zarrah istrinya dikarenakan abu zarrah menikah lagi dengan wanita lain. Kemudian zarrah tidak sakit hati dan kemudian menikah juga dengan orang yang lebih kaya dan lebih dermawan dan lebih berprilaku baik dari pada suami yang dulu (Abu zarrah). Keduanya rukun dan berbahagia.
      Kemudian dari cerita Aisyah ra kepada rosulullah saw, maka rosul berkata kepada Aisyah bahwa Sesungguhnya kedudukan aku dihatimu adalah seperti Abu Zarrah akan tetapi aku tidak menceraikan mu.
Penuturan wanita tentang suaminya yang nomer satu sampai tujuh adalah type prilaku akhlak suami yang buruk, sedangkan yang wanita yg kedelapan sampai sebelas adalah type prilaku akhlak suami yang baik, serta yang terbaik adalah yang ke sebelas.
Marilah kita iringi doa dalam kehidupan berumah tangga, agar dianugrahkan keluarga yang sakinah, mawaddah dan warrohma : “Wahai Robb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” ( QS. Al-Furqon [25]: 74 ).
Wallahu a’lam bish-shawab.                  

Read More..

Senin, 19 Desember 2011


Tahun Baru Masehi
By Abu Alby Bambang
Email :bambang.wijonarso@yahoo.com
 

       Bagaimana umat islam menyikapi pergantian tahun baru Masehi…? Islam sama sekali tidak mengenal tahun baru masehi sebagai sesuatu yang luar biasa, apalagi dengan penuh acara yang berhura-hura yang kita kenal dengan sebutan Malam Tahun Baru…baik berupa hiburan –hiburan yang dikemas dalam bentuk bermacam-macam misalnya acara di media electronik (TV) berupa Band,Tari-tarian, atau berkumpul bersama disuatu tempat begadang sampai pagi  intinya menghabiskan perpindahan  waktu dengan sesuatu yang sia-sia tidak ada manfaatnya sebagai bekal diakherat kelak bahkan  dapat melalaikan ingat kepada Allah.
    
      Tahun baru bagi umat islam 01 Muharram perjuangan Rosulullah dari Hijrahnya dari kota Mekah ke Kota Madinah sebagai titik awal penentuan kalender Islam. Tentunya umat islam harus mengambil pelajaran dari perjuangan Rosulullah sebagai landasan untuk mengapai kehidupan yang selamat didunia maupun diakherat kelak. Dijaman Rosulallah dan para sahabat sama sekali tidak pernah melakukan acara yang mengkhususkan pergantian tahun baik tahun Hijriah apalagi masehi.

      Bagaimana Islam menyikapi  segala aktifitas atau kegiatan berupa amalan-amalan yang khususnya mengenai pergantian tahun coba kita melihat firman Allah SWT :
                                               

      Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya (Qs. Al Israa (17) ayat 36). Dari ayat tersebut sudah jelas bahwa seluruh aktifitas hidup pada awalnya boleh dilakukan sampai ada dalil/hukum (Al Qur’an dan Hadis) yang melarangnya. Bahkan Allah melarang untuk mengikuti seluruh aktifitas yang lahir dari orang-orang Nasrani dan Yahudi yang difirmankan dalam Al Qur’an :”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim (Qs.Al Maa’idah/5 ayat 51).



Pemimpin ini maksudnya orang atau golongan, bahkan Negara sekalipun  yang dapat  mempengaruhi umat/rakyat/orang/negara  menjadikan lalai kepada seluruh aturan Allah dan rosulNya. Sehingga kita ketahui bahwa orang-orang kafir jangan diikuti :

    Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikit pun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh (Qs. Ibrahim 14 ayat 18).

