Tampilkan postingan dengan label Ibadah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibadah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Juli 2015

Sebelas Type Suami



By        :  Abu Alby Bambang Wijonarso
Blog     :  http//:dakwahrenunganhati.blogspot.com
Email   :  bambang.wijonarso@yahoo.com

         Dalam Kitab Syarah Hadis Ummu Zar’a, dimana ada dari sebelas penjuru negri Arab, sebelas wanita curhat dan ber-ghibah kepada ummul mukminin, ummu Abdillah, Aisyah ra. Masing-masing wanita tersebut mengungkapkan prilaku suami terhadap istrinya. Semua penuturan para istri yg tidak dikenali oleh Aisyah ra tersebut bahasanya berbentuk syair-syair arab , disinilah nilai kepahaman/kecerdasan Aisyah ra dalam menterjemahkan (menurut ulama Aisyah ra hafal 18 ribu syair2 arab yang ini akan mempermudah da’wah beliau). Adapun ber-ghibah diantaranya : (Note : Ini termasuk ghibah yang diperbolehkan, karna ada kaidah boleh berghibah yang kita tidak mengenalnya untuk kepentingan umat).
1.      Wanita Pertama, mengungkapkan bahwa suamiku seperti daging onta kurus, yang berada diatas puncak gunung terjal, susah untuk dinaiki gunung tersebut , sudah diatas malas untuk membawa pulang daging tersebut, maksudnya adalah “SUAMI YANG PELIT terhadap istrinya. Setiap istrinya membutuhkan sesuatu yg wajib maka harus merayu suaminya itupun diberikannya hanya sedikit sekali.
Hadis : Dari Abu Hurairah ra berkata bahwa Rosulullah saw bersabda,” Satu dinar yang kamu nafkahkan dijalan Allah , satu dinar yang kamu nafkahkan untuk memperdeka kan budak, satu dinar yang kamu berikan kepada fakir miskin dan satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu, maka yang paling besar pahalanya ialah satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu (HR Muslim).
2.      Wanita Kedua, berbelok dari rencana awal, saya tidak akan membongkar rahasia, karena saya takut ditinggalkan, kalaupun saya akan buka maka saya akan buka sampai urat-urat yg ada dileher (terbuka) maupun yang ada diperut (tersembunyi). Maksudnya adalah Suami yang sangat dzolim kepada istrinya ia sangat takut dicerai karna istrinya tidak siap.

Allah berfirman untuk para suami : ”Dan bergaullah kalian (para suami) dengan mereka (para istri) secara patut.” (An-Nisa`: 19).
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat di atas menyatakan: “Yakni perindah ucapan kalian terhadap mereka (para istri) dan perbagus perbuatan serta penampilan kalian sesuai kemampuan. Sebagaimana engkau menyukai bila ia (istri) berbuat demikian, maka engkau (semestinya) juga berbuat yang sama.

3.      Wanita ke-tiga, Suamiku tinggi dan kalau saya ngomong dicerai tapi kaya diam saya terkatung-katung. Maksudnya adalah suami yang angkuh, setiap permasalahan yang timbul istrinya tidak diberi kesempatan berbicara dan selalu dalam posisi yang salah.

Hadis : Dari 'Aisyah Radhiyallahu 'anha meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda : sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku" [HR. At Tirmidzi no: 3895 dan Ibnu Majah no: 1977 dari sahabat Ibnu ‘Abbas. Dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah no: 285].

