Tampilkan postingan dengan label Haji. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Haji. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Desember 2011


Al Hajjulmabrur
Oleh : H. Abu Albi Bambang

Abu Hurairah r.a. berkata, "Nabi ditanya, 'Amal apakah yang lebih utama?' Beliau bersabda, 'Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.' Ditanyakan, 'Kemudian apa?' Beliau bersabda, 'Berjuang di jalan Allah.' Ditanyakan, 'Kemudian apa?' Beliau bersabda, 'Haji yang mabrur.'" (Hadis Riwayat Bukhori dan Muslim).


Al Hajjulmabrur laysalahu jazaa un illaljannah, Rosulullah SAW bersabda dari Abu Hurairah r.a Dan tidak ada pahala bagi haji mabrur kecuali surga (Muttafaq alahi).

Istilah “Mabrur” secara harfiah dapat diterapkan pada berbagai jenis ibadah dalam agama Islam. Namun istilah ini sangatlah popular untuk ibadah haji.
Kata “mabrur” sendiri secara etimologis berasal dari kata Barra-yabirru-birrun yang artinya bebuat baik atau patuh dan kata birrun yang merupakan kata benda dari kata itu yang artinya orang yang mendapatkan kebaikkan atau menjadi baik. Maka haji mabrur adalah haji yang mendapatkan kebaikkan, atau haji yang pelakunya menjadi baik.
Ibnu Umar r.a. berkata “Seorang haji yang paling baik adalah yang niatnya paling ikhlas, biayanya paling bersih, dan keyakinannya (aqidah & tauhid) paling baik.
Oleh sebab itu tentunya mendapatkan predikat haji mabrur sangatlah tidak gampang dan sembarangan, tidak semudah kebanyakan orang yang dengan bangga sepulang tanah suci dipanggil pak atau ibu Haji tapi prilakunya jauh dari tuntunan Allah dan Rosul-nya.


Buah haji mabrur itu ada perubahan yang tampak jelas dalam kehidupan sehari-harinya dan itu tidak hanya berdampak pada dirinya, melainkan juga bagi orang lain. Dia memancarkan manfaat bagi dirinya maupun orang lain. Orang yang hajinya mabrur itu cirinya setelah pulang haji ada perubahan dalam dirinya menjadi lebih baik. Maksiat dia tinggalkan, bahkan perbuatan yang tidak bermanfaatpun dia tinggalkan. Dulu ibadahnya minimalis atau kurang lengkap sekarang lengkap selain berupaya untuk istiqomah. Orang yang hajinya mabrur selalu meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadahnya seperti ibadah nawafil (sholat rawatibnya atau qobliyah dan ba’diyah , sholat tahajudnya, dhuhanya, puasa senen-kemis, dan sedekah, interaksi dengan Al Qur'an dsb) bahkan haus akan ilmu agama dan amaliahnya serta banyak bertobat dengan banyak memperbaiki diri. Bagi orang yang mendapatkan haji mabrur contoh dalam hal sholat fardhu selalu dijaga tepat pada waktunya, tidak hanya sholat sendiri melainkan selalu sholat fardhu berjamaah dimasjid (bgi laki-laki), bukan hanya sholat untuk menggugurkan kewajiban saja tapi sudah meningkat merupakan kebutuhan hidupnya..


Dapat disimpulakan orang yang mendapatkan haji mabrur minimal ada empat kriteria :
Pertama, Sepulang dari haji seluruh rangkaian ibadah selama ditanah suci, dia bawa kembali ketanah air terutama sholat lima waktu berjamaah dimasjid. Sampai sebelum adzan terdengar sudah bersiap-siap untuk sholat berjamaah dimasjid.(bukan dirumah bagi laki-laki) untuk wanita jika dapat menjaga fitnah sah-sah saja dimasjid.


Kedua, selalu berusaha menciptakan kebaikkan baik untuk dirinya, keluarganya maupun orang lain, apapun yang dihadapi dalam hidup ini merupakan ladang kebaikan/amal pada dirinya, dikarenakan selalu merasa dirinya selalu diawasi oleh Allah (ihsan).


Ketiga, Sepulang dari haji selalu haus akan mencari ilmu agama baik melalui membaca, mengkaji dan mengamalkan dan yang ter penting upaya maksimal untuk konsisten/istiqomah sehingga proses perintah dan larangan Allah dia jalankan dengan kuantitas dan kualitas yang maksimal sesuai dengan kemampuannya.


Keempat, Sepulang dari haji dalam penghargaannya terhadap “Waktu” sangat efisien yaitu dengan Munajad (selalu berdoa), Muhasabah (Introspeksi diri), Tafakur (Melihat kebesaran Allah) dan yang terakhir adalah Maisya (Duniawi), keempat waktu ini selalu seimbang dilaksanakan sehari semalam dua puluh empat jam, bahkan tidurnya orang yang sepulang dari haji selalu bertanya apakah besok aku masih dibangunkan Allah?, begitu pula saat dia bekerja apakah Allah tidak mengetahui kalau saya berbuat salah?


