Rabu, 13 Maret 2019

Sunatullah



Renungan HAti
 
Ta'lim ba'da Subuh, Tafsir Ibnu Katsir (Qs.35 : 42 &  43).
Prof.DR.KH. Didin Hafidhuddin MSc.
10 Maret 2019

1. Pemberi peringatan
 
وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لَئِنْ جَاءَهُمْ نَذِيرٌ لَيَكُونُنَّ أَهْدَىٰ مِنْ إِحْدَى الْأُمَمِ ۖ فَلَمَّا جَاءَهُمْ نَذِيرٌ مَا زَادَهُمْ إِلَّا نُفُورًا                                                            
        Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah; sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat (yang lain). Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, maka kedatangannya itu tidak menambah kepada mereka, kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran) [Qs.35 : 42].

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala, Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan. (Q.S. Faathir [35]: 42) Yaitu Nabi Muhammad dengan membawa Kitab yang mulia (Al Qur’an) yang diturunkan kepadanya., maka kedatangannya itu tidak menambah kepada mereka, kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran) (Q.S. Faathir [35]: 42) Maksudnya, tidak menambahkan kepada mereka selain kekafiran di samping kekafiran yang telah ada pada diri mereka.

       Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan perihal kaum Quraisy dan orang-orang Arab, bahwa mereka bersumpah dengan menyebut nama Allah dengan sumpah yang sekuat-kuatnya sebelum Rasul diutus kepada mereka. Dan ini mencerminkan jika peringatan (berupa nasehat agama) biasanya dimasyarakat sangat sulit diterima, bereka berfikir dahulu untung ruginya sehingga akhirnya ada orang yang menerima peringatan itu dan ada yang menolaknya, ada yang semakin taat dan bahkan ada yang semakin jauh dari Allah. Hal ini semua merupakan “Sunatullah”.

2. Sunatullah.

      Sunatullah adalah aturan Allah yg bersifat pasti dan tetap hanya bentuknya berbeda. Sunnatullah (Arab:سنة الله) berarti tradisi Allah dalam melaksanakan ketetapanNya sebagai Rabb yang terlaksana di alam semesta atau dalam bahasa akademis disebut hukum alam. Sunnah atau ketetapan Allah antara lain: Selalu ada dua kondisi saling ekstrem (surga-neraka, benar-salah, baik-buruk, taat-tidak taat). Sudah menjadi Sunatullah dalam kehidupan ini selalu berbanding terbalik...ada yg beriman ada yg kufur, ada yg menerima ada yg menolak, ada yg melakukan amal baik dan mencegah kemungkaran sebaliknya ada yg melaksanakan kemungkaran dan selalu mencegah amal baik.

Manusia memilih sunatullah yg buruk diceritakan Firman Allah Qs 35 ( 103 sd 106)
 
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالأخْسَرِينَ أَعْمَالا Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" [Qs.18 : 103].

الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya [Qs.18 : 104].
 
أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat [Qs.18 : 105].

ذَلِكَ جَزَاؤُهُمْ جَهَنَّمُ بِمَا كَفَرُوا وَاتَّخَذُوا آيَاتِي وَرُسُلِي هُزُوًاDemikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok [Qs.18 : 106].

Mengapa mereka berbuat demikian?? hal ini dikarenakan Sombong dan Makar.

Dalil-dalil Sombong dan berbuat Makar sangat dimurkai Allah dan RosulNya.
·        

  •  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

           لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

   Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim no. 91).

An Nawawi rahimahullah berkata, “Hadist ini berisi larangan dari sifat sombong yaitu menyombongkan diri kepada manusia, merendahkan mereka, serta menolak kebenaran” (Syarah Shahih Muslim Imam Nawawi, II/163, cet. Daar Ibnu Haitsam).

·         Islam Melarang dan Mencela Sikap Sombong, Allah Ta’ala berfirman,

 وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي اللأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَجُوْرٍ
            Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman:18).
  
·     إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ Allah Ta’ala berfirman, Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri (QS. An Nahl: 23).
   
 
         Haritsah bin Wahb Al Khuzai’i berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ قَالُوا بَلَى قَالَ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ
“Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan takabbur(sombong).“ (HR. Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853).

Karena Makar, adalah perencanaan dan aktifitas jahat.
·     Makar adalah suatu perbuatan atau usaha untuk menentang atau membunuh seseorang yang tidak disenangi atau dianggap musuh/saingan. Baik dalam hal agama maupun keduniawian dengan cara tipu daya, tipu muslihat, atau perbuatan lainnya yang bertentangan dengan agamaIslam.

Apa jawaban Allah ?
Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri.