4.      Wanita ke-empat, Suamiku seperti udara malam hari di-pegunungan “Tihima”, tidak panas dan tidak dingin, tidak menakutkan dan tidak membosankan. Maksudnya artinya suamiku semuanya biasa-biasa saja termasuk cintanya, dalam prilaku tidak pernah marah dan tidak pernah melarang, sulit berkomunikasi dan terkesan pendiam atau dingin.
Hadis : Ibnu Umar ra menerangkan bahwa Rosulullah saw bersabda : kalian adalah pemimpin dan kalian akan dimintai pertangung jawaban atas kepemimpinan kalian. Seorang penguasa adalah pemimpin, seorang suami adalah pemimpin seluruh keluarganya. Begitu pula seorang istri pemimpin atas rumah suami dan anaknya. Kalian adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinan kalian (HR Mutafaqun alaihi).
5.      Wanita Kelima, Suamiku kalau masuk rumah seperti macan, kalu keluar seperti singa dan tidak bertanya2 apa yang dia dapati. (macan menangkap mangsanya santai saja sampai mangsanya lari, kalau singa penuh keseriusan dalam memangsa).
Hadis : “Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk. Dan sungguh bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah yang paling atasnya. Bila engkau ingin meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Dan jika engkau ingin bersenang-senang dengannya, engkau bisa bersenang-senang namun padanya ada kebengkokan.” (HR. Al-Bukhari no. 3331 dan Muslim no. 3632)           
               Menurut Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, Hadits ini menunjukkan keharusan berlaku lembut kepada wanita, bersikap baik terhadap mereka, bersabar atas kebengkokan akhlak dan lemahnya akal mereka. (Al-Minhaj, 9/299).
6.      Wanita ke-Enam. Suamiku kalau makan banyak menunya dan sangat banyak serta habis semua, dan kalau minum habis semua, kalau tidur pake selimut sendiri dan jarang membelai. Maksudnya suami yang Egois.
Allah berfirman : “Dan para istri memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang   ma’ruf.” (Al-Baqarah: 228).
7.      Wanita ke-Tujuh, Suamiku tidak kuat, lemah syawat dan bodoh, setiap penyakit dan aib ada pada dirinya dia memukul badanku dan wajahku. Maksudnya inilah istri yang paling menderita dan terdzolimi.

8.      Wanita ke-delapan, Suamiku sentuhannya sentuhan kelinci dan aromanya sangat harum baunya seperti aroma bunga. Maksudnya prilaku akhlaknya sangat baik kepada istri dan orang lain.

9.      Wanita ke-sembilan. Suamiku si Malik tahukah kalian siapakah si Malik, si Malik lebih baik dari pada yang anda prasangkakan. Dia punya onta yang kandangnya banyak akan tetapi pengembalanya sedikit (artinya sering berkurban), saat ontanya dibawa orang2 sangat senang ( karna pasti memperoleh daging sembilihannya). Kepada istri sikapnya lebih baik daripada kepada orang lain dan dermawan.

10.  Wanita ke-sepuluh. Suamiku rumahnya tinggi (rumahnya besar) sarung pedangnya panjang (orangnya tinggi besar), rumahnya sebagian banyak debu (sering memasak dalam jumlah banyak), rumahnya seperti tempat pertemuan (menjamu para tamunya).

11.  Wanita ke- sebelas bernama Ummu Zarrah, suamiku adalah abu zarrah, siapakah Abu Zarrah,  suamiku menjadikan telinga dan tanganku berat (perhisan emas) sering membuat hatiku gembira, Abu Zarra orang kaya raya, aku tidur sepuasnya (banyak pembantunya), Abu Zarrah mempunyai keluarga besar ibu-bapak, mertua, kerabat, keponakan, teman, dan pembantu yang selalu diperlakukan sangat baik sekali baik dari prilaku maupun financialnya. Akan tetapi suatu saat Abu Zarrah menceraikan zarrah istrinya dikarenakan abu zarrah menikah lagi dengan wanita lain. Kemudian zarrah tidak sakit hati dan kemudian menikah juga dengan orang yang lebih kaya dan lebih dermawan dan lebih berprilaku baik dari pada suami yang dulu (Abu zarrah). Keduanya rukun dan berbahagia.
      Kemudian dari cerita Aisyah ra kepada rosulullah saw, maka rosul berkata kepada Aisyah bahwa Sesungguhnya kedudukan aku dihatimu adalah seperti Abu Zarrah akan tetapi aku tidak menceraikan mu.
Penuturan wanita tentang suaminya yang nomer satu sampai tujuh adalah type prilaku akhlak suami yang buruk, sedangkan yang wanita yg kedelapan sampai sebelas adalah type prilaku akhlak suami yang baik, serta yang terbaik adalah yang ke sebelas.
Marilah kita iringi doa dalam kehidupan berumah tangga, agar dianugrahkan keluarga yang sakinah, mawaddah dan warrohma : “Wahai Robb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” ( QS. Al-Furqon [25]: 74 ).
Wallahu a’lam bish-shawab.                  