Bahkan Rosulullah bersabda untuk orang yang mendapat predikat haji mabrur akan diampuni dosanya seperti bayi yang baru dilahirkan yaitu dari : Abu Hurairah ra. Berkata Aku telah mendengar Rosulullah saw bersabda Barangsiapa yang melaksanakan ibadah haji tidak berbuat keji dan tidak berbuat fasiq, maka ia akan kembali bersih dari dosanya, bagaikan bayi yang baru lahir dari kandungan ibunya (HR Bukhari dan Muslim).


Bagi yang belum haji tentunya ini sebagai motifasi untuk meraih Surga nya Allah serta salah satu perintah Rukun Islam yang kelima, dan bagi yang sudah menunaikan ibadah haji tentunya ini sebagai pengingat dan nasehat agama agar jika sudah memperoleh predikat haji mabrur harus dipertahankan dan minta kepada Allah agar diberi kekuatan/istiqomah untuk melaksanakan perintah dan larangan Allah serta Rosul Nya.
Bagi yang tidak sesuai dengan kriteria haji mabrur cepat-cepatlah bertobat dan kembali kepada hakekat kriteria haji mabrur (Allah maha pemberi tobat).
Bagi yang sama sekali tidak tergerak hatinya untuk melaksanakan haji mudah-mudahan artikel ini salah satu sebab diturunkannya hidayah Allah. Kebenaran datang dari Allah SWT dan RosulNya sedang kesalahan terdapat dari kebodohan penulis, saya mohon ampun kepada Allah dan maaf kepada seluruh jamaah Renungan HAti.


Wallahu a’lam bish-shawab
Renungan HAti
H. Abu Albi Bambang

Read More..

Jumat, 20 November 2009

Haji-5 (Puasa Arafah)

Oleh : Bambang Wijonarso

Alhamdulillah, tidak terasa waktu terus berputar dan tidak ada yang sanggup untuk menghentikannya. Saat kita tidak menghargai, menghormati, dan memanfaatkan waktu maka waktupun akan menjadikan kita orang yang tidak berharga, tidak terhormat dan tidak bermanfaat baik untuk dirinya maupun untuk orang lain.
Saat manusia memuliakan, menghargai, menghormati, dan tidak menyia-nyiakan waktu maka waktu akan menjadikan kita orang yang mulia, terhormat, berharga dan bermanfaat. Karena itu kualitas seseorang terlihat dari cara memperlakukan waktu. Jika kita menganggapnya waktu sebagai modal penting maka kita akan sangat sensitive dan perhatian terhadap waktu. Kita tidak akan rela sedikitpun waktu berlalu sia-sia.

Setahun sudah berlalu jika diasumsikan titik nol yaitu tgl 9 zulhijah tahun 1429 H dimana bertepatan dengan seluruh jamaah haji melakukan ritual ibadah yaitu Wukuf di Arafah yang insyaAllah jatuh hari Jum'at 27 Nopember'09 maka manusia yang tidak wukuf/berhaji disunahkan untuk melaksanakan puasa Arafah. Hal ini ditegaskan dalam hadis “Dari Abu Qotadah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda : Puasa hari Arafah itu menghapuskan dosa dua tahun yaitu satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang (Hadis Riwayat Muslim).
Tentunya orang yang ingin meraih kesuksesan tidak hanya didunia akan tetapi juga harus diakherat sehingga prilakunya akan merefleksikan Sammi’na wa atha’na (kami mendengar dan kami ikuti) itulah tanda-tanda orang yang beriman. Kita ketahui bahwa manusia tidak terlepas dari dosa-dosa, bagaimanapun Allah dan Rosulnya sangatlah mengetahui hal ini sehingga diberi peluang untuk bertobat dan diiringi dengan amal kebaikan yaitu dengan diperintahkannya puasa sunah hari arafah.

Sangatlah rugi orang yang memutuskan untuk tidak berangkat pergi haji dengan berbagai macam alasan, juga tidak melaksanakan puasa Arafah walaupun hanya sunah, maka orang semacam ini masuk dalam katagori tidak berharga, bermanfaat, dan sia-sia hidupnya walaupun bergelimpangan dengan harta, jabatan dan popularitas. Waktu tidak dapat diinfestsikan dan waktu tidak dapat dikriditkan, dan waktu tidak dapat dihutangkan hal ini selaras dengan ungkapan sahabat rosulullah saw bernama Umar bin khitab ra dimana “waktu ibarat pedang yang jika tidak dapat menggunakannya dapat membunuhnya”.
Bahkan Allah bersumpah dengan waktu diantaranya demi malam, demi waktu dhuha, demi matahari dsb. Dan yang lebih popular yang hampir seluruh umat islam dari yang kecil (belum baliq) sampai tua sangat hafal dengan surat Al Ashr. Yaitu dalam firmannya :


Demi masa Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.(Qs Al Ashr 103 : 1 s/d 3).