    Bagaimana fenomena dimasyarakat dari tahun ketahun (Tahun Masehi) dibelahan bumi selalu diperingati pergantian tahun dengan bersenang-senang menghabiskan waktu sampai pagi, khususnya negara maju seperti di Eropa, Amerika dan Australia dari anak-anak, remaja, ibu-bapak serta kakek-nenek. Akan tetapi lucunya masyarakat yang nota bene negara berkembang dengan penuh kemiskinannya, sikaya dan simiskin semakin jelas bahkan 89% penduduknya mengaku beragama Islam mengikuti gaya-gaya mereka (Negara Maju), kejadian yang menimpa umat islam khususnya di Indonesia sudah disinyalir sejak jaman Rosulullah seribu empat ratus tahun yang lalu dengan hadisnya :” Barangsiapa meniru-niru tingkah laku suatu kaum maka dia tergolong dari mereka. (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

      Marilah tidak ada salahnya dalam pergantian tahun kita meng "EVALUASI DIRI" (muhasabah) seluruh amalan baik hati kita, pemikiran kita, aktifitas kita,dan prilaku kita sudah sesuai dengan tuntunan Allah dan RosulNya….makin dekat atau makin jauh …..makin taat atau makin bermaksiat…..makin sombong atau makin tawadu….makin tidak mau tahu atau selalu mau tahu tentang ilmu……makin peduli terhadap Agama atau makin Cuek…..Bagaimanakah jabatan kita….harta kita….pekerjaan kita….keluarga kita….usia kita….waktu luang kita….popularitas kita kesehatan kita, atau waktu muda kita sebagai sarana & prasarana yang Allah berikan untuk menciptakan amal soleh. sudahkah kita melakukan itu semua… Manusia yang Cerdas adalah mampu menahan nafsu buruknya, kemudian dia beramal soleh sebagai bekal dinegeri akherat…. Perlu diketahui Jabatan, harta dan popularitas hanya mengantarkan sampai sakaratul maut, kemudian istri/suami dan kerabat handai taulan hanya mengantarkan kita sampai liang kubur…..sedangkan amal sholeh akan mengantarkan kita menemui Allah aza wajala (sangat dibutuhkan saat di yaumil hisab).


Wallahu a’lam bish-shawab
Renungan Hati
Abu Alby Bambang


Read More..

Minggu, 04 Desember 2011

Hijryah-3 (Hari Asyura)


By : H. Abu Alby Bambang
Blog : dakwahrenunganhati.blogspot.com
      Bulan Muharam adalah bulan yang mulia, yang juga disebut awal bulan ditahun Hijriyah (alhamdulillah kita memasuki tgl. 9 Muharam 1433 Hijriah) yang mana ada beberapa keutamaan yaitu dianjurkannya puasa sunah. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda : “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram. Sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam”. (HR. Muslim).

Dapat juga diistilahkan dengan puasa sunah Hari Asyura berdasarkan hadist Ibnu Abbas ra berkata : “ Ketika Rasulullah saw. tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura’, maka beliau bertanya : "Hari apa ini?”. Mereka menjawab :“Ini adalah hari istimewa, karena pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, oleh karena itu Nabi Musa berpuasa pada hari ini. Rasulullah pun bersabda : "Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian“ . Maka beliau berpuasa dan memerintahkan sahabatnya untuk berpuasa.”(HR Bukhari dan Muslim). Begitu pula dalil yang menerangkan hari raya orang Yahudi adalah dari  Abu Musa ra., ia berkata: Hari Asyura' adalah hari yang dimuliakan orang-orang Yahudi dan dijadikannya sebagai hari raya. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: Berpuasalah kalian pada hari Asyura' tersebut. (Shahih Muslim No.1912). Begitulah sejarah dimana pada tanggal 10 Muharam orang-orang Yahudi berpuasa  sebagai hari yang disucikan, maka umat islam akan lebih berhak lagi mengingat penyelamatan kaum bani israil dari kejaran Fir’aun adalah Allah yang menyelamatkan.