Read More..

Wanita Ahli Surga dan Ciri-cirinya



Wanita Ahli Surga Dan Ciri-Cirinya
Oleh Abu Alby Bambang wijonarso
Blog : dakwahrenunganhatiblogspot.com

Setiap insan tentunya mendambakan kenikmatan yang paling tinggi dan abadi. Kenikmatan itu adalah Surga. Di dalamnya terdapat bejana-bejana dari emas dan perak, istana yang megah dengan dihiasi beragam permata, dan berbagai macam kenikmatan lainnya yang tidak pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, dan terbetik di hati.

Dalam Al Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menggambarkan kenikmatan-kenikmatan Surga. Diantaranya Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

“(Apakah) perumpamaan (penghuni) Surga yang dijanjikan kepada orang-orang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?” (QS. Muhammad : 15)

“Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk Surga). Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah). Berada dalam Surga kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. Mereka berada di atas dipan yang bertahtakan emas dan permata seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda dengan membawa gelas, cerek, dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.” (QS. Al Waqiah : 10-21)

Di samping mendapatkan kenikmatan-kenikmatan tersebut, orang-orang yang beriman kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala kelak akan mendapatkan pendamping (istri) dari bidadari-bidadari Surga nan rupawan yang banyak dikisahkan dalam ayat-ayat Al Qur’an yang mulia, diantaranya :

“Dan (di dalam Surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli laksana mutiara yang tersimpan baik.” (QS. Al Waqiah : 22-23)

“Dan di dalam Surga-Surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan, menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni Surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.” (QS. Ar Rahman : 56)

“Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” (QS. Ar Rahman : 58)

“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al Waqiah : 35-37)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menggambarkan keutamaan-keutamaan wanita penduduk Surga dalam sabda beliau :

“ … seandainya salah seorang wanita penduduk Surga menengok penduduk bumi niscaya dia akan menyinari antara keduanya (penduduk Surga dan penduduk bumi) dan akan memenuhinya bau wangi-wangian. Dan setengah dari kerudung wanita Surga yang ada di kepalanya itu lebih baik daripada dunia dan isinya.” (HR. Bukhari dari Anas bin Malik radliyallahu 'anhu)

Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :

Sesungguhnya istri-istri penduduk Surga akan memanggil suami-suami mereka dengan suara yang merdu yang tidak pernah didengarkan oleh seorangpun. Diantara yang didendangkan oleh mereka : “Kami adalah wanita-wanita pilihan yang terbaik. Istri-istri kaum yang termulia. Mereka memandang dengan mata yang menyejukkan.” Dan mereka juga mendendangkan : “Kami adalah wanita-wanita yang kekal, tidak akan mati. Kami adalah wanita-wanita yang aman, tidak akan takut. Kami adalah wanita-wanita yang tinggal, tidak akan pergi.” (Shahih Al Jami’ nomor 1557)

Apakah Ciri-Ciri Wanita Surga

Apakah hanya orang-orang beriman dari kalangan laki-laki dan bidadari-bidadari saja yang menjadi penduduk Surga? Bagaimana dengan istri-istri kaum Mukminin di dunia, wanita-wanita penduduk bumi?

