Tampilkan postingan dengan label Maksiat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Maksiat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Desember 2009

Sifat Buruk Manusia.

Oleh : H.Bambang Wijonarso


Dalam mengarungi sebuah kehidupan tentunya manusia akan selalu berhadapan dengan hal yang namanya kebaikan dan keburukan. Agar faktor dominan sebuah kebaikan lebih kuat maka manusia harus mengupayakan semaksimal mungkin untuk memperkecil keburukan-keburukan yang akan muncul. Untuk tercapainya hal tersebut tentunya perlu mengetahui sifat-sifat buruk pada diri manusia menurut pandangan Islam. Sedangkan potensi dari dominannya sebuah kebaikkan akan melahirkan kemanfaatan maksimal baik untuk diri, keluarga dan orang lain serta sangat memberi kontribusi baik dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara (bermuamalah). Minimal ada lima sifat-sifat buruk manusia yang sudah diingatkan oleh Allah dan RosulNya sebagai pegangan hidup (Al Qu’an & Hadis) agar manusia selamat hidup didunia maupun diakherat kelak antara lain :
Pertama, “Suka membantah” kepada Allah dan RosulNya.Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Quran ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah. (Qs. Al Kahfi [18] : 54).
Dengan kesibukan manusia mengelola alam semesta dalam mencari rejeki dimuka bumi ini, banyak manusia beralasan “Sibuk” jika dihadapkan dengan seluruh perintah Agama. sebagai contoh sholat diawal waktu berjamaah dimasjid (bagi laki-laki) hampir seluruh fenomena dimasyarakat sangatlah mengabaikan perintah agama yang satu ini (kelompok yang membantah), padahal menurut Hadis rosul riwayat Abu Hurairah ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Seandainya manusia tahu apa (keutamaan) yang terdapat dalam azan dan barisan pertama, kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan cara mengundi, pasti mereka akan mengundinya. Seandainya mereka tahu apa (keutamaan) yang terdapat dalam bersegera (datang sedini mungkin) melakukan salat, pasti mereka berlomba-lomba melakukannya. Seandainya mereka tahu apa yang terdapat dalam salat Isyak dan salat Subuh, pasti mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak. (Shahih Muslim No.661).
Begitu pula saat manusia berhadapan dengan aturan Zakat, Infaq dan sadaqah boleh jadi manusia menganngap ringan dengan alasan “khan kita masih banyak utangnya dan utang adalah wajib” siapapun profesi seseorang baik kaya maupun miskin asalkan mau memberi sesamanya maka dia dari sisi kebaikan adalah orang kaya, karena prisip orang kaya menurut pandangan islam adalah suka memberi bukan menerima/meminta/menuntut, Bagaimana kalau tidak pernah memberi tentunya tidak pernah melatih menjadi kaya. Abdullah bin Umar r.a. mengatakan bahwa Rasulullah bersabda di atas mimbar sewaktu beliau menyebutkan masalah sedekah, menjaga diri dari meminta-minta, dan masalah meminta-minta, "Tangan yang di atas itu lebih baik daripada tangan yang di bawah. Tangan yang di atas adalah yang memberi infak, sedang tangan yang di bawah adalah tangan yang meminta."

Kedua. “Kufur Nikmat”.Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia, Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih.(Qs. Al Al Israa' [17] : 67).Manusia dalam memandang Nikmat selalu merasa kurang dan sangat sulit sekali untuk bersyukur, barangsiapa yang tidak pandai bersyukur dengan hal yang kecil maka sudah barang tentu sangatlah sulit bersyukur dengan hal yang besar. Manusia cenderung selalu melihat keatas dan hidup dengan pola konsumtif (ladang yang baik untuk godaan syaitan), ditambah lagi dengan nafsupun dominan melakukan keburukan. Bahkan Allah akan mengancamnya bagi orang-orang yang tidak bersyukur dengan firmanNya : Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (Qs. Ibrahim [14] : 7).