       Apa keutamaan puasa pada hari Asyura’ ini ? Keutamaannya adalah barang siapa yang puasa dengan ikhlas pada hari Asyura’ tersebut, niscaya Allah swt akan menghapus dosa-dosanya yang telah dikerjakan selama satu tahun sebelumnya, sebagaimana yang tersebut di dalam hadist Abu Qatadah ra, bahwasanya seorang laki-laki pernah bertanya kepada Rasulullah saw tentang puasa ‘Asyura’, maka Rasulullah saw menjawab : “ Saya berharap dari Allah swt agar menghapus dosa-dosa selama satu tahun sebelumnya. “ ( HR Muslim ). Dosa-dosa yang dihapus disini adalah dosa-dosa kecil saja. Adapun dosa-dosa besar, maka seorang Muslim harus bertaubat dengan taubat nasuha, jika ingin diampuni oleh Allah swt. 
Adapun hikmah puasa Asyura’ adalah sebagai bentuk kesyukuran atas selamatnya nabi Musa as dan pengikutnya serta tenggelamnya Fir’aun dan bala tentaranya, sebagaimana yang tersebut dalam hadist Ibnu Abbas di atas.
       Bagaimana cara berpuasa pada hari Asyura ? Menurut keterangan para ulama dan berdasarkan beberapa hadist, maka puasa Asyura bisa dilakukan dengan empat pilihan : berpuasa tanggal 9 dan 10 Muharram, atau berpuasa pada tanggal 10 dan 11 Muharram atau berpuasa pada tanggal 9,10, dan 11 Muharram, atau berpuasa pada tanggal 10 Muharram saja, tetapi yang terakhir ini, sebagian ulama memakruhkannya, karena menyerupai puasanya orang-orang Yahudi.
Marilah kita memilih diantara tanggal tersebut yang insyaAllah jatuh pada hari Senin,Selasa, Rabu tanggal  5, 6 dan 7 Desember 2011. Cara berpuasa di atas berdasarkan hadist Ibnu Abbas ra, bahwasanya ia berkata : Ketika Rasulullah saw. berpuasa pada hari ‘Asyura’ dan memerintahkan kaum Muslimin berpuasa, para shahabat berkata : "Wahai Rasulullah ini adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nasrani". Maka Rasulullah pun bersabda :"Jika tahun depan kita bertemu dengan bulan Muharram, kita akan berpuasa pada hari kesembilan.“ (H.R. Bukhari dan Muslim). 
Begitu juga hadist Ibnu Abbas ra, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda : "Puasalah pada hari Asyura’, dan berbuatlah sesuatu yang berbeda dengan Yahudi dalam masalah ini, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.“ ( HR Ahmad dan Ibnu Khuzaimah ) Dalam riwayat Ibnu Abbas lainnya disebutkan : “Berpuasalah sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya.“
 Memang ada pemahaman dimasyarakat berpuasa dari tanggal 1 sampai dengan 10 Muharam akan tetapi saya belum menemukan dalil hadist nya.
Demikian mudahan diawal tahuun baru Islam akan mengawali dengan pertanda kebaikan yang banyak untuk dibulan-bulan yang akan datang.
 Wallahu a’lam bish-shawab
Renungan HAti
Bambang Wijonarso



Read More..

Senin, 17 Oktober 2011

Kiat Haji Mabrur (bagian ke-2)

Oleh : H. Abu Albi Bambang Wijonarso

Al Hajjulmabrur laysalahu jazaa un illaljannah, Rosulullah SAW bersabda dari Abu Hurairah r.a Dan tidak ada pahala bagi haji mabrur kecuali surga (Muttafaq alahi).

Istilah “Mabrur” secara harfiah dapat diterapkan pada berbagai jenis ibadah dalam agama Islam. Namun istilah ini sangatlah popular untuk ibadah haji.

Kata “mabrur” sendiri secara etimologis berasal dari kata Barra-yabirru-birrun yang artinya bebuat baik atau patuh dan kata birrun yang merupakan kata benda dari kata itu yang artinya orang yang mendapatkan kebaikkan atau menjadi baik. Maka haji mabrur adalah haji yang mendapatkan kebaikkan, atau haji yang pelakunya menjadi baik.

Ibnu Umar r.a. berkata “Seorang haji yang paling baik adalah yang niatnya paling ikhlas, biayanya paling bersih, dan keyakinannya (aqidah & tauhid) paling baik.

