Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 September 2009

Pasca Ramadhan

Oleh : H.Bambang Wijonarso


Ramadhan yang penuh dengan keberkahan, rahmat, dan ampunan dari Allah SWT telah berlalu. Amaliah ritual dan sosial yang penuh dengan megabonus akan kita nantikan setahun lagi. Pasca puasa Ramadhan masuk ke-bulan Syawal, dimana secara bahasa Syawwal berasal dari suku kata syala, ya syulu, syawwal artinya meningkat. Berarti dengan pendidikan (Tarbiyah) yang diberlakukan oleh Allah SWT dan RosulNya di bulan ramadhan akan mengasilkan peningkatan kapasitas dan kualitas ibadah kepada Allah di bulan Syawal ini, baik Ibadah magdho (Sholat, puasa, zakat dan haji) maupun ghairah magdho (Muamalah, Silahturahim, saling berbagi, kepedulian,dermawan,etos kerja, kejujuran, kedisiplinan, amanah, berani berkata benar dsb).
Kita saksikan dibulan ramadhan masjid-masjid penuh dalam pelaksanaan sholat baik wajib maupun sunah tarawih apalagi 10 hari menjelang akhir ramadhon banyaknya program-program itikaf, terasa apapun nasehat dari ustad selalu kurang bahkan hampir kekurangan ustad alias banyaknya jamaah, banyaknya orang membaca Al Qur'an (ngejar target hatam), banyak pula orang tiba2 menjadi darmawan, santun, sabar, pemerhati dan saling berbagi (infak & sadaqah), hampir toko-toko diserbu dengan membeli buku-buku religius, baju koko, sajadah, peci,sarung dan busana muslim wanita (Jilbab). Hampir setiap hari persiapan makanan dan minuman untuk sahur dan buka selalu direncanakan matang bahkan apapun makanan dan minuman yang disajikan pasti habis terjual apalagi disaat lebaran akan lebih special lagi bahkan terkesan berlebihan.
Begitulah keadaan umum yang sudah lazim dilakukan umat akhir zaman, akan tetapi ada hal yang esensial yaitu bagaimana kita melihat pasca ramadhan? Apakah merasa merdeka, merasa gembira, bebas dari belenggu aturan agama, atau kita merasa sedih, takut, prihatin jangan-jangan puasanya tidak diterima dan tidak mendapat ampunan Allah bahkan belum tentu umur kita sampai pada ramadhan tahun depan. Rosulullah bersabda sungguh merugi ramadhan telah berlalu tetapi tidak mendapat ampunan dari Allah SWT (HR Bukhari). Akankah kegiatan-kegitan keagamaan dan muamalah pasca ramadhan akan dapat dipertahankan? Apalagi harus meningkat yang diharapkan dibulan syawal ini. Bukti dari kelulusan dan kesuksesan puasa ramadhan seseorang hanya dapat dilihat dari sikap & prilaku kita selama sebelas bulan yang akan datang.
Bagaimana kiat-kiat untuk mempertahankan atmosfir ramadhan pasca ramadhon sehingga dapat bertahan dan meningkat disebelas bulan yang akan datang adalah konsistensi/istiqamah dibawah ini:
1.Biasakan sholat wajib tepat waktu berjamaah dimasjid bagi laki2, salah satu ciri orang bertakwa adalah yang senantiasa memakmurkan masjid dengan shalat berjamaah, (QS. At-Taubah: 18). dan dirumah bagi perempuan.
2.Upayakan sholat tahajud pilih diantara jam 02.00 s/d subuh (biasakan tidur malam diawal waktu jam 21.00) tambahan dzikir2 dan mengeluh (Curhat), meminta, menangis maupun bahagia/bersyukur dan banyak2 berdoa hanya kepada Allah. Ajak Istri dan anak-anak boleh jadi doa mereka yang dikabulkan.
3.Cari teman, sahabat dan karib yang selalu dekat kepada Allah dan RosulNya. Jauhkan segala sesuatu (kegitan) yang melalaikan kita ingat kepada Allah (jangan coba-coba).
4.Buat jadwal tetap untuk mencari Ilmu agama (majelis ta'lim, membaca, mendengar, berdiskusi, mengkaji dsb) usahakan banyak guru (ustad), berusaha menjalankan ilmu yang didapat, sebarkan dan dakwahkan terutama Istri, anak2 dan kerabat.
5.Perbanyak Ibadah Nawafil (tambahan) seperti Sholat rawatib, sholat dhuha, dzikir-dzikir khusus, pagi dan petang, puasa sunah (Puasa Syawal, puasa Senin-kamis, puasa tgl.13,14,15 bulan qomariyah, puasa Arafah, puasa hari Asyura), biasakan berdoa setiap aktifitas kehidupan ( bangun tidur masuk kamar mandi, memakai baju, makan-minum, naik kendaraan, pergi kerja, aktifitas dari pagi sampai malam mulut harus komat-kamit berdzikir mengingat Allah, jika mengalami kesulitan dan kemudahan, kehinaan dan kemaksyuran yang akhirnya sampai mau tidurpun diharuskan berdoa....kecuali akan bebas berdoa nanti setelah menjadi mayit bahkan harus didoakan).
6.Perbanyak Zakat Infak dan shadaqah kepada yang berhak menerimanya (lihat Qs. At Taubah ayat 60 (bab Zakat) dan Qs. Al Baqarah ayat 215 (bab Infaq/sadaqah)).
7.Jadikan Al Qur'an dan As Sunah (Hadis) sebagai manhajul hayyah (kurikulum kehidupan) atau sebagai guide/petunjuk keselamatan hidup baik didunia maupun diakherat dengan selalu berinteraksi dengan AlQur'an dan As Sunah (Hadis). Jangan menunggu kalau ada yang meninggal (tahlilan) baru baca Al Qur'an itupun hanya surat yasin ech ditambah tidak membaca artinya.
8.Banyak-banyak melakukan kebaikan untuk menutupi keburukan tentunya kebaikan & keburukan menurut aturan Allah dan RosulNya sesuai dengan kemampuannya tentunya hanya lewat belajar.
Tentunya yang tidak melaksanakan dari minimal kedelapan kiat tersebut diatas maka cenderung akan termasuk orang-orang yang rugi didunia maupun diakherat yang disinyalir dari hadis rosulullah saw “Berapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tiada mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali sekedar lapar dan haus”.(HR. An-Nasai dan Ibnu Majah).
Wallahua'lam bish-shawab
Renungan HAti
Bambang Wijonarso