Istri-istri kaum Mukminin yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tersebut akan tetap menjadi pendamping suaminya kelak di Surga dan akan memperoleh kenikmatan yang sama dengan yang diperoleh penduduk Surga lainnya, tentunya sesuai dengan amalnya selama di dunia.

Tentunya setiap wanita Muslimah ingin menjadi ahli Surga. Pada hakikatnya wanita ahli Surga adalah wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Seluruh ciri-cirinya merupakan cerminan ketaatan yang dia miliki. Diantara ciri-ciri wanita ahli Surga adalah :

1. Bertakwa (Menjalankan perintah dan menjauhkan larangan Allah dan RosulNya).

2. Beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari kiamat, dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.

3. Bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadlan, dan naik haji bagi yang mampu.

4. Ihsan, yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat Allah, jika dia tidak dapat melihat Allah, dia mengetahui bahwa Allah melihat dirinya.
5. Ikhlas beribadah semata-mata kepada Allah, tawakkal kepada Allah, mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut terhadap adzab Allah, mengharap rahmat Allah, bertaubat kepada-Nya, dan bersabar atas segala takdir-takdir Allah serta mensyukuri segala kenikmatan yang diberikan kepadanya.

6. Gemar membaca Al Qur’an dan berusaha memahaminya, berdzikir mengingat Allah ketika sendiri atau bersama banyak orang dan berdoa kepada Allah semata.

7. Menghidupkan amar ma’ruf dan nahi mungkar pada keluarga dan masyarakat.

8. Berbuat baik (ihsan) kepada tetangga, anak yatim, fakir miskin, dan seluruh makhluk, serta berbuat baik terhadap hewan ternak yang dia miliki.

9. Menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, memberi kepada orang, menahan pemberian kepada dirinya, dan memaafkan orang yang mendhaliminya.

10. Berinfak, baik ketika lapang maupun dalam keadaan sempit, menahan amarah dan memaafkan manusia.

11. Adil dalam segala perkara dan bersikap adil terhadap seluruh makhluk.

12. Menjaga lisannya dari perkataan dusta, saksi palsu dan menceritakan kejelekan orang lain (ghibah).

13. Menepati janji dan amanah yang diberikan kepadanya.

14. Berbakti kepada kedua orang tua.

15. Menyambung silaturahmi dengan karib kerabatnya, sahabat terdekat dan terjauh.

Demikian beberapa ciri-ciri wanita Ahli Surga yang kami sadur dari kitab Majmu’ Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah juz 11 halaman 422-423. Ciri-ciri tersebut bukan merupakan suatu batasan tetapi ciri-ciri wanita Ahli Surga seluruhnya masuk dalam kerangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman :

“ … dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai sedang mereka kekal di dalamnya dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. An Nisa’ : 13).

Wallahu A’lam Bis Shawab.
Abu Alby Bambang Wijonarso

Read More..

Senin, 19 Desember 2011


Tahun Baru Masehi
By Abu Alby Bambang
Email :bambang.wijonarso@yahoo.com
 

       Bagaimana umat islam menyikapi pergantian tahun baru Masehi…? Islam sama sekali tidak mengenal tahun baru masehi sebagai sesuatu yang luar biasa, apalagi dengan penuh acara yang berhura-hura yang kita kenal dengan sebutan Malam Tahun Baru…baik berupa hiburan –hiburan yang dikemas dalam bentuk bermacam-macam misalnya acara di media electronik (TV) berupa Band,Tari-tarian, atau berkumpul bersama disuatu tempat begadang sampai pagi  intinya menghabiskan perpindahan  waktu dengan sesuatu yang sia-sia tidak ada manfaatnya sebagai bekal diakherat kelak bahkan  dapat melalaikan ingat kepada Allah.
    