Oleh sebab itu tentunya mendapatkan predikat haji mabrur sangatlah tidak gampang dan sembarangan, tidak semudah kebanyakan orang yang dengan bangga sepulang tanah suci dipanggil pak atau ibu Haji tapi prilakunya jauh dari tuntunan Allah dan Rosul-nya.

Beberapa kiat-kiat yang harus ditempuh setiap calon jemaah haji untuk meraih predikat haji mabrur. Mereka harus mempersiapkan diri sejak yaitu :

Pertama faktor “Niat”

Orang yang melaksanakan haji niatnya bermacam-macam ada yang mencari popularitas , berdagang, berdo’a didepan ka’bah dari masalah yang dihadapi. Niat yang ikhlas karena mencari ridho Allah sangatlah penting, dan hal ini tidak dapat diciptakan dengan mudah akan tetapi harus diupayakan, diciptakan, dan berdo’a minta pertolongan Allah agar niatnya menjadi sebuah keikhlasan. Seluruh ulama sepakat bahwa niat 100% adalah pekerjaan hati sehingga pelaku calon haji harus merekondisikan atau membersihkan seluruh penyakit hati (Iri, dengki, sombong, hasut, egois dsb) dan modal utamanya adalah ilmu agama Islam, keimanan dan ketakwaan seseorang. Sehingga seberapa besar modal tersebut sangatlah berpengaruh untuk mengatasi penyakit hati.

Barometer kebenaran dari sebuah “niat” dapat dilihat sepulangnya dari Haji apakah lebih taat atau melanggar perintah serta larangan Allah dan Rosul-Nya?

Dari Amirul Mu’minin, (Abu Hafsh atau Umar bin Khottob rodiyallohu’anhu) dia berkata: ”Aku pernah mendengar Rosululloh shollallohu’alaihi wassalam bersabda: ’Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang berhijrah karena Alloh dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Alloh dan Rosul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena (untuk mendapatkan) dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang menjadi tujuannya (niatnya).’” (Diriwayatkan Bukhori dan Muslim).

Kedua, faktor harta.

Dimana bagi calon peserta haji juga harus memperhatikan kehalalan dan bagaimana memperolehnya ?. Mengeluarkan bekal dijalan haji merupakan pengeluaran biaya dijalan Allah. Satu dirham dilipatgandakan pahalanya menjadi tujuh ratus dirham. Banyak kejadian peserta calon haji ada yang biaya (Harta) nya diperoleh secara aneh dan luar biasa subhanallah..!! misalkan ada sebagian yang mendapat gratisan dari salah satu instansi baik pemerintah maupun swasta, atau mendapat biayanya dari saudara /teman /kerabat, atau mendapatkan warisan, ada yang benar-benar menabung sedikit demi sedikit (dari perhitungan akan berangkat 10 tahun lagi tapi ternyata realisasinya 3 tahun berangkat haji),serta ada yang mengorbankan hartanya (jual Rumah, Mobil dsb) dan masih banyak cerita lain akan tetapi yang pasti kesemuanya itu jalan/syariat atas ketetapan yang telah Allah tentukan (Takdir).

Dan yang sangat juga mempilukan adalah tidak ada aturan khusus yang berangkat haji harus Ulama, Ustad, Ahli ibadah, kaya, miskin, tua-muda dsb, hal ini membuktikan bahwa keberangkatan haji seseorang adalah hak prerogratif dari Allah SWT. Bayangkan dari 1,000 orang hanya dipilih satu sebagai tamu Allah SWT di tanah Suci (Kouta dari Saudi Arabia jumlah penduduk dibagi seribu orang). Bagaimana orang yang sudah siap dengan hartanya tapi belum dipanggil Allah begitu pula berlaku bagi seorang yang siap dari sisi ilmu agamanya (Ustad/Ulama) inilah tanda hak prerogratif Allah. Tentunya semua keadaan tersebut diatas sebagai wujud untuk calon haji yang sudah dipanggil Allah mengucapkan terima kasih atas nikmat –Nya dan sebagai modal motivasi memanfaatkan agar diperoleh haji mabrur.

orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dgn harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (Qs. At Taubah 9:20)

Ketiga, Ilmu manasik haji.