Read More..

Selasa, 08 September 2009

Ramadhan dan Waktu.

By : Bambang Wijonarso
email : bambang_wijonarso@yahoo.com

Saat kita menganggap waktu tidak berharga, maka waktu akan menjadikan kita manusia tidak berharga. Saat kita menyianyiakan waktu maka waktu akan menjadikan kita orang sia-sia. Demikian pula saat kita memuliakan waktu, maka waktu akan menjadikan kita orang mulia. Karena itu, kualitas seseorang terlihat dari cara ia memperlakukan waktu. Allah SWT menegaskan bahwa orang rugi itu bukan tidak memeliki harta atau kekayaan, jabatan atau penghargaan. Orang rugi itu adalah orang yang membuang-buang waktu kesempatan untuk beriman, beramal dan saling nasihat-menasihati.

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran (QS Al Asher [103]: 1-3).

Kita perlu memahami dan menyadari bahwa waktu mempunyai sifat yaitu ”Waktu cepat berlalu” bagaimana perasaan manusia pada umumnya terhadap waktu sehari terasa cepat dan sebulan terasa mendekat dan setahun begitu saja berlalu untuk dapat memanfaaatkan waktu maka solusinya segera dimanfaatkan (Fastabikul khairat/ berlomba-lomba dalam kebaikan). Dari tabiin Ibnu Atha'ilah berpendapat bahwa menunda amal kebaikan karena menantikan kesempatan yang lebih baik adalah tanda kebodohan yang memengaruhi jiwa.
Sifat waktu juga tidak tergantikan”, apapun kecanggihan teknologi sampai saat ini maupun depan dan apapun kekuasaan manusia tidak mungkin dapat menggantikan waktu yang telah berlalu maka agar tidak tertipu dengan berjalannya waktu maka solusinya diisi dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dan yang paling urgent. Waktu tidak dapat diinfestasikan, siapa yang dapat didunia ini yang dapat melipat gandakan sebuah waktu ? maka solusinya berhati-hati dalam menentukan aktifitas terhadap waktu.

Setelah kita memahami sifat waktu terhadap manusia maka tentunya sekarang kita dapat memilah beberapa type manusia dalam menyikapi waktu yaitu :

Pertama. Type Manusia masa lalu.
Type manusia ini selalu berfikir, berwawasan, berbicara dengan output aktifitasnya hanya membicarakan masa lalu (bahagia maupun duka) walaupun masa lalunya salah. Hal ini digambarkan dalam firman Allah Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami." "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?." ( Qs. Al Baqarah{2} : 170). Hal ini tercermin dimasyarakat bahwa penyeleseaian masalah dengan adat istiadat lebih popular dan lebih takut dari pada dengan ketetapan Allah (Al Qur’an danAs Sunnah).

Kedua, Type manusia masa depan.
Type manusia ini selalu berangan-angan dan penuh cita-cita tanpa amal atau tindakan nyata. Disaat ditanya untuk pilihan masuk surga atau neraka, sangatlah pasti semua menjawab mau masuk surga, akan tetapi ,melaksanakan amalan-amalan ahli surga sangat berat dan sulit dilakukan dan cenderung lebih giat, taat aktif, senang dan mudah melaksanakan amalan-amalan/ aktifitas ahli neraka.

Ketiga Type manusia masa kini.
Type manusia ini hanya berusaha menikmati hari ini tanpa mau melihat masa lalu dan masa depannya. Mengapa karena mereka telah tertipu dengan kehidupan dunianya (Cinta dunia), lupa negeri akherat dan lupa kematian.

Type manusia masa lalu, depan dan kini baik keberhasilan dan kegagalan dunianya akan semakin jauh dengan ketaatannya kepada Allah SWT & RosulNya.