Ketiga, “Ubuddunniya”. Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan (Qs Yunus [10]:7-8).
Cinta dunia dengan perasaan tentram terhadapnya hingga melupakan negeri akherat, bagi mereka hanya melampiaskan syahwat dan mencari kenikmatan dengan pola hidup konsumtif , egoisme dan meterialistis dan sangat sulit melahirkan idealisme kebenaran menurut Allah dan RosulNya yang sarat akan keilmuan, iman dan amal sholeh bukan akal pikirannya sendiri, jauh dari kepeduliannya terhadap agama (Agama sering kali menghambat kemajuan duniawinya).

Dampak dari orang yang “Cinta dunia” adalah dalam melaksanakan aktifitas hidupnya baik pemikiran dan pelaksanaannya pertama selalu “menghalalkan segala cara” tidak peduli halal, haram dan subhat (mereka berprinsip yang halal saja susah apalagi yang haram), kedua melahirkan sifat “kebahilan” (kikir/pelit/itungan) dirinya kepada Allah apalagi kepada manusia akan terjadi. Sehingga Rosulullah mengingatkan kepada manusia dengan sabdaNya diriwayatkan Abu Musa al-Asy’airi r.a bahwa rosulullah bersabda :”Barangsiapa mencintai dunianya, niscaya ia akan membayakan akheratnya. Barangsiapa mencintai akheratnya, niscaya ia akan membahayakan dunianya. Maka utamakanlah yang kekal daripada apa yang binasa.

Keempat, “Tergesa-gesa” , Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa (Qs. Al Israa [17]:11). Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. (Qs. Al Anbiyaa'[21]:37).Manusia dalam melaksanakan kewajibannya sebagai khalifah dimuka bumi ini harus mempunyai orientasi jangka pendek dan jangka panjang dan tentunya dalam prosesnya harus dilakukan dengan penuh kesabaran baik dalam mencari ilmu dunia maupun akherat jangan tergesa-gesa. Akan tetapi karena tabiat manusia selalu tergesa-gesa maka boleh jadi dalam prosesnya sering ditemukan hal-hal yang menyimpang missal kasus yang baru-baru ini heboh dimasyarakat dengan munculnya dukun cilik Ponari. Adalah orang yang tidak sabar atas penyakit yang Allah tetapkan sehingga mengambil jalan pintas (Boleh jadi pengobatan alternative). Dari Sahal Ibnu Sa'ad Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tergesa-gesa adalah termasuk perbuatan setan." Riwayat Tirmidzi.

Kelima, “Keluh kesah”. Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah (Al Ma´aarij [70]:19). Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah (Al Ma´aarij [70]:20). Demikian yang Allah pesankan kepada manusia agar lebih mudah dalam mengantisipai dan sekaligus memperbaiki diri dengan upaya yang maksimal, yang insyaAllah dengan upaya proses memperbaiki diri untuk selalu berbuat baik itulah yang akan dinilai oleh Allah SWT.

Sehingga Islam adalah agama proses oriented bukan result oriented artinya boleh jadi orang yang bergelimang keburukan akan tetapi selalu berupaya untuk menjadi baik insyaAllah akan diturunkan hidayah kemampuan untuk menutup seluruh keburukan, tentunya sebaliknya orang yang merasa sudah banyak melakukan kebaikan akan tetapi karena salah Niat dan motifasinya hanya untuk mengejar duniawi (popularitas, uang dan jabatan) maka Allah tuntut kelak diakherat.

Wallahu a’lam bish-shawab
Renungan HAti
Bambang Wijonarso

Read More..