Bagi orang yang senang berpuasa akan diberikan khusus hadiah pintu surga yaitu Ar-Rayyan dengan hadisnya dari Sahl r.a. mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda, "Sesungguhnya di dalam surga terdapat (delapan pintu. Di sana 4/88) ada pintu yang disebut Rayyan, yang besok pada hari kiamat akan dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa. Tidak seorang selain mereka yang masuk lewat pintu itu. Dikatakan, 'Dimanakah orang-orang yang berpuasa?' Lalu mereka berdiri, tidak ada seorang pun selain mereka yang masuk darinya. Apabila mereka telah masuk, maka pintu itu ditutup. Sehingga, tidak ada seorang pun yang masuk darinya." (HR Muslim)

Alhamdulillah artikel Bab Haji dari nomer 1 sampai ke-5 sudah selesai mudah-mudahan ada manfaatnya buat jamaah Renungan Hati dan khususnya penulis. Hidayah adalah hak prerogratif Allah swt sedangkan manusia hanya sekedar menyampaikan, beruntunglah orang yang mendapatkan hidayah dan merugilah orang yang tersesat jauh dari hidayah Allah.

Wallahu’alam bish-shawab.
Renungan HAti
H. Bambang Wijonarso

Read More..

Selasa, 03 November 2009

Haji-4 (Kurban)

Oleh : Abu Alby H.Bambang Wijonarso

Salah satu keawajiban muslim kepada Allah SWT adalah memberikan sebagian rejeki kepada fakir dan miskin hal ini termaktub dalam ritual yang setahun sekali umat islam laksanakan yaitu bersamaan Lebaran Haji yang umumnya disebut dengan hari raya “Kurban”.
Kurban adalah binatang yang disembelih dengan tujuan ibadah kepada Allah pada hari Haji dan tiga hari kemudian (tanggal 11 sampai 13 dzulhijah).
Hukum Kurban sebagian ulama berpendapat wajib, sedangkan sebagian berpendapat sunah. Alasan yang berpendapat wajib yaitu firman Allah Swt.

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah[1605].
(Qs. Al-Kautsar 105 : 1 – 2) [1605]. Yang dimaksud berkorban di sini ialah menyembelih hewan qurban dan mensyukuri nikmat Allah.

Dan dalil hadis yang mewajibkan adalah Sabda Rosulullah saw : Dari Abu Hurairah, “Rosulullah Saw, telah bersabda barang siapa yang mempunyai kemampuan tetapi tidak berkurban maka janganlah ia mendekati (menghampiri) tempat solat kami” ( HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Alasan yang berpendapat sunah adalah sabda rosulullah saw : “ Saya disuruh menyembilih kurban itu sunah bagi kamu (HR Tirmizi). Dan dari riwayat Daruqutni “Diwajibkan kepadaku berkurban, dan tidak wajib atas kamu.

Jelaslah sudah dari seluruh dalil yang dipaparkan diatas tentang hukum wajib dan sunah nya berkorban (saat lebaran Haji) bahkan dalam bukunya Fiqh Islam karangan H. Sulaiman Rasjid hal-476 disebutkan dapat diqiaskan (disamakan) dengan denda meninggalkan wajib haji seorang muslim haruslah berkorban. Tentunya yang menjadi persoalan umat islam adalah mana yang lebih utama apa memposisikan dirinya sebagai wajib atau sunah, setelah mengetahui ilmunya maka tentunya dikembalikan kepada keimanan masing-masing. Akan tetapi sebagai bahan renungan seandainya harga dari seekor kambing adalah Rp 2 juta maka tentunya dengan management keuangan yang baik seorang muslim akan menabung yang nilainya Rp. 167 ribu per bulannya ini jika menabung setahun sekali. Akan tetapi jika dua tahun sekali maka perbulannya Rp 80 ribu per bulan. Tentunya akan sangatlah mudah mengapa coba kita bandingankan bangsa Indonesia sekitar 75% masyarakatnya perokok maka hal ini sangatlah tidak beralasan jika tidak mampu berkurban mengapa??? Coba kalau sehari menghabiskan satu bungkus rokok seharga Rp.20,000 maka setahun terkumpul Rp. 7,2 juta (Wah bisa beli minimal 3 kambing) padahal Rokok hukumnya minimal makruh (maksimal haram), artinya kalau bicara perbandingan tentunya harus mendahulukan yang wajib, sunah baru yang makruh. Bersegeralah mengisab diri sebelum dihisab diyaumil akhir atas ketidak adilan dalam porsi rejeki yang Allah berikan untuk hal-hal yang jelas-jelas tidak berguna seperti contoh diatas. Ataukah kita tidak mampu menabung hanya Rp 90 ribu/bulan untuk setiap dua tahun melaksanakan Kurban ????atau sedikit berkurban merokok nya dikurangi hanya 1/3 bungkus saja (tetap merokok 2/3 bungkus) sambil belajar menghilangkan rokok kedepannya.

Adapun bagi yang sudah mampu untuk berkurban tentunya juga harus meluruskan niatnya karena perintah Allah semata, bukan karena gengsi sudah dipanggil pak/bu Haji, atau mencari popularitas semata, dimana daging dan darahnya tidak akan sampai kepada Allah akan tetapi hanya ketakwaannya lah yang akan dinilai Allah, hal ini sangatlah ditegaskan dalam firmanNya :

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik (Qs. Al Hajj 22 : 37).

Sudah seberapa jauhkah kita berkurban untuk Agama Allah dengan memenuhi perintah dan laranganNya. Marilah bersibuk-sibuk diri dengan sesuatu yang pasti kita bawa yaitu amal kebajikan. Dan janganlah bersibuk-sibuk diri yang pasti kita tinggalkan yaitu kemaksiatan atau pelanggaran perintah dan larangan Allah.