      Tahun baru bagi umat islam 01 Muharram perjuangan Rosulullah dari Hijrahnya dari kota Mekah ke Kota Madinah sebagai titik awal penentuan kalender Islam. Tentunya umat islam harus mengambil pelajaran dari perjuangan Rosulullah sebagai landasan untuk mengapai kehidupan yang selamat didunia maupun diakherat kelak. Dijaman Rosulallah dan para sahabat sama sekali tidak pernah melakukan acara yang mengkhususkan pergantian tahun baik tahun Hijriah apalagi masehi.

      Bagaimana Islam menyikapi  segala aktifitas atau kegiatan berupa amalan-amalan yang khususnya mengenai pergantian tahun coba kita melihat firman Allah SWT :
                                               

      Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya (Qs. Al Israa (17) ayat 36). Dari ayat tersebut sudah jelas bahwa seluruh aktifitas hidup pada awalnya boleh dilakukan sampai ada dalil/hukum (Al Qur’an dan Hadis) yang melarangnya. Bahkan Allah melarang untuk mengikuti seluruh aktifitas yang lahir dari orang-orang Nasrani dan Yahudi yang difirmankan dalam Al Qur’an :”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim (Qs.Al Maa’idah/5 ayat 51).



Pemimpin ini maksudnya orang atau golongan, bahkan Negara sekalipun  yang dapat  mempengaruhi umat/rakyat/orang/negara  menjadikan lalai kepada seluruh aturan Allah dan rosulNya. Sehingga kita ketahui bahwa orang-orang kafir jangan diikuti :

    Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikit pun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh (Qs. Ibrahim 14 ayat 18).

    Bagaimana fenomena dimasyarakat dari tahun ketahun (Tahun Masehi) dibelahan bumi selalu diperingati pergantian tahun dengan bersenang-senang menghabiskan waktu sampai pagi, khususnya negara maju seperti di Eropa, Amerika dan Australia dari anak-anak, remaja, ibu-bapak serta kakek-nenek. Akan tetapi lucunya masyarakat yang nota bene negara berkembang dengan penuh kemiskinannya, sikaya dan simiskin semakin jelas bahkan 89% penduduknya mengaku beragama Islam mengikuti gaya-gaya mereka (Negara Maju), kejadian yang menimpa umat islam khususnya di Indonesia sudah disinyalir sejak jaman Rosulullah seribu empat ratus tahun yang lalu dengan hadisnya :” Barangsiapa meniru-niru tingkah laku suatu kaum maka dia tergolong dari mereka. (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

      Marilah tidak ada salahnya dalam pergantian tahun kita meng "EVALUASI DIRI" (muhasabah) seluruh amalan baik hati kita, pemikiran kita, aktifitas kita,dan prilaku kita sudah sesuai dengan tuntunan Allah dan RosulNya….makin dekat atau makin jauh …..makin taat atau makin bermaksiat…..makin sombong atau makin tawadu….makin tidak mau tahu atau selalu mau tahu tentang ilmu……makin peduli terhadap Agama atau makin Cuek…..Bagaimanakah jabatan kita….harta kita….pekerjaan kita….keluarga kita….usia kita….waktu luang kita….popularitas kita kesehatan kita, atau waktu muda kita sebagai sarana & prasarana yang Allah berikan untuk menciptakan amal soleh. sudahkah kita melakukan itu semua… Manusia yang Cerdas adalah mampu menahan nafsu buruknya, kemudian dia beramal soleh sebagai bekal dinegeri akherat…. Perlu diketahui Jabatan, harta dan popularitas hanya mengantarkan sampai sakaratul maut, kemudian istri/suami dan kerabat handai taulan hanya mengantarkan kita sampai liang kubur…..sedangkan amal sholeh akan mengantarkan kita menemui Allah aza wajala (sangat dibutuhkan saat di yaumil hisab).


Wallahu a’lam bish-shawab
Renungan Hati
Abu Alby Bambang


Read More..