Keempat, Type manusia Sempurna.
Type manusia ini dalam hidupnya selalu menjadikan masa lalunya sebagai pelajaran dan masa depannya sebagai motifasi serta masa kininya sebagai barometer penilaian untuk menjalankan kehidupannya. Motto hidupnya “ Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini.
Manusia sempurna ini jika melakukan pelenggaran/kemaksiatan maka segera minta ampun dan bertaubat dimana orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka (Qs Ali Imran [3] : 135).
Manusia jenis ini jika diberi keleluasaan rejeki (Orang kaya harta) maka ia pasti darmawan. Dan jika Allah takdirkan menjadi orang miskin maka ia akan bersabar. Jika Allah berikan amanah jabatan maka tidak akan menzolimi orang. Serta jika Allah tetapkan menjadi seorang ulama/kyai/ustad maka akan memberikan solusi umat. Intinya manusia jenis ini outputnya selalu dekat dan taat kepada aturan dan larangan Allah serta RosulNya.

Akan tetapi untuk menggapai type manusia yang sempurna ini sangatlah sulit penuh upaya, perjuangan baik waktu, harta, maupun jiwa sekalipun. Dan perlu pula diketahui salah satu kesulitan untuk menggapai manusia yang type sempurna ini dikarenakan “penyakit manusia terhadap waktu” yaitu Lalai, selalu menunda kebaikan dan cenderung mencaci waktu hal ini difirmankan Allah :”Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Qs Al Araaf [7] : 179).
Itulah penyakit manusia terhadap waktu berupa penglihatan, pendengaran, dan hati karena manusia cenderung mendengar, melihat dan hati terhadap sesuatu yang jauh dari ketaatan kepada Allah.

Allah telah meramadhankan, mendidik (tarbiyah) manusia selama sebulan penuh dengan seluruh aktifitas amal baik wajib dan sunah-sunahnya (Sahur, berbuka, Sholat berjawaah baik wajib maupun sunah tarawih, membaca dan mengkaji Al Qur’an, mendengarkan siraman rohani/kultum/ceramah dsb, sedekah, infag dan zakat, memberi makan fakir miskin, itikaf dll). Sehingga diharapkan setelah keluar ramadhan akan menghasilkan orang yang bertakwa dan dapat tercipta manusia dengan type sempurna (masa lalunya sebagai pelajaran dan masa depannya sebagai motifasi serta masa kininya sebagai barometer penilaian untuk menjalankan kehidupannya).


Wallahu Alam Bish-shawab
Renunag HAti
Bambang Wijonarso

Read More..

Rabu, 02 September 2009

Janji Iblis

by : H. Bambang Wijonarso
email : bambang_wijonarso@yahoo.com


Iblis berkata :” Ya tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) dimuka bumi dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.(Al Hijr [15]:39).

Dari ayat tersebut diatas ada beberapa hal yang perlu kita ketahui antara lain :
1.Makhluk yang namanya Iblis mengakui keberadaan adanya tuhan yaitu Allah swt, artinya jika manusia tidak mengakui adanya tuhan (..Tauhid..)...maka tentunya lebih buruk dari Iblis implementasi bukti dari mengakui adanya Tuhan (Allah swt) maka melaksanakan seluruh aturan Allah swt tanpa alasan apapun sesuai kemampuan masing2 (Aqidah).

2. Iblis sangat melanggar aturan tuhan (Allah swt), artinya semua manusia yang melanggar aturan Allah maka dapat dikatagorikan sesat (termasuk sifat iblis).

3. Iblis dan sekutunya mempunyai keahlian profesionalisme dlm menyesatkan manusia, bahkan iblis dan syaitan bekerja sama dengan manusia untuk menyesatkan manusia inilah janji iblis kepada tuhannya (Allah swt). Disinilah kita harus berhati-hati dalam menyikapi semua sendi-sendi kehidupan didunia sebagai contoh keberhasilan kerja syaitan dan manusia adalah ”permainan undian olah raga atau Lomba nyanyi Indonesian Idol ”SMS ” yang pasti penyelanggaranya diuntungkan, akan tetapi pengikut/pengemar SMS dirugikan (perbuatan tidak berguna) dengan memperbanyak SMS dengan harapan mendapat hadiah, atau idolanya menang. Dan banyak lagi contoh2 lain seperti kelompok yang merasa benar padahal sudah sesat jauh (Menjelma sebagai Jibril, Sholat dengan bahasa Indoneisia), Takabur (kerjaan saya lebih baik dari anda, Saya lebih senior dari anda, saya orang terpandang dari anda /Ningrat /bos/ golongan) serta Hasad/dengki ( umumnya negatif thinking).

Iblis berjanji akan menjerumuskan semua manusia, akan tetapi iblis sendiri sangat tidak berdaya untuk mengganggu manusia yang ”Mukhlis” (Orang2 yang diberi taufik untuk mentaati segala petunjuk dan perintah Allah) hal ini difirmankan dalam Al Qur'an Surat Al Hijr ayat 40 : ”kecuali hamba-hamba Engkau yang ”Mukhlis” diantara mereka.