Sejak awal seseorang sudah berniat untuk berhaji, dan menyisihkan uang yang didapat, maka mulai saat itulah yang bersangkutan mulai mengubah sikap prilakunya untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dengan melaksanakan perintah dan larangannya yang tentunya melalui belajar baik membaca, mengkaji mengamalkan dengan bimbingan guru/ustad.

Menggapai haji mabrur itu tidak cukup dengan mendalami masalah haji dalam waktu yang singkat, manasik haji itu hanya sekedar memantapkan kembali, bukan baru mulai mengenal masalah haji. Dengan manasik haji diharapkan calon jemaah haji akan bisa memaknai dan memahami nilai-nilai filosofos yang terkandung disetiap gerakan yang dilakukannya. Setiap calon haji juga harus tahu syarat, rukun dan wajib haji jangan sampai mengejar yang sunah justru melupakan yang wajib, apalgi rukun haji. Meninggalkan yang wajib maka harus membayar dam (denda), akan tetapi kalau meninggalkan rukun haji maka haji nya tidak sah dan harus mengulang ditahun berikutnya.

Dari ketiga kiat-kiat tersebut diatas sebagai bekal yang harus dibawa dan insyaAllah sepulangnya dari tanah suci akan mendapat predikat Haji mabrur bukan hanya sekedar panggilan pak atau ibu haji semata.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Renungan HAti

H. Abu Albi Bambang Wijonarso










Read More..

Selasa, 11 Oktober 2011

Haji (Bagian ke-1)

by : H. Abu Albi Bambang Wijonarso

email : bwmbang_wijonarso@yahoo.com

Syeihul muslim dari mesir Dr. Yusuf Qordowi, mengatakan bahwa pelaksanaan ibadah magdho umat islam ada beberapa penekanan khusus diantaranya “ibadah dzikir” (Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu akbar dsb) penekanannya pada “lisan”, untuk “ibadah sholat” penekanannya pada “gerak”, dan “ibadah Zakat, Infaq dan Sadaqah penekanannya pada harta, serta untuk “ibadah puasa” penekanannya pada proses pengendalian diri (Imsak), sedangkan untuk “Ibadah Haji” penekanannya sekaligus yaitu lisan, gerak, harta dan pengendalian diri dalam waktu yang bersamaan dengan durasi yang cukup lama 18 s/d 40 hari berada ditanah suci.

Bagaimana hukum asal dari ibadah haji adalah rukun islam yang kelima akan tetapi ada penekanan khusus yaitu jika mampu (Istithoah) hal ini difirmankan Allah dalam Al Qur’anul qarim :

mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah[216]. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Qs. Al Imraan 3:97).

Kemampuan (Istithoah) disini minimal ada empat hal jika diantara satu tidak ada maka tidak dapat terealisir kemampuannya yaitu mampu dari ilmu manasik haji, harta, jasmani dan rohani serta kendaraan. Sebagai contoh pada tahun 2007 pemberangkatan haji Indonesia hampir mengalami kegagalan dimana saat itu ada pelarangan pesawat Garuda Indonesia mendarat di Saudi Arabia, saat itu indonesia merencanakan tidak memberangkatkan haji alhamdulillah dengan rahmat Allah perundingan kedua Negara membuahkan hasil yang disetujuinya pendaratan Garuda Indonesia dengan persyaratan yang minimal. Padahal tahun itu ada kurang lebih 200 ribu ibadah haji Indonesia sudah siap dari ilmu manasik haji, harta, jasmani dan rohani akan tetapi kendaraan (pesawat) sedikit bermasalah. Adapun persyaratan lain adalah harus Islam, Baliq, Merdeka (bukan hamba sahaya), Berakal (tidak gila) dan perjalanan aman.