Wallahu a’lam bish-shawab
Renungan HAti
Abu Alby H.Bambang Wijonarso

Read More..

Sabtu, 31 Oktober 2009

Haji Mabrur (Bagian ke-2)

Oleh : Bambang Wijonarso

Al Hajjulmabrur laysalahu jazaa un illaljannah, Rosulullah SAW bersabda dari Abu Hurairah r.a Dan tidak ada pahala bagi haji mabrur kecuali surga (Muttafaq alahi).

Istilah “Mabrur” secara harfiah dapat diterapkan pada berbagai jenis ibadah dalam agama Islam. Namun istilah ini sangatlah popular untuk ibadah haji.
Kata “mabrur” sendiri secara etimologis berasal dari kata Barra-yabirru-birrun yang artinya bebuat baik atau patuh dan kata birrun yang merupakan kata benda dari kata itu yang artinya orang yang mendapatkan kebaikkan atau menjadi baik. Maka haji mabrur adalah haji yang mendapatkan kebaikkan, atau haji yang pelakunya menjadi baik.

Ibnu Umar r.a. berkata “Seorang haji yang paling baik adalah yang niatnya paling ikhlas, biayanya paling bersih, dan keyakinannya (aqidah & tauhid) paling baik.
Oleh sebab itu tentunya mendapatkan predikat haji mabrur sangatlah tidak gampang dan sembarangan, tidak semudah kebanyakan orang yang dengan bangga sepulang tanah suci dipanggil pak atau ibu Haji tapi prilakunya jauh dari tuntunan Allah dan Rosul-nya.

Beberapa kiat-kiat yang harus ditempuh setiap calon jemaah haji untuk meraih predikat haji mabrur. Mereka harus mempersiapkan diri sejak yaitu :

Pertama faktor “Niat”Orang yang melaksanakan haji niatnya bermacam-macam ada yang mencari popularitas , berdagang, berdo’a didepan ka’bah dari masalah yang dihadapi. Niat yang ikhlas karena mencari ridho Allah sangatlah penting, dan hal ini tidak dapat diciptakan dengan mudah akan tetapi harus diupayakan, diciptakan, dan berdo’a minta pertolongan Allah agar niatnya menjadi sebuah keikhlasan. Seluruh ulama sepakat bahwa niat 100% adalah pekerjaan hati sehingga pelaku calon haji harus merekondisikan atau membersihkan seluruh penyakit hati (Iri, dengki, sombong, hasut, egois dsb) dan modal utamanya adalah ilmu agama Islam, keimanan dan ketakwaan seseorang. Sehingga seberapa besar modal tersebut sangatlah berpengaruh untuk mengatasi penyakit hati. Barometer kebenaran dari sebuah “niat” dapat dilihat sepulangnya dari Haji apakah lebih taat atau melanggar perintah serta larangan Allah dan Rosul-Nya? Dari Amirul Mu’minin, (Abu Hafsh atau Umar bin Khottob rodiyallohu’anhu) dia berkata: ”Aku pernah mendengar Rosululloh shollallohu’alaihi wassalam bersabda: ’Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang berhijrah karena Alloh dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Alloh dan Rosul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena (untuk mendapatkan) dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang menjadi tujuannya (niatnya).’” (Diriwayatkan Bukhori dan Muslim).

Kedua, faktor harta.Dimana bagi calon peserta haji juga harus memperhatikan kehalalan dan bagaimana memperolehnya ?. Mengeluarkan bekal dijalan haji merupakan pengeluaran biaya dijalan Allah. Satu dirham dilipatgandakan pahalanya menjadi tujuh ratus dirham. Banyak kejadian peserta calon haji ada yang biaya (Harta) nya diperoleh secara aneh dan luar biasa subhanallah..!! misalkan ada sebagian yang mendapat gratisan dari salah satu instansi baik pemerintah maupun swasta, atau mendapat biayanya dari saudara /teman /kerabat, atau mendapatkan warisan, ada yang benar-benar menabung sedikit demi sedikit (dari perhitungan akan berangkat 10 tahun lagi tapi ternyata realisasinya 3 tahun berangkat haji),serta ada yang mengorbankan hartanya (jual Rumah, Mobil dsb) dan masih banyak cerita lain akan tetapi yang pasti kesemuanya itu jalan/syariat atas ketetapan yang telah Allah tentukan (Takdir).