Muchlis adalah orang2 yang ikhlas dalam menjalankan perintah Allah dan Rosulnya, dimana ikhlas hanya dapat diperoleh dengan melalui proses suatu amal perbuatan (sesuai aturan Allah dan Rosulnya) yang sangat panjang berkesinambungan/istiqomah dan konsisten. Ikhlas diibaratkan seperti uang logam yaitu ikhlas disisi logam yang satu serta Riya disisi logam yang lain. Dimana Ibnu katsir berkata ”Riya” seperti semut hitam diatas batu yang hitam ditengah-tengah gelap gulita dimalam hari tanpa bulan dan bintang (penuh waspada bagi seorang muslim).

Marilah kita selalu berdo'a agar Allah selalu memberikan jalan yang lurus (Taufik dan HidayahNya) dan disempurnakan dalam beribadah serta selalu diberi kemampuan untuk meningkatkan amal soleh (keimanan) sebagai modal perisai menghadapi godaan Iblis, Syaitan dan sekutunya (kelompok manusia).

Tentunya dalam rangkaian amalan wajib maupun sunah dibulan ramadhan dapat mendidik kita dalam meningkatkan kekuatan iman ditambah dengan dibelenggunya syaitan-syaitan dapat mempermudah meningkatkan keikhalasan kita dalam beribadah kepada Allah SWT (Muchlis). Sehingga keluar dari bulan ramadhan seorang muslim apa yang diperolehnya (Keimanan dan ketakwaan yang maksimal) sebagai modal untuk menghadapi sebelas bulan yang akan datang dalam menghadapi segala tantangan yang dapat mengurangi keimanan kita baik dari faktor luar syaitan dari bangsa jin dan manusia.


Wallahu a'lam Bish-shawab
Renungan Hati
Bambang Wijonarso

Read More..

Senin, 31 Agustus 2009

Tingkatan Puasa

by : H.Bambang Wijonarso
email : bambang_wijonarso@yahoo.com

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Qs. Al Baqarah : 183).
Mari kita tinjau sejenak beberapa karakter manusia dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Ada tiga tingkatan manusia dalam menjalankan aktivitas ibadah puasa yaitu puasa orang awam, puasa khusus dan puasa sempurna.
Puasa Awam (Aam).
Sebatas menahan diri untuk tidak makan dan minum serta berhubungan suami istri (Jima) dari syahwat sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Orang seperti ini hanya memindahkannya kemalam hari, artinya setelah berbuka dengan syahwatnya makan dan minum disantapnya, umumnya tujuan dari puasa tidak dilaksanakan bahkan mungkin tidak diketahuinya hanya sebatas menggugurkan kewajiban saja. Puasa semacam ini sangat berbahaya karena dapat dikatakan sia-sia, lihat hadist Rosulullah saw “Berapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tiada mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali sekedar lapar dan haus”.(HR. An-Nasai dan Ibnu Majah).

Puasa Khusus (Khowas).
Selain melaksanakan kewajiban berpusa tidak makan, minum dan berhubungan suami istri (Jima), juga sangat berusaha untuk dapat menahan pendengaran dari yang makruh, penglihatan yang melahirkan syawat, lidah (ghibah/mengunjing, Namimah/adu domba dsn fitnah), tangan, kaki dan seluruh anggota badan dari perbuatan dosa. Allah berfirman dalam Al Qu’ran nul karim Surat Al Muminuun ayat 1 dan ”Sesunguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman yaitu orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna”.
Pada puasa khusus sedikit tujuan dari puasa sudah tercapai walaupun hanya sebatas terhindar dari dosa.
Puasa Sempurna.
Menahan hati dari perbuatan dosa dan pemikiran/aktivitas duniawi, dan mengarahkannya hanya kepada Allah. Puasanya orang yang sempurna bersamaan selalu menjaga dari perbuatan dosa/hal yang tidak berguna(Puasa Khusus) akan tetapi juga melakukan serangkaian amalan sunah seperti Qiyamul Lail/Qiyamul Ramadhan/Tarawih, Infak/shadaqah, Memberi makanan saat berbuka kepada fakir miskin, Tilawah (membaca dan mengkaji serta mengamalkan) Al Qur'an, Banyak-banyak berdo'a, I'tikaf (10 hari terakhir).
Orang yang masuk tingkatan puasa sempurna pasti dapat mengambil manfaat puasa seperti menghindarkan diri dari maksiat, Merupakan benteng dari Syahwat, Agar tubuh menjadi sehat, Melatih keikhlasan , Mendapat ridho Allah, Mempersempit jalan masuk setan, Melatih jiwa agar menjadi sabar, Sarana untuk mencapai derajat Takwa, Selalu mengoptimalkan hasil yang sangat produktif. Semua itu akan diperoleh dan dipertahankan baik satu bulan dibulan ramadhan maupun sebelas bulan diluar ramadhan dan dilakukan selama hidupnya. Umumnya puasa jenis ini diperoleh para nabi, rosul, sahabat, tabiin, tabiun tabiin dan para shyakhul muslim.
Demikianlah maksud dari ayat Allah Qur'an surat Al Baqarah ayat 183. dan Hadist Nabi yang diriwayatkan Bukhari Muslim : ”Barang siapa yang berpuasa karena iman dan mencari keridhoan Allah, maka Allah akan menghapuskan dosa yang telah lalu. Yaitu merupakan tingkatan untuk mencapai puasa sempurna.
Mudah2an dengan pelatihan (tarbiyah) dibulan ramadhan dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan seorang muslim sehingga derajat puasa berangsur angsur dari tahun ke-tahun dari puasa awam, khusus dan se,purna.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Renungan HAti
Bambang Wijonarso

Read More..