اسْتِكْبَارًا فِي الْأَرْضِ وَمَكْرَ السَّيِّئِ ۚ وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ ۚ 

Dalilnya,  karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. [Qs.35 : 43].


           Semoga kita selalu dibimbing Allah dalam menjalankan seluruh rangkaian kehidupan sehingga kita bisa meraih sunatullah nya Allah yang mudah melakukan kebaikan, ketaatan, kebenaran dan kedekatan yang semakin dekat setiap apa yang Allah dan RosulNya perintahkan dan mencegahnya.


Wallahu a'lam bish shawwab.
Abu alby Bambang Wijonarso.

Read More..

Kamis, 28 Februari 2019

Tadabbur Al Qur’an.

Renungan HAti.

Blog : dakwahrenunganhati.blogspot.com
Oleh : Bambang WIjonarso


Subhanaka laa ‘ilma lanaa ilaa maa ‘allamtanaa innaka Antal-Alimul Hakim.

Mahasuci Engkau Ya Allah. Sesungguhnya tidak ada ilmu yang bermafaat bagi kami kecuali ilmu yang berasal dari-Mu dan sesungguhnya Engkau adalah sumber segala ilmu dan sumber segala hikmah.

Allahumma j’alnaa min man yastami’uunal qaula fayattabi’uuna ahsana.

Ya Allah jadikanlah kami orang-orang yang  mendengarkan kata-kata baik secara seksama dan mampukanlah kami untuk bisa mengamalkan yang terbaik di antara kebaikan-kebaikan yang kami dengar.

Tadabbur secara bahasa adalah. Dabbaral Amra wa Fih : : mengurus dan merenungkan kesudahan urusan itu … (Ibrahim Unais et al., Al-Mu’jamul Wasith, hlm. 269, kolom 2.)

Tadabbur secara istilah adalah :

 Asy-Syaikh Ibnu Katsir mendefinisikan Tadabbur :

التَّدَبُّرُ هُوَ : (( تَفَهُّمُ مَعَانِى أَلْفَاظِهِ ، وَ التَفَكُّرُ فِيْمَا تَدُلُّ عَلَيْهِ آيَاتُهُ مُطَابَقَةً ، وَ مَا دَخَلَ فِى ضَمْنِهَا ، وَ مَا لاَ يَتِمُّ تِلْكَ الْمَعَانِى إِلاَّ بِهِ ، مِمَّا لَمْ يَعْرُجِ اللَّفْظُ عَلَى ذِكْرِهِ مِنَ اْلإِشَارَاتِ و التَّنْبِيْهَاتِ ، وَ انْتِفَاعُ الْقَلْبِ بِذَلِكَ بِخُشُوْعِهِ عِنْدَ مَوَاعِظِهِ ، وَ خُضُوْعِهِ لأَوَامِرِهِ ، وَ أَخْذِ الْعِبْرَةِ مِنْهُ ))

Tadabbur ialah : memahami makna lafal-lafal Al-Qur’an, dan memikirkan apa yang ayat-ayat Al-Qur’an tunjukkan tatkala tersusun, dan apa yang terkandung di dalamnya, serta apa yang menjadikan makna-makna Al-Qur’an itu sempurna, dari segala isyarat dan peringatan yang tidak tampak dalam lafal Al-Qur’an, serta pengambilan manfaat oleh hati dengan tunduk di hadapan nasehat-nasehat Al-Qur’an, patuh terhadap perintah-perintahnya, serta pengambilan ibrah darinya.

Asy-Syaikh Sholeh Fauzan mendefinisikan Tadabbur:


وَ تَدَبُّرُ آيَاتِهِ : اِتِّبَاعُهُ وَ الْعَمَلُ بِعِلْمِهِ ، أَمَا وَاللهِ مَا هُوَ بِحِفْظِ حُرُوْفِهِ و َ إِضَاعَةُ حُدُوْدِهِ ، حَتَّى إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَقُوْلُ : لَقَدْ قَرَأْتُ الْقُرْآنَ كُلَّهُ فَمَا أَسْقَطْتُ مِنْهُ حَرْفًا ، وَ قَدْ وَاللهِ أَسْقَطَ كُلَّهُ ، مَا يُرَى لَهُ الْقُرْآنَ فِى خَلْقٍ وَ لاَ عَمَلٍ

Kita memikirkan makna ayat-ayat Al-Qu’ran, apa yang ditunjukkannya, rahasia serta berita yang terdapat dari ayat-ayat tersebut, sehingga kita dapat mendapatkan manfaat berupa hidayah, rasa takut kepada Allah, dan ibadah kepada Nya, dan kita tahu apa yang harus kita lakukan dan apa yang kita tinggalkan dari perbuatan, perkataan, interaksi sosial, dan yang lainnya.