Dan yang sangat juga mempilukan adalah tidak ada aturan khusus yang berangkat haji harus Ulama, Ustad, Ahli ibadah, kaya, miskin, tua-muda dsb, hal ini membuktikan bahwa keberangkatan haji seseorang adalah hak prerogratif dari Allah SWT. Bayangkan dari 1,000 orang hanya dipilih satu sebagai tamu Allah SWT di tanah Suci (Kouta dari Saudi Arabia jumlah penduduk dibagi seribu orang). Bagaimana orang yang sudah siap dengan hartanya tapi belum dipanggil Allah begitu pula berlaku bagi seorang yang siap dari sisi ilmu agamanya (Ustad/Ulama) inilah tanda hak prerogratif Allah. Tentunya semua keadaan tersebut diatas sebagai wujud untuk calon haji yang sudah dipanggil Allah mengucapkan terima kasih atas nikmat –Nya dan sebagai modal motivasi memanfaatkan agar diperoleh haji mabrur.orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dgn harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (Qs. At Taubah 9:20)

Ketiga, Ilmu manasik haji.Sejak awal seseorang sudah berniat untuk berhaji, dan menyisihkan uang yang didapat, maka mulai saat itulah yang bersangkutan mulai mengubah sikap prilakunya untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dengan melaksanakan perintah dan larangannya yang tentunya melalui belajar baik membaca, mengkaji mengamalkan dengan bimbingan guru/ustad.
Menggapai haji mabrur itu tidak cukup dengan mendalami masalah haji dalam waktu yang singkat, manasik haji itu hanya sekedar memantapkan kembali, bukan baru mulai mengenal masalah haji. Dengan manasik haji diharapkan calon jemaah haji akan bisa memaknai dan memahami nilai-nilai filosofos yang terkandung disetiap gerakan yang dilakukannya. Setiap calon haji juga harus tahu syarat, rukun dan wajib haji jangan sampai mengejar yang sunah justru melupakan yang wajib, apalgi rukun haji. Meninggalkan yang wajib maka harus membayar dam (denda), akan tetapi kalau meninggalkan rukun haji maka haji nya tidak sah dan harus mengulang ditahun berikutnya.

Dari ketiga kiat-kiat tersebut diatas sebagai bekal yang harus dibawa dan insyaAllah sepulangnya dari tanah suci akan mendapat predikat Haji mabrur bukan hanya sekedar panggilan pak atau ibu haji semata.

Wallahu a’lam bish-shawab.
Renungan HAti
H. Bambang Wijonarso

Read More..

Jumat, 30 Oktober 2009

Haji Mabrur (Bagian ke-3)

Oleh :H.Bambang Wijonarso

Abu Hurairah r.a. berkata, "Nabi ditanya, 'Amal apakah yang lebih utama?' Beliau bersabda, 'Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.' Ditanyakan, 'Kemudian apa?' Beliau bersabda, 'Berjuang di jalan Allah.' Ditanyakan, 'Kemudian apa?' Beliau bersabda, 'Haji yang mabrur.'" (Hadis Riwayat Bukhori dan Muslim).

Buah haji mabrur itu ada perubahan yang tampak jelas dalam kehidupan sehari-harinya dan itu tidak hanya berdampak pada dirinya, melainkan juga bagi orang lain. Dia memancarkan manfaat bagi dirinya maupun orang lain. Orang yang hajinya mabrur itu cirinya setelah pulang haji ada perubahan dalam dirinya menjadi lebih baik. Maksiat dia tinggalkan, bahkan perbuatan yang tidak bermanfaatpun dia tinggalkan. Dulu ibadahnya minimalis atau kurang lengkap sekarang lengkap selain berupaya untuk istiqomah. Orang yang hajinya mabrur selalu meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadahnya seperti ibadah nawafil (sholat rawatibnya atau qobliyah dan ba’diyah , sholat tahajudnya, dhuhanya, puasa senen-kemis, dan sedekah, interaksi dengan Al Qur'an dsb) bahkan haus akan ilmu agama dan amaliahnya serta banyak bertobat dengan banyak memperbaiki diri. Bagi orang yang mendapatkan haji mabrur contoh dalam hal sholat fardhu selalu dijaga tepat pada waktunya, tidak hanya sholat sendiri melainkan selalu sholat fardhu berjamaah dimasjid (bgi laki-laki), bukan hanya sholat untuk menggugurkan kewajiban saja tapi sudah meningkat merupakan kebutuhan hidupnya..

Dapat disimpulakan orang yang mendapatkan haji mabrur minimal ada empat kriteria :
Pertama, Sepulang dari haji seluruh rangkaian ibadah selama ditanah suci, dia bawa kembali ketanah air terutama sholat lima waktu berjamaah dimasjid. Sampai sebelum adzan terdengar sudah bersiap-siap untuk sholat berjamaah dimasjid.(bukan dirumah bagi laki-laki) untuk wanita jika dapat menjaga fitnah sah-sah saja.

Kedua, selalu berusaha menciptakan kebaikkan baik untuk dirinya, keluarganya maupun orang lain, apapun yang dihadapi dalam hidup ini merupakan ladang kebaikan/amal pada dirinya, dikarenakan selalu merasa dirinya selalu diawasi oleh Allah (ihsan).
Ketiga, Sepulang dari haji selalu haus akan mencari ilmu agama baik melalui membaca, mengkaji dan mengamalkan dan yang ter penting upaya maksimal untuk konsisten/istiqomah sehingga proses perintah dan larangan Allah dia jalankan dengan kuantitas dan kualitas yang maksimal sesuai dengan kemampuannya.