Jumat, 31 Juli 2009

Hal yang Menghalangi Mengenal Allah

Oleh :H. Bambang Wijonarso
email : bambang_wijonarso@yahoo.com


Ada Enam hal yang menghalangi manusia mengenal Allah diantaranya pertama bersandar kepada Panca-Indra. Dan Ingatlah ketika kamu berkata :” Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang (melihat Allah dengan mata kepala) karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya (Qs.2:55). Tidak berimannya kepada Allah dengan dalih tidak bisa melihat Allah, padahal banyak sesuatu yang tidak bisa dilihat tapi mereka menyakini keberadaannya seperti Gaya grafitasi bumi, Arus listrik, Akal pikiran, adanya oksigen diudara bebas untuk bernafas, rasa senang dan sedih rasa takut dan berani dsb ....siapa yang menciptakan ini semua...apakah terjadi secara kebetulan saja...atau kita tidak pernah mau memikirkannya alias cuek-cuek saja (Khan tidak berguna dsb)...??.

Ke-dua adalah faktor kesombongan, Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan dimuka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri (Qs Lukman ayat 18). Begitu pula rosullullah bersabda dari Abdullah bin masud ra. ”Tidak akan masuk surga orang yang didalam hatinya terdapat sifat sombong meskipun hanya sebesar atom”. Ada seorang berkata ” Sesungguhnya orang itu suka berpakaian yang bagus-bagus dan sandal yang bagus pula.” Nabi saw bersabda.” Sesungguhnya Allah itu indah, suka keindahan. Sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia” (HR Muslim). Sekali lagi kebenaran datangnya hanya dari Allah dan Rosulnya bukan dari pemikiran hawa nafsu kita, sudahkah kita introspeksi diri apakah seluruh keputusan yang diambil dalam hidup berlandaskan undang-undang dari Allah dan Rosulnya atau bahkan sebaliknya (Naudzubillah).

Ke-tiga adalah faktor Kebodohan, orang-orang yang tidak mau menerima ayat-ayat Allah dan hadist Rosul dalam mengarungi kehidupan maka akan tersesat hidupnya dan orang ini banyak memakai seluruh aturan hidupnya berdasarkan pemikirannya sendiri maka kebodohan nyata akan diakuinya setelah kematian itu datang padanya (aduh ....Menyesal aku). Kebodohan disebabkan karena malasnya atau tidak mau tahunya seseorang akan ilmu agama.

Keempat adalah faktor Kelengahan, Telah dekat kepada manusia hari menghisap segala amalan mereka, sedang mereka dalam kelalaian lagi berpaling dari padanya. Dan Tidak datang kepada mereka suatu ayat Al Qur’an pun yang baru diturunkan dari tuhan mereka, melainkan mereka mendengarkannya, sedang mereka bermain-main (Qs21: 1 – 2)...Apakah kita termasuk dari golongan ini?? (mari Bemuhasabah).

Ke-lima adalah faktor Keragu-raguan, disebabkan kurangnya ilmu dan keyakinan kepada Allah serta seringnya membanding-bandingkan sesuatu yang baik dengan yang buruk menurut hawa nafsunya (tanpa ilmu).

Ke-enam adalah Faktor Taqlid (ikut-ikutan) Apabila dikatakan kepada mereka: ”Marilah mengikuti apa yang diturunkan kepada Allah dan Rosul” Mereka menjawab:”Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang meeka itu tidak mengetahui apa apa dan tidak pula mendapat petunjuk (Qs. 5 : 104)

Wallahu a’lam bish-shawab.
Renunagn Hati
H. Bambang Wijonarso

Read More..

Rabu, 08 Juli 2009

Dukun & Paranormal

By: Bambang Wijonarso
email : bambang_wijonarso@yahoo.com


Dukun/Paranormal menurut Hadist Rosullulah dari Safiyyah binti Abu Ubaid dari salah seorang istri Nabi saw, bahwa Rosulullah saw pernah bersabda,”Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal dan menanyakan sesuatu dan mempercayainya, maka tidaklah diterima shalatnya selama empat puluh lima hari (HR. Muslim-Kitab terjemah Riyadush Shalihin-Abu Fajar Alqalami-Abd.Wahid Albanjari hal-559).
Dari hadist tersebut diatas sudah jelas bahwa praktek perdukunan/paranormal/
orang pintar yang dikemas dalam bentuk yang sangat halus misal memakai bacaan Qur'an (Wirid ini dan itu baca ini dan itu sampai sekian kali), dilakukan oleh seorang ustad/kyiai apalagi sudah memakai prasyaratan benda-benda misal garam, copy, beras merah, telor ayam, daun bidari, dan sebagainya serta dibuktikan dengan hasilnya benar dapat menyelesaikan masalah serta dipercayai bahwa itu benar maka ini termasuk perbuatan “syirik” (Dosa besar) yang dosanya tidak mungkin diampuni kecuali dengan bertaubat. Hal ini hanya dapat dibuktikan setelah kita mati masuk alam kubur bahkan berhadapan dengan Allah SWT nanti diakherat.