Sabtu, 17 Desember 2011


Al Hajjulmabrur
Oleh : H. Abu Albi Bambang

Abu Hurairah r.a. berkata, "Nabi ditanya, 'Amal apakah yang lebih utama?' Beliau bersabda, 'Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.' Ditanyakan, 'Kemudian apa?' Beliau bersabda, 'Berjuang di jalan Allah.' Ditanyakan, 'Kemudian apa?' Beliau bersabda, 'Haji yang mabrur.'" (Hadis Riwayat Bukhori dan Muslim).


Al Hajjulmabrur laysalahu jazaa un illaljannah, Rosulullah SAW bersabda dari Abu Hurairah r.a Dan tidak ada pahala bagi haji mabrur kecuali surga (Muttafaq alahi).

Istilah “Mabrur” secara harfiah dapat diterapkan pada berbagai jenis ibadah dalam agama Islam. Namun istilah ini sangatlah popular untuk ibadah haji.
Kata “mabrur” sendiri secara etimologis berasal dari kata Barra-yabirru-birrun yang artinya bebuat baik atau patuh dan kata birrun yang merupakan kata benda dari kata itu yang artinya orang yang mendapatkan kebaikkan atau menjadi baik. Maka haji mabrur adalah haji yang mendapatkan kebaikkan, atau haji yang pelakunya menjadi baik.
Ibnu Umar r.a. berkata “Seorang haji yang paling baik adalah yang niatnya paling ikhlas, biayanya paling bersih, dan keyakinannya (aqidah & tauhid) paling baik.
Oleh sebab itu tentunya mendapatkan predikat haji mabrur sangatlah tidak gampang dan sembarangan, tidak semudah kebanyakan orang yang dengan bangga sepulang tanah suci dipanggil pak atau ibu Haji tapi prilakunya jauh dari tuntunan Allah dan Rosul-nya.


Buah haji mabrur itu ada perubahan yang tampak jelas dalam kehidupan sehari-harinya dan itu tidak hanya berdampak pada dirinya, melainkan juga bagi orang lain. Dia memancarkan manfaat bagi dirinya maupun orang lain. Orang yang hajinya mabrur itu cirinya setelah pulang haji ada perubahan dalam dirinya menjadi lebih baik. Maksiat dia tinggalkan, bahkan perbuatan yang tidak bermanfaatpun dia tinggalkan. Dulu ibadahnya minimalis atau kurang lengkap sekarang lengkap selain berupaya untuk istiqomah. Orang yang hajinya mabrur selalu meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadahnya seperti ibadah nawafil (sholat rawatibnya atau qobliyah dan ba’diyah , sholat tahajudnya, dhuhanya, puasa senen-kemis, dan sedekah, interaksi dengan Al Qur'an dsb) bahkan haus akan ilmu agama dan amaliahnya serta banyak bertobat dengan banyak memperbaiki diri. Bagi orang yang mendapatkan haji mabrur contoh dalam hal sholat fardhu selalu dijaga tepat pada waktunya, tidak hanya sholat sendiri melainkan selalu sholat fardhu berjamaah dimasjid (bgi laki-laki), bukan hanya sholat untuk menggugurkan kewajiban saja tapi sudah meningkat merupakan kebutuhan hidupnya..


Dapat disimpulakan orang yang mendapatkan haji mabrur minimal ada empat kriteria :
Pertama, Sepulang dari haji seluruh rangkaian ibadah selama ditanah suci, dia bawa kembali ketanah air terutama sholat lima waktu berjamaah dimasjid. Sampai sebelum adzan terdengar sudah bersiap-siap untuk sholat berjamaah dimasjid.(bukan dirumah bagi laki-laki) untuk wanita jika dapat menjaga fitnah sah-sah saja dimasjid.


Kedua, selalu berusaha menciptakan kebaikkan baik untuk dirinya, keluarganya maupun orang lain, apapun yang dihadapi dalam hidup ini merupakan ladang kebaikan/amal pada dirinya, dikarenakan selalu merasa dirinya selalu diawasi oleh Allah (ihsan).