Keempat, Sepulang dari haji dalam penghargaannya terhadap “Waktu” sangat efisien yaitu dengan Munajad (selalu berdoa), Muhasabah (Introspeksi diri), Tafakur (Melihat kebesaran Allah) dan yang terakhir adalah Maisya (Duniawi), keempat waktu ini selalu seimbang dilaksanakan sehari semalam dua puluh empat jam, bahkan tidurnya orang yang sepulang dari haji selalu bertanya apakah besok aku masih dibangunkan Allah?, begitu pula saat dia bekerja apakah Allah tidak mengetahui kalau saya berbuat salah?

Bahkan Rosulullah bersabda untuk orang yang mendapat predikat haji mabrur akan diampuni dosanya seperti bayi yang baru dilahirkan yaitu dari :
Abu Hurairah ra. Berkata Aku telah mendengar Rosulullah saw bersabda Barangsiapa yang melaksanakan ibadah haji tidak berbuat keji dan tidak berbuat fasiq, maka ia akan kembali bersih dari dosanya, bagaikan bayi yang baru lahir dari kandungan ibunya (HR Bukhari dan Muslim).

Bagi yang belum haji tentunya ini sebagai motifasi untuk meraih Surga nya Allah serta salah satu perintah Rukun Islam yang kelima, dan bagi yang sudah menunaikan ibadah haji tentunya ini sebagai pengingat dan nasehat agama agar jika sudah memperoleh predikat haji mabrur harus dipertahankan dan minta kepada Allah agar diberi kekuatan/istiqomah untuk melaksanakan perintah dan larangan Allah serta Rosul Nya.
Bagi yang tidak sesuai dengan kriteria haji mabrur cepat-cepatlah bertobat dan kembali kepada hakekat kriteria haji mabrur (Allah maha pemberi tobat).
Bagi yang sama sekali tidak tergerak hatinya untuk melaksanakan haji mudah-mudahan artikel ini salah satu sebab diturunkannya hidayah Allah. Kebenaran datang dari Allah SWT dan RosulNya sedang kesalahan terdapat dari kebodohan penulis, saya mohon ampun kepada Allah dan maaf kepada seluruh jamaah Renungan HAti.

Wallahu a’lam bish-shawab
Renungan HAti
H. Bambang Wijonarso

Read More..

Jumat, 23 Oktober 2009

Haji (Bagian ke-1)

by : H. Bambang Wijonarso
email : bwmbang_wijonarso@yahoo.com


Syeihul muslim dari mesir Dr. Yusuf Qordowi, mengatakan bahwa pelaksanaan ibadah magdho umat islam ada beberapa penekanan khusus diantaranya “ibadah dzikir” (Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu akbar dsb) penekanannya pada “lisan”, untuk “ibadah sholat” penekanannya pada “gerak”, dan “ibadah Zakat, Infaq dan Sadaqah penekanannya pada harta, serta untuk “ibadah puasa” penekanannya pada proses pengendalian diri (Imsak), sedangkan untuk “Ibadah Haji” penekanannya sekaligus yaitu lisan, gerak, harta dan pengendalian diri dalam waktu yang bersamaan dengan durasi yang cukup lama 18 s/d 40 hari berada ditanah suci.

Bagaimana hukum asal dari ibadah haji adalah rukun islam yang kelima akan tetapi ada penekanan khusus yaitu jika mampu (Istithoah) hal ini difirmankan Allah dalam Al Qur’anul qarim :

mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah[216]. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Qs. Al Imraan 3:97).

Kemampuan (Istithoah) disini minimal ada empat hal jika diantara satu tidak ada maka tidak dapat terealisir kemampuannya yaitu mampu dari ilmu manasik haji, harta, jasmani dan rohani serta kendaraan. Sebagai contoh pada tahun 2007 pemberangkatan haji Indonesia hampir mengalami kegagalan dimana saat itu ada pelarangan pesawat Garuda Indonesia mendarat di Saudi Arabia, saat itu indonesia merencanakan tidak memberangkatkan haji alhamdulillah dengan rahmat Allah perundingan kedua Negara membuahkan hasil yang disetujuinya pendaratan Garuda Indonesia dengan persyaratan yang minimal. Padahal tahun itu ada kurang lebih 200 ribu ibadah haji Indonesia sudah siap dari ilmu manasik haji, harta, jasmani dan rohani akan tetapi kendaraan (pesawat) sedikit bermasalah. Adapun persyaratan lain adalah harus Islam, Baliq, Merdeka (bukan hamba sahaya), Berakal (tidak gila) dan perjalanan aman.

Dari ayat tersebut diatas ada ancaman bagi yang mengingkari kewajiban haji yaitu berupa pelanggaran kepada perintah Allah (termasuk Dosa besar/kemaksiatan), begitu pula disabdakan Rosulullah Barangsiapa memiliki bekal dan kendaraan (biaya perjalanan) yang dapat menyampaikannya ke Baitillahil haram dan tidak menunaikan (ibadah) haji maka tidak mengapa baginya wafat sebagai orang Yahudi atau Nasrani. (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

Hadis tersebut mengartikan kematiannya tidak dalam keadaan islam. Perhatian buat umat islam kemampuan haji harus diukur dari kacamata Allah dan Rosulnya……akan tetapi fenomena dimasyarakat sangatlah berbeda, yang mampu biaya beralasan tunggu hidayah Allah, atau pekerjaan tidak dapat ditinggal, masih ada yang lebih prioritas, serta yang tidak mampu akan beralasan, tunggu biaya untuk naik haji, tunggu tabungannya cukup, tunggu rejeki nomplok datang baru pergi haji dsb. Hampir seluruh orang yang telah melaksanakan haji memberikan resepnya naik haji adalah luruskan dan kuatkan setiap saat “NIAT” dan mau mencoba sedikit saja “berkorban” untuk kepentingan Allah.