Bagaimana kebenaran/kenyataan yang terjadi kalau masalah itu dapat diselesaikan dengan cara praktek perdukunan/orang pintar, tentunya kita sebagai muslim tidak perlu berbangga hati, surprice, atau kagum karena hal ini telah disabdakan Rosulullah SAW bahwa Dukun/Paranormal dari Aisyah ra menerangkan, Ada beberapa orang bertanya kepada rosullulah SAW. tentang dukun/orang pintar. Kemudian beliau menjawab,”Bukan apa-apa”.Orang itu berkata lagi, “Wahai Rosullulah sesungguhnya kadang-kadang ia (Dukun/orang pintar) menceritrakan sesuatu dan sesuatu itu benar-benar menjadi kenyataan “. Rosullullah saw bersabda, “Kalimat itu termasuk hak (benar) dan dicuri oleh makhluk sebangsa jin, kemudian disampaikan kepada telinga orang pintar/dukun, kemudian dukun itu mencampur-adukkannya dengan seratus kebohongan. (HR Bukhari dan Muslim-Kitab terjemah Riyadush Shalihin-Abu Fajar Alqalami-Abd.Wahid Albanjari hal-559), artinya bahwa kebenaran itu hanya satu persen saja sedang 99 % salah, terlepas dari kebenaran hal ini merupakan ujian bagi manusia apa akan menjual Aqidah islam (Hanya percaya kepada Allah SWT) dengan ke-“syirik”an?(percaya kepada Allah dan kepada yang lainnya selain Allah).

Fenomena dimasyarakat dalam menjalakan ihtiar/upayanya baik menghadapi musibah/masalah (Sakit berkepanjangan, mobil/benda hilang, turun jabatan, mutasi pekerjaan, problem pekerjaan yang tidak selesai-selesai) atau kesuksesan yang lupa kepada Allah (harta, jabatan, Wanita) seiring dengan waktu kadang-kadang manusia tidak sabar dan tidak puas memperoleh hasilnya, mengambil jalan pintas memakai perantaraan orang lain yang menamakan dirinya dapat menyelesaikan masalah-masalah tersebut diatas. Seperti dengan memakai baju Kyai/orang soleh/ustad dengan alat tasbihnya (Misal dapat mengusir jin /jin masuk dalam botol dll) atau yang terang terangan memakai label Dukun/paranormal atau orang pintar yang dikemas sedemikian rupa (Contoh bagaimana ingin dapat jodoh, punya keturunan) atau intinya dapat menyelesaikan masalah yang tidak kunjung selesai serta bertumpuk-tumpuk masalah sehingga manusia terperdaya dengan syaitan san sekutunya.

Islam sama sekali tidak mengajarkan predikat perdukunan/orang pintar untuk menyelesaikan semua permasalahan didunia, bahkan islam mengajarkan konsep ihtiar/upaya dan usaha maksimal dan terus menerus tidak pernah menyerah (profesionalisme) yang disertai dengan tawakal artinya menyerahkan seluruh permasalahan kepada Allah dengan doa yang sungguh-sungguh (Cukuplah Allah sebagai tuhanku dan Dia lah Allah sebaik-baik penolong serta Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah........begitu doa yang rosulullah ajarkan).