Rabu, 26 Agustus 2009

Sasaran Saum Ramadhan

by :H. Bambang Wijonaarso
email : bambang_wijonarso@yahoo.com



Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (Qs. Al Baqarah [2]: 183).
Adapun sasaran utama saum ramadhan adalah melahirkan atau meningkatkan ketakwaan individu muslim. Sedangkan takwa menurut bahasa adalah takut atau memelihara diri dari siksa Allah swt dengan melaksanakan perintah dan laranganNya. Menurut Umar bin khatab, ”Takwa” dibaratkan kita berjalan dari suatu tempat ketempat lain yang dipenuhi dengan ranjau (segala sesuatu yang berbahaya), dimana agar selamat sampai tujuan maka harus berhati-hati dalam setiap langkahnya. Artinya setiap langkah hidupnya selalu dibingkai dengan aturan agama bukan menurut hawa nafsunya semata.
InsyaAllah dengan puasa ramadhon maka kepekaan diri terhadap kedekatannya dengan Allah akan meningkat sehingga Allah akan mencintai hambanya dan yang pasti akan menyelesaikan segala urusan baik dunia maupun akherat. Coba tidak ada manusia dimuka bumi ini yang tidak punya masalah/urusan yang pelik/sulit misal problema hutang, pekerjaan, hidup rumah tangga (istri/suami/anak/kerabat/tetangga yang bermasalah), sulitnya taat kepada Allah, tidak punya jodoh, pendapatan yang pas-pasan, pimpinan atau bawahan yang bermasalah, perusahaan yang kembang kempis dan masih banyak lagi segudang masalah bagi manusia.
Kita harus yakin semua permasalahan hidup manusia hanya Allah yang dapat memberi petunjuk untuk dapat diselesaikan dengan syarat manusia harus bertakwa hal ini difirmankan di Qs. Al Baqarah [2]: ayat 5 salah satu ciri orang-orang yang bertakwa adalah ”Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung” (beruntung disini ialah orang-orang yang mendapat apa-apa yang dimohonkannya kepada Allah sesudah mengusahakannya). Semua masalah dan problematika hidup manusia pasti akan Allah swt selesaikan asalkan hambanya mau ”menciptakan” dan ”meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Menciptakan bagi yang penuh dengan kelalaian kepada Allah dengan bertaubat atau ”meningkatkan” bagi yang sudah taat kepada Allah. Salah satu bukti Allah yang akan menyelesaikan adalah dengan firmanNya :


Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.(Qs.Ath tahlaaq [65]:2-3).

Berarti sasaran utama puasa ramadhan adalah melahirkan kebahagian hidup manusia baik didunia maupun diakherat kelak. Sehingga barometer keberhasilan puasa ramadhan adalah pasca ramadon pasti bahagia dibandingkan sebelum ramadhan misal sebelum ramadhan pusing bayar utang maka setelah ramadhan ada jalan untuk menyelesaikan utang, sebelum ramadhon tidak ada modal usaha maka setelah ramadhan ada jalan/petunjuk untuk modal usaha, sebelum ramadhan numpuk masalah alhamdulillah setelah rhamadhan dapat diatasi masalahnya, sebelum ramadhan sulit dapat jodoh alhamdulillah setelah ramadhan ada jalan mendapatkan jodoh, sebelum ramadhan sulit sekali dekat kepada Allah maka setelah ramadhan mudah sekali dekat dengan Allah (ada azan sholat langsung pergi kemasjid, ada ilmu langsung disambar), sebelum ramadhan bingung bagaimana pergi haji alhamdulillah setelah ramadhan ada jalan keluar pergi haji dan sebagainya yang insya Allah akan melahirkan kebagiaan hidup kalau berhasil bersyukur dan kalau gagal bersabar.

Pertanyaan buat kaum muslimin bagaimana jika setelah pasca ramadhan tidak ada perubahan sama sekali pada diri artinya tetap susah atau miskin tidak sabar , tetap kaya lupa diri, tetap jauh dari Allah dsb untuk menjadi lebih baik dan dapat menyelesaikan semua permasalahan hidup. Tentunya yang disalahkan bukan puasa ramadhonnya apalagi ayat-ayat Allah tersebut diatas, akan tetapi manusianya yang boleh jadi tidak mendapat gelar ”takwa” dari Allah, atau boleh jadi Allah menunda dengan tujuan menguji keimanannya.

Wallahu a’lambisha-shawab.
Renungan Hati
Bambang Wijonarso.

Read More..

Minggu, 23 Agustus 2009

Aktifitas amal soleh dibulan ramadhon

By       : H. Bambang Wijonarso
Email : bambang_wijonarso@yahoo.com
           

Hal ini difirmankan Allah : ”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (Qs.2:183). 

Diharapkan menghasilkan ketaqwaan baik individu maupun sosial yang juga digambarkan dalam firmannya adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir, dan memerdekakan hamba sahaya, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (Qs. Al Baqarah ayat 177).