            Rasanya, tak ada yang lebih lezat di kehidupan dunia ini selain mentadabburi Alquran di sepanjang waktu. Sepanjang waktu hati bersahabat dengan Alquran, adalah hal yang paling mengasyikkan dan sangat indah.

Ada orang mau dapat mutiara. Namun caranya salah. Dia memang datang ke pinggir laut, tetapi justru terlena dengan suasana indahnya pantai. Di situ ia menikmati debur ombak, langit biru, serta memandang samudera yang tak terbatas. Dia tahu di dasar laut ada mutiara tetapi ia enggan menyelam. Lalu mutiara apa yang akan ia dapatkan jika ia tetap saja duduk dan tak kunjung menyelam?

Menyelam ke dasar laut memang bukan pekerjaan yang mudah. Meski di dalam laut terang dan ada cahaya. Tanpa kacamata, berapa lama bisa melihat di dalam air? Tanpa tabung oksigen, berapa lama penyelam bisa bertahan di dalam air?  Tetapi, adakah orang yang bisa menyelam tanpa kacamata dan oksigen? Jawabannya ada kalau tahu ilmunya.

Begitu juga dengan Al-Qur’an. Ada orang, baru lima menit membaca Al-Qur’an, matanya sudah perih. Belum menyelami makna dan kandungan ayat-ayat dalam Al-Qur’an, seakan-akan sudah kehabisan oksigen. Kalau begitu, bagaimana ingin mendapatkan mutiara ayat-ayat dalam Al-Qur’an? Kalau cuma membaca saja tidak memiliki ilmunya, tidak akan dapat.

Karena itu, bertadabburlah. Tadabbur adalah sebuah pendekatan yang diinginkan Al-Qur’an untuk mendapatkan mutiara-mutiaranya. Mentadabburi Al-Qur’an itu seperti menyelami dasar-dasar laut yang di dalamnya terdapat banyak mutiara. Seperti membongkah batu-batu karang. Lewat tadabbur, mutiara dalam Al-Qur’an dapat diraih. Supaya bisa mendapatkan banyak manfaat dari ayat-ayat Al-Qur’an bertadabburlah.


Mengapa kita harus mentadabburkan Al qur’an ?, ....KARENA..


1. Sebagai Petunjuk (Al Huda).

ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَDalilnya, Qs.2 : 2 Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.

Tafsir al-Jalalain.
Maksudnya orang-orang yang mengusahakan diri mereka supaya menjadi takwa dengan jalan mengikuti perintah dan menjauhi larangan demi menjaga diri dari api neraka.

        Al-quran tidak hanya menjadi petunjuk bagi umat Islam saja tapi bagi manusia secara umum. Kandungan Al-quran memang ada yang bersifat universal seperti yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan itu bisa menjadi petunjuk bagi semua orang tidak hanya orang yang beriman Islam dan bertakwa saja.

Petunjuk bagi orang yang beriman berarti bagi orang yang memiliki iman Islam dalam dirinya yaitu yang mengakui bahwa Nabi Muhammad utusan Allah dan Allah merupakan satu-satunya Tuhan Semesta Alam. Sedangkan untuk orang yang bertakwa berarti bagi orang-orang yang benar-benar menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Siapakah orang-orang yang bertaqwa adalah dalam firman Allah:

ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ
 وَٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِٱلْءَاخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat (Qs 2 : 3&4)

2. Sebagai Pengingat.

 إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Qs.15 : 9).

Sebagai pengingat disaat manusia lupa atas perintahNya., terserah bekerja dengan kesibukan urusan dunia akan tetapi setlah ada perintah dan larangan maka bersegera untuk menunaikannya, sebagi contoh saat panggilan sholat tiba.

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
وَإِذَا رَأَوْا۟ تِجَٰرَةً أَوْ لَهْوًا ٱنفَضُّوٓا۟ إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَآئِمًا ۚ قُلْ مَا عِندَ ٱللَّهِ خَيْرٌ مِّنَ ٱللَّهْوِ وَمِنَ ٱلتِّجَٰرَةِ ۚ وَٱللَّهُ خَيْرُ ٱلرَّٰزِقِينَ 

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.
Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: "Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan", dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki. (Qs. Al- Jumu’ah ayat 10-11).

3. Sebagai Pembeda ( Al Furqon).

         Al Qur’an sebagai pemisah antara yang hak dan yang batil, atau antara yang benar dan yang salah. Di dalam Al-quran dijelaskan berbagai macam hal yang termasuk kategori salah dan benar atau hak dan yang batil.