Tanda-tanda orang yang mengalami berbagai ujian yang dahsyat didunia akan tetapi sukses dihadapan Allah adalah semakin dekatnya dia dengan Allah SWT melalui
prilaku :”sering belajar agama islam (ilmu), mengamalkannya, memberikan kepada keluarga dan orang lain (konsep Da'wah/mengajak), selalu bersabar menjalankan perintah dan larangan Allah dari ilmu yang dimilikinya serta selalu istiqamah (konsisten) dalam menjalankan Ilmu, amal, da'wah dan sabarnya. Misal amalan ini adalah sholat wajib lima waktu berjamaah dimasjid, sholat rawatib, sholat tahajud (tambahkan mengeluh hanya kepada Allah dimalam hari pasti ada jaminan), sholat dhuha, puasa sunah senin kamis atau 3 hari tengah bulan Qamariah, banyak bersadaqah dan infak, banyak minta ampun (Istigfar), banyak2 menyebut nama Allah, banyak berinteraksi dengan Al Qur'an dan Hadis, hal ini membuat Allah mencintai hambanya yang insya Allah akan diberi ketenagan hati dan jalan keluar dari masalah. Demikianlah yang Allah dan Rosul ajarkan kepada manusia tidak perlu keorangpintar/dukun atau paranormal.
Allah berfirman dalam Al Qur'an orang yang kedukun/paranormal/orang pintar dengan tujuan sbb:
“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki diantara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki diantara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan” (Qs Al Jin : 6).

Hadist riwayat Ibnu maajah.” Sesungguhnya pengobatan mantra-mantra, kalung-gelang penangkal sihir dan guna-guna adalah termasuk syirik (1100 Hadist terpilih-Dr Muhammad Faiz Almath hal-327).

Ya Allah jangan lalaikan kami untuk selalu taat dan mengingatMu dalam keadaan apapun, jadikanlah kami adalah hamba-hambaMu yang selalu berserah diri. Kuatkan kami dari menolak kemaksiatan yang selalu berada disekitar kami sehingga jauh dari kesyirikan kepadaMU aamiin.



Wallahu a'lam bish-shawab
Renungan HAti
Bambang Wijonarso


Read More..

Senin, 06 Juli 2009

Kemaksiatan (bagian ke-3)

by : H. Bambang Wijonarso
email : bambang_wijonarso@yahoo.com


Di antara nikmat yang paling besar yang diberikan Allah kepada hamba-Nya adalah pertolongan dan kemenangan. Sejarah telah membuktikan bahwa pertolongan Allah dan kemenangan-Nya diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang taat. Sebaliknya, kekalahan dan kehancuran disebabkan karena maksiat dan ketidaktaatan.
Kisah Perang Uhud harus menjadi pelajaran bagi orang-orang beriman. Ketika sebagian pasukan perang sibuk mengejar harta rampasan dan begitu juga pasukan pemanah turun gunung ikut memperebutkan harta rampasan. maka terjadilah musibah luar biasa. Korban berjatuhan di kalangan umat Islam. Rasulullah saw. pun berdarah-darah.

Kisah penghancuran Kota Baghdad oleh pasukan Tartar juga terjadi karena umat Islam bergelimang kemaksiatan. Khilafah Islam pun runtuh, selain dari faktor adanya konspirasi internasional yang melibatkan Inggris, Amerika Serikat, dan Israel, karena umat Islam berpecah belah dan kemaksiatan yang mereka lakukan.

Umar bin Khattab berwasiat ketika melepas tentara perang: ”Dosa yang dilakukan tentara (Islam) lebih aku takuti dari musuh mereka. Sesungguhnya umat Islam dimenangkan karena maksiat musuh mereka kepada Allah. Kalau tidak demikian kita tidak mempunyai kekuatan, karena jumlah kita tidak sepadan dengan jumlah mereka, perlengkapan kita tidak sepadan dengan perlengkapan mereka. Jika kita sama dalam berbuat maksiat, maka mereka lebih memiliki kekuatan. Jika kita tidak dimenangkan dengan keutamaan kita, maka kita tidak dapat mengalahkan mereka dengan kekuatan kita.”