   Ciri lain dari Ketakwaan adalah yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya , dan memaafkan kesalahan orang , dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka (Qs. Ali Imran ayat 134 dan 135).

  Ada lima belas aktifitas amalan yang termaktub dari ayat-ayat Allah tersebut diatas mari kita raih dengan sungguh2 menggapai, mengupayakan, memaksimalkan sesuai kemampuan masing2 dengan ikhlas mencari ridho-NYA. Pertama-tama luruskan Niat, kemudian kesungguhan, buat target2 dan teknis pelaksanaanya, lakukan dari hal yang kecil dan ringan kemudian istiqomahkan (Konsisten). Amalan Wajib berlipat ganda dan amalan sunah disamakan pahala wajib hanya khusus dibulan ramadhan.

  Esensi dari sebuah ketaqwaan adalah output seseorang dalam mengarungi kehidupan selalu berdasarkan seluruh aturan Allah dan Rosul-Nya sesuai kemampuan masing-masing. Tanda-tanda pada diri seorang yang bertaqwa adalah interaksi yang istiqomah dengan Al Quran dan As-Sunah sehingga menghasilkan ketaaatan, ketundukan, kepatuhan dan kedisiplinan itulah makna dari sebuah ketakwaan. Sebagai Contoh orang bertaqwa selalu melakukan aktifitas Niat Puasa setiap hari, SAHUR diakhirkan, BUKA disegerakan, tidak BerDUSTA, melakukan Sholat Fardhu berjamaah di Masjid (Bagi laki-laki) tepat waktu, Melaksanakan Sholat sunah Rawatib, Shalat Taraweh dimasjid (Tujuan Syiar Islam), Sholat Dhuha, Sholat Tahajud & Witir (Di 1/3 malam) dirumah, Membaca Alqur'an (dilanjutkan mengkaji, mamahami dan melaksanakan), Bersedekah, Memberi makan kpd Fakir miskin, berusaha menggapai Malam Lailatul Qadar, Banyak-banyak berdoa minta ampun atas dosa-dosa selama ini dan dibebaskan dari siksa api neraka serta dimasukkan kedalam Surga nya Allah SWT. Demikian aktifitas dibulan Ramadhan yang disebut juga bulan pendidikan sehingga diharapkan setelah ramadhan dapat ditingkatkan seluruh aktifitas amalan tersebut diatas.

  Rosul bersabda Sungguh merugi Ramadhan telah lewat tapi ampunan Allah tidak diberikan kepadanya.. dan Banyak orang yang berpuasa akan tetapi hanya menahan lapar dan haus, serta malamnya bangun hanya untuk terjaga saja tidak mendapatkan pahala puasa. (HR Buchari).
   

Wallahu a'lam bish-shawab.
Renungan Hati
Bambang W.

   


Read More..

Sabtu, 22 Agustus 2009

Modal Puasa Ramahdan

by :H. Bambang Wijonaarso
email : bambang_wijonarso@yahoo.com

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (Qs. Al Baqarah [2]: 183).Langka awal untuk mencapai puasa dari ayat tersebut diatas harus dilandasi dengan iman, dimana iman adalah memiliki keyakinan yang teguh disertai dengan ketundukan dan penyerahan jiwa. Secara mudah iman adalah sesuatu yang diucapkan dengan lisan, diyakini dalam hati dan diimplementasikan dengan aktifitas amal perbuatan. Iman sangatlah butuh ilmu dan ilmu hanya dapat diperoleh dengan belajar, hal ini menandakan iman tidak dapat diturunkan, digenerasikan dengan nasab akan tetapi harus diupayakan dan diperjuangkan serta diusahakan dengan sekuat tenaga mengorbankan waktu, harta dan jiwa sekalipun.

Iman kadang naik dan kadang turun demikianlah karakter manusia dalam mengemban iman, sehingga iman akan meningkat hanya dengan ketaatan kepada Allah dan rosulNya serta iman akan turun dengan kemaksiatan dan pelanggaran kepada Allah dan rosulNya. Bagaimana Rosulullah mendidik, membina dan mengarahkan para sahabat selama 13 tahun di kota Mekkah dan setelah 2 tahun dimadinah baru ada perintah untuk melaksanakan ibadah puasa (Qs.Al baqarah[2]: 183) berarti hampir 15 tahun rosulullah menancapkan kepada para sahabat tentang landasan aqidah dan tauhid yang sangat kuat yang melahirkan keiman yang luar biasa, sami'na wa atha'na kami mendengan dan kami ikuti demikianlah hebatnya keimanan para sahabat.

Hal ini sangatlah sejalan dengan hadis rosululllah saw : barangsiapa yang berpuasa dibulan ramadhon dengan iman dan mencari ridho Allah maka akan diampuni dosa-dosa yang terdadulu (HR Bukhari).