Reward orang yang melaksanakan haji tidak ada balasannya kecuali surganya Allah hal ini disabdakan Rosulullah dari Abu Hurairah r.a Dan tidak ada pahala bagi haji mabrur kecuali surga (Muttafaq alahi).
Akan tetapi hadis tersebut mempunyai konsukuensi yang sangat penting dalam Arti Haji MABRUR adalah haji yang diterima Allah, dan hal ini ditandai dengan saat seluruh pelaksanaan prosesi haji selama ditanah suci dilakukan dengan kualitas dan kuantitas yang optimal (Ilmu manasik Haji, Jasmani dan rohani, serta harta) dan yang lebih penting sepulang dari haji peningkatan ketaatannya kepada Allah sangat tinggi sehingga bermanfaat untuk dirinya, keluarganya, dan orang lain, banyak mengorbankan untuk kepentingan agama, selalu senang dengan berlomba-lomba dengan kebaikkan, tidak senang dengan hal-hal yang tidak berguna, Visi dan misinya mencari ridhonya Allah, kehidupannya selalu berpedomanan pada tuntunan agama (Al Qur’an dan Hadis).

Adapun yang sepulang dari haji semangkin jauh dari Allah dan tidak merubah dirinya dari berbohong, namimah, ghibah, fitnah, korupsi, dengki, iri, hasut, dan kemaksiatan yang lainnya, malas pergi ke masjid, tidak belajar agama lewat majelis ta’lim/ilmu, visi dan misinya hanya mengejar duniawi cuek negeri akherat dsb, indikator tersebut diatas dikatakan Haji MARDUD (haji yang ditolak Allah).

Kalau kita mau infestasi pahala pun kita dapat berhitung jika di Masjid di madinah saat sholat arbain delapan hari (40 waktu) kita mendapatkan minimal 40 ribu pahala,dan jika diMasjidil Haram minimal 20 hari (100 waktu ) kita mendapatkan pahala minimal 10 juta pahala……jadi total mendapatkan minimal 10 juta 40 ribu pahala (Perhitungan ini sebagai motivasi manusia)…….. karna hal ini disabdakan rosulullah saw Dari Ibnu al-Zubair Radliyallaahu 'anhu bahwa: "Sekali sholat di masjidku ini lebih utama daripada 1000 kali sholat di masjid lainnya kecuali Masjidil Haram, dan sekali sholat di Masjidil Haram lebih utama daripada 100 kali sholat di masjidku ini." Riwayat Ahmad. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.

Sebagai pengingat memori kita dimana Islam artinya adalah berserah diri tunduk dan patuh kepada Allah SWT, seberapa besar kita sudah melaksanakan ketaatan kepada Allah dan RosulNya??? Sehingga melahirkan Niat yang kokoh sehingga terbentuk pengorbanan apapun untuk melaksanakan perintahnya salah satunya rukun islam yang kelima yaitu ibadah haji. Sering-seringlah berintrospeksi apakah ketidakmampuan pergi haji karena jawaban nafsu belaka! berhisablah dengan harta yang kita miliki sebelum Allah menghisabnya di yaumil akhir (sudah tidak berguna).


Wallahu a’lab bish-shawab
Renungan HAti
Bambang Wijonarso

Read More..

Sabtu, 17 Oktober 2009

Haji (Bagian ke-1)

Oleh : H. Bambang Wijonarso

Syeihul muslim dari mesir Dr. Yusuf Qordowi, mengatakan bahwa pelaksanaan ibadah magdho umat islam ada beberapa penekanan khusus diantaranya “ibadah dzikir” (Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu akbar dsb) penekanannya pada “lisan”, untuk “ibadah sholat” penekanannya pada “gerak”, dan “ibadah Zakat, Infaq dan Sadaqah penekanannya pada harta, serta untuk “ibadah puasa” penekanannya pada proses pengendalian diri (Imsak), sedangkan untuk “Ibadah Haji” penekanannya sekaligus yaitu lisan, gerak, harta dan pengendalian diri dalam waktu yang bersamaan dengan durasi yang cukup lama 18 s/d 40 hari berada ditanah suci.

      Bagaimana hukum asal dari ibadah haji adalah rukun islam yang kelima akan tetapi ada penekanan khusus yaitu jika mampu (Istithoah) hal ini difirmankan Allah dalam Al Qur’anul qarim :

mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah[216]. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Qs. Al Imraan 3:97).