Ketiga, Sepulang dari haji selalu haus akan mencari ilmu agama baik melalui membaca, mengkaji dan mengamalkan dan yang ter penting upaya maksimal untuk konsisten/istiqomah sehingga proses perintah dan larangan Allah dia jalankan dengan kuantitas dan kualitas yang maksimal sesuai dengan kemampuannya.


Keempat, Sepulang dari haji dalam penghargaannya terhadap “Waktu” sangat efisien yaitu dengan Munajad (selalu berdoa), Muhasabah (Introspeksi diri), Tafakur (Melihat kebesaran Allah) dan yang terakhir adalah Maisya (Duniawi), keempat waktu ini selalu seimbang dilaksanakan sehari semalam dua puluh empat jam, bahkan tidurnya orang yang sepulang dari haji selalu bertanya apakah besok aku masih dibangunkan Allah?, begitu pula saat dia bekerja apakah Allah tidak mengetahui kalau saya berbuat salah?


Bahkan Rosulullah bersabda untuk orang yang mendapat predikat haji mabrur akan diampuni dosanya seperti bayi yang baru dilahirkan yaitu dari : Abu Hurairah ra. Berkata Aku telah mendengar Rosulullah saw bersabda Barangsiapa yang melaksanakan ibadah haji tidak berbuat keji dan tidak berbuat fasiq, maka ia akan kembali bersih dari dosanya, bagaikan bayi yang baru lahir dari kandungan ibunya (HR Bukhari dan Muslim).


Bagi yang belum haji tentunya ini sebagai motifasi untuk meraih Surga nya Allah serta salah satu perintah Rukun Islam yang kelima, dan bagi yang sudah menunaikan ibadah haji tentunya ini sebagai pengingat dan nasehat agama agar jika sudah memperoleh predikat haji mabrur harus dipertahankan dan minta kepada Allah agar diberi kekuatan/istiqomah untuk melaksanakan perintah dan larangan Allah serta Rosul Nya.
Bagi yang tidak sesuai dengan kriteria haji mabrur cepat-cepatlah bertobat dan kembali kepada hakekat kriteria haji mabrur (Allah maha pemberi tobat).
Bagi yang sama sekali tidak tergerak hatinya untuk melaksanakan haji mudah-mudahan artikel ini salah satu sebab diturunkannya hidayah Allah. Kebenaran datang dari Allah SWT dan RosulNya sedang kesalahan terdapat dari kebodohan penulis, saya mohon ampun kepada Allah dan maaf kepada seluruh jamaah Renungan HAti.


Wallahu a’lam bish-shawab
Renungan HAti
H. Abu Albi Bambang

Read More..

Minggu, 04 Desember 2011

Hijryah-3 (Hari Asyura)


By : H. Abu Alby Bambang
Blog : dakwahrenunganhati.blogspot.com
      Bulan Muharam adalah bulan yang mulia, yang juga disebut awal bulan ditahun Hijriyah (alhamdulillah kita memasuki tgl. 9 Muharam 1433 Hijriah) yang mana ada beberapa keutamaan yaitu dianjurkannya puasa sunah. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda : “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram. Sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam”. (HR. Muslim).