Dari ayat tersebut diatas ada ancaman bagi yang mengingkari kewajiban haji yaitu berupa pelanggaran kepada perintah Allah (termasuk Dosa besar/kemaksiatan), begitu pula disabdakan Rosulullah Barangsiapa memiliki bekal dan kendaraan (biaya perjalanan) yang dapat menyampaikannya ke Baitillahil haram dan tidak menunaikan (ibadah) haji maka tidak mengapa baginya wafat sebagai orang Yahudi atau Nasrani. (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

Hadis tersebut mengartikan kematiannya tidak dalam keadaan islam. Perhatian buat umat islam kemampuan haji harus diukur dari kacamata Allah dan Rosulnya……akan tetapi fenomena dimasyarakat sangatlah berbeda, yang mampu biaya beralasan tunggu hidayah Allah, atau pekerjaan tidak dapat ditinggal, masih ada yang lebih prioritas, serta yang tidak mampu akan beralasan, tunggu biaya untuk naik haji, tunggu tabungannya cukup, tunggu rejeki nomplok datang baru pergi haji dsb. Hampir seluruh orang yang telah melaksanakan haji memberikan resepnya naik haji adalah luruskan dan kuatkan setiap saat “NIAT” dan mau mencoba sedikit saja “berkorban” untuk kepentingan Allah.

Reward orang yang melaksanakan haji tidak ada balasannya kecuali surganya Allah hal ini disabdakan Rosulullah dari Abu Hurairah r.a Dan tidak ada pahala bagi haji mabrur kecuali surga (Muttafaq alahi).

Akan tetapi hadis tersebut mempunyai konsukuensi yang sangat penting dalam Arti Haji MABRUR adalah haji yang diterima Allah, dan hal ini ditandai dengan saat seluruh pelaksanaan prosesi haji selama ditanah suci dilakukan dengan kualitas dan kuantitas yang optimal (Ilmu manasik Haji, Jasmani dan rohani, serta harta) dan yang lebih penting sepulang dari haji peningkatan ketaatannya kepada Allah sangat tinggi sehingga bermanfaat untuk dirinya, keluarganya, dan orang lain, banyak mengorbankan untuk kepentingan agama, selalu senang dengan berlomba-lomba dengan kebaikkan, tidak senang dengan hal-hal yang tidak berguna, Visi dan misinya mencari ridhonya Allah, kehidupannya selalu berpedomanan pada tuntunan agama (Al Qur’an dan Hadis).

Adapun yang sepulang dari haji semangkin jauh dari Allah dan tidak merubah dirinya dari berbohong, namimah, ghibah, fitnah, korupsi, dengki, iri, hasut, dan kemaksiatan yang lainnya, malas pergi ke masjid, tidak belajar agama lewat majelis ta’lim/ilmu, visi dan misinya hanya mengejar duniawi cuek negeri akherat dsb, indikator tersebut diatas dikatakan Haji MARDUD (haji yang ditolak Allah).

Kalau kita mau infestasi pahala pun kita dapat berhitung jika di Masjid di madinah saat sholat arbain delapan hari (40 waktu) kita mendapatkan minimal 40 ribu pahala,dan jika diMasjidil Haram minimal 20 hari (100 waktu ) kita mendapatkan pahala minimal 10 juta pahala……jadi total mendapatkan minimal 10 juta 40 ribu pahala (Perhitungan ini sebagai motivasi manusia)…….. karna hal ini disabdakan rosulullah saw Dari Ibnu al-Zubair Radliyallaahu 'anhu bahwa: "Sekali sholat di masjidku ini lebih utama daripada 1000 kali sholat di masjid lainnya kecuali Masjidil Haram, dan sekali sholat di Masjidil Haram lebih utama daripada 100 kali sholat di masjidku ini." Riwayat Ahmad. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.

Sebagai pengingat memori kita dimana Islam artinya adalah berserah diri tunduk dan patuh kepada Allah SWT, seberapa besar kita sudah melaksanakan ketaatan kepada Allah dan RosulNya??? Sehingga melahirkan Niat yang kokoh sehingga terbentuk pengorbanan apapun untuk melaksanakan perintahnya salah satunya rukun islam yang kelima yaitu ibadah haji. Sering-seringlah berintrospeksi apakah ketidakmampuan pergi haji karena jawaban nafsu belaka! berhisablah dengan harta yang kita miliki sebelum Allah menghisabnya di yaumil akhir (sudah tidak berguna).