Kemampuan (Istithoah) disini minimal ada empat hal jika diantara satu tidak ada maka tidak dapat terealisir kemampuannya yaitu mampu dari ilmu manasik haji, harta, jasmani dan rohani serta kendaraan. Sebagai contoh pada tahun 2007 pemberangkatan haji Indonesia hampir mengalami kegagalan dimana saat itu ada pelarangan pesawat Garuda Indonesia mendarat di Saudi Arabia, saat itu indonesia merencanakan tidak memberangkatkan haji alhamdulillah dengan rahmat Allah perundingan kedua Negara membuahkan hasil yang disetujuinya pendaratan Garuda Indonesia dengan persyaratan yang minimal. Padahal tahun itu ada kurang lebih 200 ribu ibadah haji Indonesia sudah siap dari ilmu manasik haji, harta, jasmani dan rohani akan tetapi kendaraan (pesawat) sedikit bermasalah. Adapun persyaratan lain adalah harus Islam, Baliq, Merdeka (bukan hamba sahaya), Berakal (tidak gila) dan perjalanan aman.

Dari ayat tersebut diatas ada ancaman bagi yang mengingkari kewajiban haji yaitu berupa pelanggaran kepada perintah Allah (termasuk Dosa besar/kemaksiatan), begitu pula disabdakan Rosulullah Barangsiapa memiliki bekal dan kendaraan (biaya perjalanan) yang dapat menyampaikannya ke Baitillahil haram dan tidak menunaikan (ibadah) haji maka tidak mengapa baginya wafat sebagai orang Yahudi atau Nasrani. (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

Hadis tersebut mengartikan kematiannya tidak dalam keadaan islam. Perhatian buat umat islam kemampuan haji harus diukur dari kacamata Allah dan Rosulnya……akan tetapi fenomena dimasyarakat sangatlah berbeda, yang mampu biaya berkata tunggu hidayah Allah, atau pekerjaan tidak dapat ditinggal, masih ada yang lebih prioritas, serta yang tidak mampu akan berkata, tunggu biaya untuk naik haji, tunggu tabungannya cukup, tunggu rejeki nomplok dating baru pergi haji dsb. Hampir seluruh orang yang telah melaksanakan haji dengan baik memberikan resepnya naik haji adalah luruskan dan kuatkan setiap saat “NIAT” dan coba-coba untuk sedikit saja “berkorban” untuk kepentingan Allah.

       Reward orang yang melaksanakan haji tidak ada balasannya kecuali surganya Allah hal ini disabdakan Rosulullah dari Abu Hurairah r.a Dan tidak ada pahala bagi haji mabrur kecuali surga (Muttafaq alahi). Akan tetapi hadis tersebut mempunyai konsukuensi yang sangat penting dalam Arti Haji MABRUR adalah haji yang diterima Allah, dan hal ini ditandai dengan saat seluruh pelaksanaan prosesi haji selama ditanah suci dilakukan dengan kualitas dan kuantitas yang optimal (Ilmu manasik Haji, Jasmani dan rohani, serta harta) dan yang lebih penting sepulang dari haji peningkatan ketaatannya kepada Allah sangat tinggi sehingga bermanfaat untuk dirinya, keluarganya, dan orang lain, banyak mengorbankan untuk kepentingan agama, selalu senang dengan berlomba-lomba dengan kebaikkan, tidak senang dengan hal-hal yang tidak berguna, Visi dan misinya mencari ridhonya Allah, kehidupannya selalu berpedomanan pada tuntunan agama (Al Qur’an dan Hadis).

Adapun yang sepulang dari haji semangkin jauh dari Allah dan tidak merubah dirinya dari berbohong, namimah, ghibah, fitnah, korupsi, dengki, iri, hasut, dan kemaksiatan yang lainnya, malas pergi ke masjid, tidak belajar agama lewat majelis ta’lim/ilmu, visi dan misinya hanya mengejar duniawi cuek negeri akherat dsb, indikator tersebut diatas dikatakan Haji MARDUD (haji yang ditolak Allah).

     Kalau kita mau infestasi pahala pun kita dapat berhitung jika di Masjid di madinah saat sholat arbain delapan hari (40 waktu) kita mendapatkan minimal 40 ribu pahala,dan jika diMasjidil Haram minimal 20 hari (100 waktu ) kita mendapatkan pahala minimal 10 juta pahala……jadi total mendapatkan minimal 10 juta 40 ribu pahala (Perhitungan ini sebagai motivasi manusia)…….. karna hal ini disabdakan rosulullah saw Dari Ibnu al-Zubair Radliyallaahu 'anhu bahwa: "Sekali sholat di masjidku ini lebih utama daripada 1000 kali sholat di masjid lainnya kecuali Masjidil Haram, dan sekali sholat di Masjidil Haram lebih utama daripada 100 kali sholat di masjidku ini." Riwayat Ahmad. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.

    Sebagai pengingat memori kita dimana Islam artinya adalah berserah diri tunduk dan patuh kepada Allah SWT, seberapa besar kita sudah melaksanakan ketaatan kepada Allah dan RosulNya??? Sehingga melahirkan Niat yang kokoh sehingga terbentuk pengorbanan apapun untuk melaksanakan perintahnya salah satunya rukun islam yang kelima yaitu ibadah haji. Sering-seringlah berintrospeksi apakah ketidakmampuan pergi haji karena jawaban nafsu belaka! berhisablah dengan harta yang kita miliki sebelum Allah menghisabnya di yaumil akhir (sudah tidak berguna).


Wallahu a’lab bish-shawab
Renungan HAti
Bambang Wijonarso



Read More..