Oleh karena itu umat Islam dan para pemimpinnya harus berhati-hati dari jebakan-jebakan cinta dunia dan ambisi kekuasaan. Jauhi segala harta yang meragukan apalagi yang jelas haramnya. Karena harta yang syubhat dan meragukan, tidak akan membawa keberkahan dan akan menimbulkan perpecahan serta fitnah. Kemaksiatan yang dilakukan oleh individu, keluarga, dan masyarakat akan menimbulkan hilangnya nikmat yang telah diraih dan akan diraih. Dan melemahkan segala potensi kekuatan.
Dari kisah tersebut diatas dapatlah disimpulkan bahwa dalam mengarungi kehidupan manusia baik dalam level individu maupun kelompok, baik dalam bentuk upaya bermuamalah di instansi negeri maupun swasta pasti ada suatu bentuk perjuangan, yang melahirkan suatu problematika/ masalah. Maka untuk dapat menyelesaikan nya selain profesianalisme individu atau kelompok sangatlah dibutuhkan bantuan dari Allah swt, hal ini menandakan bentuk dzikrullah (selalu ingat kepada Allah) dan ketidak mampuan manusia terhadap masalah yang dihadapinya minimal dengan berdoa dan maksimal menjalankan seluruh aturan Allah dan Rosulnya terutama dalam hal kemaksiatan kepada Allah.

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Qs Al Araaf 7: 96)

Penduduk suatu negeri dapat juga adalah sekelompok manusia yang sedang bermuamalah dan dalam berusaha tertentu seperti pemerintahan, perusahaan dan sebagainya.

Kita sebagi muslim harus yakin pertolongan Allah atas segala permsalahan hidup didunia yaitu dengan firmanNya…….. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. …..Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (Ath Thalaaq 65 : 2 dan 3 ).


Wallahu a’lam bish-shawab
Renungan HAti
H.Bambang Wijonarso

Read More..

Kamis, 02 Juli 2009

Kemaksiatan (bagian ke-2)

By :H. Bambang Wijonarso
Email : bambang_wijonarso@yahoo.com

  Pada dasarnya pengaruh kesalahan, dosa, dan kemaksiatan bukan saja yang terkait antar sesama manusia, tetapi antara manusia dengan Allah. Siapakah orang yang paling zhalim, ketika mereka diberi rezki oleh Allah dan hidup di bumi Allah kemudian menyekutukan Allah, tidak mentaati perintah-Nya, dan melanggar larangan-Nya. Jika kesalahan yang dibuat antar sesama manusia akan menimbulkan bahaya, maka kesalahan akibat tidak melaksanakan perintah Allah atau melanggar larangan-Nya, maka akan lebih berbahaya lagi, di dunia sengsara dan di akhirat disiksa. “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”
Beberapa pengaruh maksiat diantaranya:

1. Keras dan matinya Hati.

  Al-Qur’an menyebut bahwa orang-orang yang bermaksiat hatinya keras membatu. “Karena mereka melanggar janjinya, kami kutuki mereka, dan kami jadikan hati mereka keras membatu. mereka suka mengubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka Telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), Maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ma-idah: 13)
Berkata Ibnu Mas’ud r.a., “Saya menyakini bahwa seseorang lupa pada ilmu yang sudah dikuasainya, karena dosa yang dilakukan.”

Orang yang banyak berbuat dosa, hatinya keras, tidak sensitif, dan susah diingatkan. Itu suatu musibah besar. Bahkan disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa orang yang senantiasa berbuat dosa, hatinya akan dikunci mati, sehingga keimanan tidak dapat masuk, dan kekufuran tidak dapat keluar.


Berkata Abdullah bin Al-Mubarak, “Saya melihat dosa-dosa itu mematikan hati dan mewariskan kehinaan bagi para pelakunya. Meninggalkan dosa-dosa menyebabkan hidupnya hati. Sebaik-baiknya bagi dirimu meninggalkannya. Bukankah yang menghancurkan agama itu tidak lain para penguasa dan ahli maksiat dan banyak melakukan hal yang tiada bermanfaat dunia dan akherat.