Wallahu a’lab bish-shawab

Renungan HAti

H. Abu Albi Bambang Wijonarso


Read More..

Minggu, 09 Oktober 2011

Siksa Kubur

Oleh : Abu Alby Bambang Wijonarso

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu[1598], sampai kamu masuk kedalam kubur…….(Qs .At Takaasur 102 : 1)

[1598]. Maksudnya: bermegah-megahan dalam soal banyak harta, anak, pengikut, kemuliaan, dan seumpamanya telah melalaikan kamu dari ketaatan.

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ayat ini (S.102:1-2) turun berkenaan dengan dua qabilah Anshar. Bani Haritsah dan Bani Harts yang saling menyombongkan diri dengan kekayaan dan keturunannya dengan saling bertanya: "Apakah kalian mempunyai pahlawan yang segagah dan secekatan si Anu?" Mereka menyombongkan diri pula dengan kedudukan dan kekayaan orang-orang yang masih hidup. Mereka mengajak pula pergi ke kubur untuk menyombongkan kepahlawanan dari golongannya yang sudah gugur, dengan menunjukkan kuburannya. Ayat ini (S.102:1-2) turun sebagai teguran kepada orang-orang yang hidup bermegah-megah sehingga terlalaikan ibadahnya kepada Allah. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Buraidah.)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa Ali pernah berkata: "Pada mulanya kami sangsi akan siksa qubur. Setelah turunnya ayat ini (S.102:1-4) hilanglah kesangsian itu." (Diriwayatkan oleh Ibnu jarir yang bersumber dari Ali.).

Untuk menambah keyakinan umat islam terhadap kebenaran ”Siksa Kubur” ada baiknya kita melihat kisah nyata disebuah negara di Oman (Timur tengah) dimana ada seorang pemuda berusia 18 tahun yang meninggal dunia di rumah sakit, dimana setelah dimandikan, dikafankan dan disholatkan kemudian dikuburkan. Akan tetapi Ayahnya sangat penasaran atas kejadian itu dan menginginkan untuk dilakukan otopsi penyebab kematiannya.....atas persetujuan keluarga dan polisi setempat akhirnya penggalian dilakukan. Alangkah terkejutnya si Ayah dan para kerabat yang sebelumnya turut memandikan, mengkafankan, mensholatkan dan menguburkan dimana kondisi simayit sangatlah berbeda sebelum dan sesudah dikubur padahal baru tiga jam berlalu.Seperti hancur berantakan, diantaranya kulit seperti berwarna abu-abu, rambut mendadak putih...(tanda-tanda ketuaan terlihat), muka seperti habis dipukuli bengkak-bengkak dan memar, keluar darah dari seluruh lubang, posisi anggota tubuh tangan dan kaki berantakan (alias hancur tulang-tulangnya).hal ini seperti adanya penyiksaan besar-besaran terhadap si mayit...sekali lagi padahal baru tiga jam berlalu (Lihatlah Gambar Inset)....Kalau kita menghitung aturan Allah dan Rosulnya bahwa manusia akan diperhitungkan dosa-dosanya setelah usia akil balik (contoh untuk laki-laki usia 15 tahun)

jika secara matematika kita hitung tentunya...pemuda tersebut baru menjalankan kehidupan (dicatat sebagai amal baik atau dosa) selama tiga tahun bentuk siksaan yag dialami begitu dahsyatnya....bagaimana kita yang sudah masuk usia 30, 40 dan 50 tahun

tentunya ini sebagai renungan kita semua.

Insert। Kisah nyata bentuk siksa kubur।











Tentunya kita perlu ketahui mengapa ”siksa kubur” itu terjadi selain bentuk-bentuk pelanggaran terhadap seluruh aturan Allah SWT dan Rosulnya juga terjadi diantaranya :

1. Air kencing.

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sucikanlah dirimu dari air kencing karena kebanyakan siksa kubur itu berasal darinya." Riwayat Daruquthni.

Menurut riwayat Hakim: "Kebanyakan siksa kubur itu disebabkan (tidak membasuh) air kencing." Hadits ini sanadnya shahih.