Dapat juga diistilahkan dengan puasa sunah Hari Asyura berdasarkan hadist Ibnu Abbas ra berkata : “ Ketika Rasulullah saw. tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura’, maka beliau bertanya : "Hari apa ini?”. Mereka menjawab :“Ini adalah hari istimewa, karena pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, oleh karena itu Nabi Musa berpuasa pada hari ini. Rasulullah pun bersabda : "Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian“ . Maka beliau berpuasa dan memerintahkan sahabatnya untuk berpuasa.”(HR Bukhari dan Muslim). Begitu pula dalil yang menerangkan hari raya orang Yahudi adalah dari  Abu Musa ra., ia berkata: Hari Asyura' adalah hari yang dimuliakan orang-orang Yahudi dan dijadikannya sebagai hari raya. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: Berpuasalah kalian pada hari Asyura' tersebut. (Shahih Muslim No.1912). Begitulah sejarah dimana pada tanggal 10 Muharam orang-orang Yahudi berpuasa  sebagai hari yang disucikan, maka umat islam akan lebih berhak lagi mengingat penyelamatan kaum bani israil dari kejaran Fir’aun adalah Allah yang menyelamatkan.

       Apa keutamaan puasa pada hari Asyura’ ini ? Keutamaannya adalah barang siapa yang puasa dengan ikhlas pada hari Asyura’ tersebut, niscaya Allah swt akan menghapus dosa-dosanya yang telah dikerjakan selama satu tahun sebelumnya, sebagaimana yang tersebut di dalam hadist Abu Qatadah ra, bahwasanya seorang laki-laki pernah bertanya kepada Rasulullah saw tentang puasa ‘Asyura’, maka Rasulullah saw menjawab : “ Saya berharap dari Allah swt agar menghapus dosa-dosa selama satu tahun sebelumnya. “ ( HR Muslim ). Dosa-dosa yang dihapus disini adalah dosa-dosa kecil saja. Adapun dosa-dosa besar, maka seorang Muslim harus bertaubat dengan taubat nasuha, jika ingin diampuni oleh Allah swt. 
Adapun hikmah puasa Asyura’ adalah sebagai bentuk kesyukuran atas selamatnya nabi Musa as dan pengikutnya serta tenggelamnya Fir’aun dan bala tentaranya, sebagaimana yang tersebut dalam hadist Ibnu Abbas di atas.
       Bagaimana cara berpuasa pada hari Asyura ? Menurut keterangan para ulama dan berdasarkan beberapa hadist, maka puasa Asyura bisa dilakukan dengan empat pilihan : berpuasa tanggal 9 dan 10 Muharram, atau berpuasa pada tanggal 10 dan 11 Muharram atau berpuasa pada tanggal 9,10, dan 11 Muharram, atau berpuasa pada tanggal 10 Muharram saja, tetapi yang terakhir ini, sebagian ulama memakruhkannya, karena menyerupai puasanya orang-orang Yahudi.
Marilah kita memilih diantara tanggal tersebut yang insyaAllah jatuh pada hari Senin,Selasa, Rabu tanggal  5, 6 dan 7 Desember 2011. Cara berpuasa di atas berdasarkan hadist Ibnu Abbas ra, bahwasanya ia berkata : Ketika Rasulullah saw. berpuasa pada hari ‘Asyura’ dan memerintahkan kaum Muslimin berpuasa, para shahabat berkata : "Wahai Rasulullah ini adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nasrani". Maka Rasulullah pun bersabda :"Jika tahun depan kita bertemu dengan bulan Muharram, kita akan berpuasa pada hari kesembilan.“ (H.R. Bukhari dan Muslim). 
Begitu juga hadist Ibnu Abbas ra, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda : "Puasalah pada hari Asyura’, dan berbuatlah sesuatu yang berbeda dengan Yahudi dalam masalah ini, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.“ ( HR Ahmad dan Ibnu Khuzaimah ) Dalam riwayat Ibnu Abbas lainnya disebutkan : “Berpuasalah sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya.“
 Memang ada pemahaman dimasyarakat berpuasa dari tanggal 1 sampai dengan 10 Muharam akan tetapi saya belum menemukan dalil hadist nya.
Demikian mudahan diawal tahuun baru Islam akan mengawali dengan pertanda kebaikan yang banyak untuk dibulan-bulan yang akan datang.
 Wallahu a’lam bish-shawab
Renungan HAti
Bambang Wijonarso



Read More..