Sungguh suatu musibah besar jika hati seseorang itu mati disebabkan karena dosa-dosa yang dilakukannya. Dan perangkap dosa yang dikejar oleh mayoritas manusia adalah harta dan kekuasaan. Mereka mengejar harta dan kekuasaan seperti laron masuk ke kobaran api unggun.

2. Terhalang dari ilmu dari rezeki

Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba diharamkan mendapat rezeki karena dosa yang dilakukannya” (HR Ibnu Majah dan Hakim)

Berkata Imam As-Syafi’i, “Saya mengadu pada Waqi’i tentang buruknya hafalanku. Beliau menasihatiku agar meninggalkan maksiat. Dan memberitahuku bahwa ilmu adalah cahaya. Dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang bermaksiat.”

  Orang yang banyak melakukan dosa waktunya banyak dihabiskan untuk hal-hal yang sepele dan tidak berguna. Tidak untuk mencari ilmu yang bermanfaat, tidak juga untuk mendapatkan nafkah yang halal. Banyak manusia yang masuk dalam model ini. Banyak yang menghabiskan waktunya di meja judi dengan menikmati minuman haram dan disampingnya para wanita murahan yang tidak punya rasa malu. Sebagian yang lain asyik dengan hobinya. Ada yang hobi memelihara burung atau binatang piaraan yang lain. Sebagian lain, ada yang hobi mengumpulkan barang antik meski harus mengeluarkan biaya tak sedikit. Sebagian yang lain hobi belanja atau sibuk bolak-balik ke salon kecantikan. Ada juga yang hobi musik …..yang intinya umumnya hobi akan melahirkan kelalaian untuk ingat kepada Allah (dzikrullah)……Seperti itulah kualitas hidup mereka.

Wallahu a’lam bish-shawab
Renungan HAti
H.Bambang Wijonarso








Read More..

Selasa, 30 Juni 2009

Kemaksiatan (bagian-1)

Oleh : Bambang Wijonarso  
Email : bambang_wijonarso@yahoo.com

 
  Sesungguhnya seorang hamba jika melakukan dosa, maka terbentuklah noda hitam dalam hatinya. Jika ia melepaskan dosa, istighfar dan taubat, bersihlah hatinya. Ketika mengulangi dosa lagi, bertambahlah noda hitamnya, sehingga menguasai hati. Itulah Roon (rona) yang disebutkan dalam Al-Qur’an, “Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (HR At-Tirmidzi).

Maksiat dan dosa mempunyai pengaruh yang sangat dahsyat dalam kehidupan umat manusia. Bahayanya bukan hanya berpengaruh di dunia tetapi sampai dibawa ke akhirat. Bukankah Nabi Adam a.s. dan istrinya Siti Hawwa dikeluarkan dari surga dan diturunkan ke dunia karena dosa yang dilakukannya? Dan demikianlah juga yang terjadi pada umat-umat terdahulu.

  Disebabkan karena dosa, penduduk dunia pada masa Nabi Nuh a.s. dihancurkan oleh banjir yang menutupi seluruh permukaan bumi. Karena maksiat, kaum ‘Aad diluluhlantakkan oleh angin puting beliung. Karena ingkar pada Allah, kaum Tsamud ditimpa oleh suara yang sangat keras memekakkan telinga sehingga memutuskan urat-urat jantung mereka dan mati bergelimpangan. Karena perbuatan keji kaum Luth, buminya dibolak-balikkan dan semua makhluk hancur, sampai malaikat mendengar lolongan anjing dari kejauhan. Kemudian diteruskan dengan hujan bebatuan dari langit yang melengkapi siksaan bagi mereka. Dan kaum yang lain akan mendapatkan siksaan yang serupa. Jika tidak terjadi di dunia, maka di akhirat akan lebih pedih lagi. (Al-An’am: 6)