Bagaimana anak kecil? Syaratnya belum memakan makanan... dengan hadisnya :

Aisyah, Ummul mukminin, berkata, "[Rasulullah saw. biasa didatangkan kepadanya anak-anak kecil, lalu beliau memanggil mereka, maka, 7/156] dibawalah kepadanya seorang anak laki-laki yang masih kecil (dalam satu riwayat: beliau meletakkan seorang anak laki-laki kecil di pangkuan beliau untuk beliau suapi, 7/76), lalu anak itu kencing di atas pakaian beliau. Beliau kemudian meminta air, lalu menyertai kencing itu dengan air tadi (yakni tempat yang terkena kencing diikuti dengan air yang dituangkan di atasnya) [dan beliau tidak mencucinya]."

2. Menangisi si mayit dengan berlebihan dan bahasa lisan jahiliyah.

. Al-Mughirah berkata, ' Aku (Mughirah) mendengar Nabi bersabda pula, 'Barangsiapa yang diratapi, maka ia disiksa sebab diratapi itu.'".

Abdullah (bin Mas'ud) r.a. mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, "Bukan dari golongan kami orang yang menampar-nampar (dalam satu riwayat: memukul-mukul 2/83) pipi, merobek leher baju, dan berseru dengan seruan jahiliah."

Begitu pula dari sahabah Umar r.a. berkata, "Biarkanlah mereka menangisi Abu Sulaiman, asalkan tidak menaburkan tanah di atas kepala डी[an tidak berteriak-teriak.

3. Meninggalkan Sholat Ashar sampai masuk waktu maghrib.

Hadis riwayat Ibnu Umar ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Orang yang terlewat salat Asar seolah-olah keluarga dan hartanya telah hilang darinya. (Shahih Muslim No.991).

Hadis riwayat Ali ra., ia berkata: Pada hari perang Ahzab, Rasulullah saw. bersabda: Mudah-mudahan Allah memenuhi kubur dan rumah mereka dengan api, sebagaimana mereka telah menahan dan membuat kami sibuk dari melaksanakan salat Asar hingga terbenam matahari. (Shahih Muslim No.993).

Dan masih banyak lagi siksa kubur yang lain diantaranya berghibah (membicarakan orang lain yang benar dimana jika orang yang dibicarakan itu tidak senang kalau mengetahuinya) atau hanya sebagai pendengar ghibah dalam hal ini Infotaiment...(Gosip, Kabar-kabari, dsb). Kalau yang dibicarakan itu ternyata salah maka ini termasuk ”Fitnah/kebohongan”.

Sangatlah disarankan oleh baginda Rosulullah SAW untuk selalu berlidung dari siksa kubur diantaranya doa didalam sholat (Atahiyat terakhir) yaitu :

Aisyah, istri Nabi saw., menginformasikan bahwa Rasulullah selalu berdoa dalam shalat

"Allahumma innii a'uudzu bika min 'adzaabil-qabri wa a'uudzu bika min fitnatil-mashiihid dajjaali, wa a'uudzu bika min fitnatil-mahyaa wafitnatil-mamaati. Allahumma innii a'uudzu bika minal-ma'tsami wal maghrami." "Ya Allah, sesungguhnya saya berlindung kepada Mu dari siksa kubur. Dan saya berlindung kepada Mu dari fitnah Al-Masiih Dajjal. Dan saya berlindung kepada Mu dari fitnah ketika hidup dan fitnah setelah mati. Ya Allah, sesungguhnya saya berlindung kepada Mu dari dosa dan utang." Lalu seseorang berkata kepada Rasulullah, "[Wahai Rasulullah, 3/85], alangkah seringnya engkau memohon perlindungan dari utang." Beliau bersabda, 'Sesungguhnya seseorang yang berutang bila berbicara, maka dia berdusta. Apabila berjanji, maka dia mengingkari.'" (Dan dalam satu riwayat dari Aisyah) dia berkata, "Saya mendengar Rasulullah berlindung kepada Allah di dalam shalatnya dari fitnah Dajjal."

Wallahua’lam bish-shawab

Bambang Wijonarso

Renungan Hati.

Read More..