Bagaimana bukti minimal seseorang beriman kepada Allah tentunya dilandaskan atas rukun iman yaitu pertama orang yang beriman harus yakin keberadaan Allah disegala aktifitas bidang kehidupan artinya tidak mungkin orang yang beriman melanggar ketentuan Allah (perintah & larangan) sayangnya fenomena yang terjadi lebih takut kepada manusia dan asesorisnya seperti jabatan, popularitan, kemiskinan dsb dibandingkan dengan Allah. Solusinya tentu harus meningkatkan keimanan kepada Allah dengan Rububiyyah-Nya, uluhiyyah-Nya, dan asma’ dan sifat-Nya. Kedua, keimanan kepada para malaikatnya Allah dimana orang yang beriman selalu yakin bahwa seluruh perbuatan manusia akan dicatat Allah melalui malaikatnya (Roqib & Atib), Allah akan mematikan kita dengan menghadirkan malaikat maut (Iszrail) dan malaikat-malaikat yang lainnya. Ketiga, orang yang beriman pasti dalam mengarungi kehidupan menjadikan pedomannya adalah Al Qur’an dan As Sunnah dalam berhukum pasti hokum Allah, dalam mencari rejeki pasti sesuai ketentuan Allah, dalam bermuamalah pasti sesuai koridor-koridor Allah, dalam berteman , berkaya, berbuat pasti tidak melanggar aturan Allah. Keempat, orang yang beriman pasti dalam melakukan aktifitasnya selalu meniru/mencontoh dan menjadikan barometer yang baik para nabinya Allah. Kelima, orang yang beriman sangat yakin dengan hari pembalasan sehingga selalu berbuat kebaikan sesuai tuntunan Allah dan RosulNya. Allah membuat sebuah masa sebagai tempat untuk menghisab manusia, mereka dibangkitkan dari kubur dan dikembalikan kepada-Nya untuk mendapatkan balasan kebaikan atas kebaikannya dan balasan kejelekan atas kejelekannya, yang baik (mukmin) masuk surga dan yang buruk (kafir) masuk neraka. Ini terjadi di hari akhir tersebut. Keenam, Orang beriman dalam menyikapi kehidupannya selalu dikaitkan dengan takdir Allah. Dimana Allah telah mengilmui segala sesuatu sebelum terjadinya kemudian Dia menentukan dengan kehendaknya semua yang akan terjadi setelah itu Allah menciptakan segala sesuatu yang telah ditentukan sebelumnya.

    Mengingat begitu pentingnya nilai iman sebagai modal dasar keberhasilan seseorang melewati masa saum ramadhan, maka sudah saatnyalah kita meningkatkan keimanan dengan ilmu dan amal soleh. Dengan tekad, niat dan upaya keras mengorbankan waktu, harta dan jiwa sekalipun disertai keistiqomahan insyaAllah iman yang berkualitas akan kita raih.

Wallahu a’lambish-shawab
Renungan HAti
Bambang Wijonarso


Read More..

Rabu, 19 Agustus 2009

Persiapan Ilmu Ramadhan

by : H. Bambang Wijonarso
Email : bambang_wijonarso@yahoo.com

1. Puasa Ramadhan diwajibkan ditahun ke 2 Hijriah setelah Nabi Saw Hijrah ke madinah.

2. Rosulullah Saw selama hidupnya melaksanakan 9 kali puasa Ramadhan sebelum wafatnya.

3. Hukum puasa Ramadhan adalah Fardu Ain (Qs.Al Baqarah 2) yaitu :Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

4. Dasar penentuan Ramadhan dengan Ru'yat (melihat) bulan.
Dari Ibnu Umar RA ia berkata : Saya mendengar Rosulullah SAW bersabda " Apakah kamu melihat hilal (Tanggal 1 Raamadhan), maka berpuasalah, dan apabila kamu melihat hilal (Tanggal 1 Syawal), maka berbukalah tetapi jika kamu tertutup mendung, maka genapkanlah hitungannya (30 Hari). (HR Bukhari dan Muslim hadist ke-671 kitab Bulughul Maram terjemah Al-Hafidz Bin Hajar Al-Asqalani ).

5. Dasar Perhitungan Ramadhan dengan Hisab (Astronomi/Ilmu Bintang).
Dari Ibnu Umar ra Rosulullah saw telah bersabda apabila kamu melihat bulan (dibulan Ramadhan) hendaklah kamu berpuasa dan apabila kamu melihat bulan (dibulan Syawal) hendaklah kamu berbuka Maka jika tertutup mendung antara kamu dan tempat terbit bulan hendaklah kamu kira2kan bulan itu. (HR Bukhari Muslim, Nasai dan Ibnu Majah).
Menurut beberapa ulama diantaranya Ibnu Syuraidi Mutarrif dan Ibnu Qutaibah yang dimaksud dengan kira-kira ialah dihitung menurut hitungan secara ilmu Falak (Ilmu Bintang). Firman Allah Qu'ran surat Yunus ayat 5: Allahlah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, serta diatur Nya tempat perjalanan Nya sepaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu).

6. Wajib Puasa :
1. Berakal.............orang gila tidak wajib puasa.
2. Baliq.................anak-anak tidak diwajibkan berpuasa.
Hadist Riwayat Abu Daud dan Nasai :" Tiga orang terlepas dari Hukum, Orang yang sedang tidur sampai ia bangun, Orang gila sampai ia sembuh dan Kanak-kanak sampai ia baliq.
3. Kuat menjalankan Puasa (Orang sakit dan orang Tua tidak wajib puasa)...
Qs. Al Baqarah :185

7. Syarat Sah Puasa :
1. Beragama Islam
2. Muwayiz (dapat membedakan baik dan buruk)
3. Suci dari darah Haid dan Nifas ( Wajib mengqada).
Hadist dari Aisyah : ia berkata kami disuruh oleh Rosulullah SAW mengqada puasa dan tidak disuruhnya untuk mengqada sholat (HR Bukhari).