  Desember 2005 dunia juga baru menyaksikan musibah yang maha dahsyat terjadi di Asia: Tsunami menghancurkan ratusan ribu umat manusia. Terbesar menimpa Aceh. Semua itu harus menjadi pelajaran yang mendalam bagi seluruh umat manusia, bahwa Allah Maha Kuasa. Disebutkan dalam musnad Imam Ahmad dari hadits Ummu Salamah, Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Jika kemaksiatan sudah mendominasi umatku, maka Allah meratakan adzab dari sisi-Nya”. Saya berkata, “Wahai Rasulullah, bukankah di antara mereka ada orang-orang shalih?” Rasulullah menjawab,”Betul.” “Lalu bagaimana dengan mereka?” Rasul menjawab, “Mereka akan mendapat musibah sama dengan yang lain, kemudian mereka mendapatkan ampunan dan keridhaan Allah.”

Akar Kemaksiatan

  Semua kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia, baik yang besar maupun yang kecil, bermuara pada dua hal. Pertama; lupa kepada Allah, kedua; mengikuti hawa nafsu. Keduanya adalah dzolim dan keji. Puncak seseorang lupa kepada Allah adalah tidak yakinnya manusia bahwa Allah selalu memonitor hambanya (Ihsan) dalam situasi apapun dan tidak yakin adanya hari pembalasan serta adanya negeri akherat. Puncak seseorang mengikuti hawa nafsu adalah melakukan aktifitas yang kurang bermanfaat yang dapat saja jika dibiarkan dan dinikmati akan melahirkan tindakan dosa seperti ghibah,namimah dan fitnah atau perjudian, meminum khamar dan berzina (termasuk pornoaksi). Demikianlah Allah swt. melarang dengan firmannya :
   
  Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah[434], adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (Al-Maidah: 90).

Dan ciri khas kemaksiatan itu saling mengajak dan mendorong untuk melakukan kemaksiatan yang lain. Misal dalam hal bicara dapat melahirkan ghibah, namimah dan fitnah, dalam hal permainan dapat melahirkan perjudian, minuman khamar dan dilanjutkan dengan zina (pornoaksi). Para pembuat kemaksiatan saling membantu untuk mempertahankan kemaksiatannya. Setan tidak akan pernah diam untuk menjerumuskan manusia untuk melakukan dosa dan kemaksiatan. Setan senantiasa mengupayakan tempat-tempat yang kondusif untuk menjadi sarang kemaksiatan. Setan sangat tekun, ulet, telaten, sabar dan tidak pernah menyerah untuk menjerumuskan manusia kedalam kemaksiatan…..tapi ingat setan tidak pernah punya kuasa kepada orang2 yang mempunyai benteng yang kokoh yaitu selalu berpegang teguh dengan sekuat-kuatnya kepada Allah. Oleh karena itu agar terhindar dari jebakan kemaksiatan, manusia harus melakukan lawan dari keduanya, yaitu: menguatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah dengan menjalankan perintahNya dan menjauhkan laranganNya.

Dari sejarah dan uraian singkat tersebut diatas tentunya kita sebagai umat muslim harus dapat mengambil pelajaran agar Allah tidak menurunkan murka dan azabNya kepada umat manusia. Dimana umat dapat berarti individu, keluarga, masyarakat, Negara ataupun perusahaan/instansi .
Barangsiapa yang dapat mengambil pelajaran maka akan mendapat keberuntungan yang besar dan yang gagal mengambil pelajaran akan merugi….
Pertanyaan buat umat muslim Apakah kita mengacuhkan semua bentuk kemaksiatan disekitar kita????? Apakah siap kita menanggung kemurkaan Allah??????

  Dari Abu Sa’id Al-Khudri rodhiallohu ‘anhu dia berkata: Aku mendengar Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika ia masih tidak mampu, maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim).

   
Wallahu’alam bish-shawab.
Renungan HAti
H. Bambang Wijonarso


Read More..