8. Rukun (Fardu) Puasa :
1. Niat pada malam sebelumnya, yaitu setiap malam selama bulan ramadhan.
Hadist riwayat Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai dan Ibnu Majah “Rosulullah bersabda Barang siapa yang tidak berniat puasa pada malamnya sebelum fajar terbit, maka tiada puasa baginya/ tidak dianggap berpuasa.

2. Menahan diri dari segala yang membatalkan puasa, sejak terbit fajar sampai terbenam matahari.

9. Hal-hal yang membatalkan puasa.
1. Makan dan Minum yang disengaja.
Firman Allah Qs. Albaqarah 187 “ Makan dan minumlah hingga terang bagimu
benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.
Jika tidak sengaja tidak membatalkan puasa ini dari hadist riwayat Bukhari dan Muslim : “Barang siapa lupa, sedangkan ia dalam keadaan puasa, kemudian ia makan atau minum, maka hendaklah puasanya disempurnakan, karena sesungguhnya Allahlah yang memberinya makan dan minum.

2. Bersetubuh (Jima).

Hadist Dari Abu Hurairah, ujarnya telah datang seseorang kepada Nabi saw, lalu berkata “ Saya binasa wahai rosulullah !” sabdanya “Apa yang membinasakannya ? “ Ia menjawab;” Saya telah menyetubui istri saya pada siang ramadhan, “ lalu sabdanya:”Apakah engkau mampu memperdekakan seorang hamban?” Ia menjawab “Tidak!”Sabdanya, kuatkah engkau berpuasa 2 bulan berturut-turut ?” Jawabnya Tidak! “Sabdanya :”Mampukah engkau memberi makan 60 orang miskin ?”Ia menjawab “Tidak!” Kemudian ia duduk. Lalu ada seorang membawakan segentong kurma untuk Nabi saw. Maka sabdanya “Sedekahkanlah ini!” Lalu ia berkata “ Adakah orang yang lebih miskin dari kami?Karena diantara dua buah batu kota Madinah tidak ada yang lebih memerlukan kurma ini dari pada kami”. Lalu Nabi saw tertawa hingga terlihat gigi serinya, kemudian beliau bersabda :”Pergilah dan berilah makan keluargamu.” (HR Tujuh Ahli Hadist lafaznya pada Muslim kitab Bulughul Maram hadist ke 695).

10. Hal-hal yang boleh berbuka puasa.
1. Orang yang sakit yang apabila tidaak kuasa berpuas (Qs.2:185)
2. Orang dalam perjalanan jauh (musafir) boleh berbuka (Qs.2:185).
Item 1 dan 2 harus mengqada setelah ramadhan (Qs.2:185)
3. Orang tua yang sudah lemah
4 Orang hamil dan menyusui anak
Item 3 dan 4 harus membayar fidyah (Qs.2:184)

Dari Anas. Rosulullah Saw bersabda “Sesungguhnya Allah telah memaafkan setengah shalat dari Musafir, dan memaafkan pula puasanya, Dan dia memberikan kemurahan kepada wanita yang sedang hamil dan yang sedang menyusui (Hadist Riwayat Ahmad, Abu dawud, Tirmidzi, Nasa'i dan Ibnu Majah).

11. Waktu sahur dan Berbuka.

1. Dari Anas bin Malik, ia berkata: telah bersabda rosulullah saw “ Bersahurlah kamu, karena didalam sahur itu ada barakah (HR Bukhari dan Muslim).Hukumnya makan sahur adalah sunah muakadah (Kitab Bulughul Maram hadist ke-679).

2. Dari Abu zarr.”Rosulullah saw telah bersabda, Senantiasa umatku dalam kebaikan selama mereka mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka (HR Ahmad) Hukumnya sunah mengakhirkan sahur mendekati fajar.

3. Dari Abu Hurrairah dari nabi Saw, sabdanya telah berfirman Allah azza wa jalla:”Hamba yang paling kucintai ialah yang lebih bersegera dalam berbuka puasa.”Hukumnya berbuka puasa adalah Sunnah (Kitab Bulughul Maram Hadist ke-678)

12. Doa berbuka puasa.

Dari Ibnu Umar, “ Rosulullah Saw apabila berbuka puasa, beliau berdo'a :Ya Allah karena enggau saya berpuasa, dan dengan rezeki pemberian engkau saya berbuka, dahaga telah lenyap dan urat-urat telah minum, serta pahala telah tetap bila Allah SWT menghendaki (HR Bukhari dan Muslim)

Selamat menunaikan Ibadah Puasa rhamadhan mudah2n Allah selalu memberi kekuatan iman dalam menjalankannya serta mendapatkan derajat Takwa dari Allah SWT aamiin.


Wallahu a’lam bish-shawab
Renungan HAti

Bambang Wijonarso

Read More..