Jadi jika sudah belajar Al-Quran dengan benar maka seseorang seharusnya dapat membedakan antara yang benar dan yang salah. Misalnya saja saat mencari keuntungan dengan berdagang, dijelaskan bahwa tidak benar jika melakukan penipuan dengan mengurangi berat sebuah barang dagangan. Begitu juga dengan berbagai permasalahan lainnya yang bisa diambil contohnya dari ayat-ayat Al-Quran.

Dalilnya :
تَبَارَكَ ٱلَّذِى نَزَّلَ ٱلْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِۦ لِيَكُونَ لِلْعَٰلَمِينَ نَذِيرًا
 
Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (Qs. Al Furqon ayat 1).

4. Sebagai Nasehat (Mau’idzah).

        Nasihat yang terdapat di dalam Al-Quran biasanya berkaitan dengan sebuah peristiwa atau kejadian, yang bisa dijadikan pelajaran bagi orang-orang di masa sekarang atau masa setelahnya.
Nasihat dan peringatan tersebut penting karena sebagai manusia kita sering menghadapi berbagai masalah dan cara penyelesaiannya sebaiknya diambil dari ajaran agama. Bagaimana cara kita menghadapi tetangga, suami, orang tua, dan bahkan musuh kita telah diajarkan dalam Al-Quran.

Dalilnya .
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدْ جَآءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌ لِّمَا فِى ٱلصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu Nasehat/pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman (Qs. Yunus : 57).

         Dalam ayat ini, Allâh Azza wa Jalla mengabarkan tentang anugerah besar yang diturunkan kepada para hamba-Nya, yaitu al-Qur’an yang mulia. Karena di dalam al-Qur’an terdapat nasehat untuk menjauhi perbuatan maksiat.

5. Sebagai Penyembuh/Obat (Syifa’).

       Di dalam Al-quran Keajaiban Al-Qur’an di Dunia Nyata disebutkan bahwa Al-quran merupakan obat bagi penyakit yang ada di dalam dada manusia. Penyakit dalam tubuh manusia memang tak hanya berupa penyakit fisik saja tapi bisa juga penyakit mental atau psikologis, contohnya saja cara mengatasi depresi menurut islam. Perasaan manusia tidak selalu tenang, kadang merasa marah, iri, dengki, cemas, dan lain-lain.

Manfaat Membaca Al- Qur’an dan mengamalkannya dapat terhindar dari berbagai penyakit hati tersebut. Al-quran memang hanya berupa tulisan saja tapi Keutamaan Membaca Al Quran dapat memberikan pencerahan bagi setiap orang yang beriman. Saat hati seseorang terbuka dengan Al-quran maka ia dapat mengobati dirinya sendiri sehingga perasaannya menjadi lebih tenang dan bahagia dengan berada di jalan Allah.

DalilNya. Ibnu Katsir mengatakan, Syifa bagi penyakit-penyakit dalam dada” artinya, penyakit syubhat, keraguan. Hatinya dibersihkan dari setiap najis dan kotoran.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/274).
Di ayat lain, Allah berfirman,'


قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ هُدًى وَشِفَآءٌ ۖ وَٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِىٓ ءَاذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ يُنَادَوْنَ مِن مَّكَانٍۭ بَعِيدٍ

Katakanlah: “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan. (QS. Fushilat: 44).

Pendapat Imam as-Sa’di,Al-Quran adalah penyembuh bagi semua penyakit hati. Baik berupa penyakit syahwat yang menghalangi manusia untuk taat kepada syariat. Atau penyakit Syubuhat, yang mengotori aqidah dan keyakinan. Karena dalam al-Quran terdapat nasehat, motivasi, peringatan, janji, dan ancaman, yang akan memicu perasaan harap dan sekaligus takut, bagi para hamba.
Jika muncul dalam perasaannya, motivasi untuk berbuat baik, dan rasa takut untuk maksiat, dan itu terus berkembang karena selalu mengkaji makna al-Quran, itu akan membimbing dirinya untuk lebih mendahulukan perintah Allah dari pada bisikan nafsunya. Sehingga dia menjadi hamba yang lebih mencari ridha Allah dari pada nafsu syahwatnya.

Demikian pula berbagai hujjah dan dalil yang Allah sebutkan dengan sangat jelas. Ini akan menghilangkan setiap kerancuan berfikir yang menghalangi kebenaran masuk dalam dirinya dan mengotori aqidahnya. Sehingga hatinya sampai pada puncak derajat keyakinan.
Ketika hati itu sehat, tidak banyak berisi penyakit syahwat dan syubhat, keadaannya akan diikuti oleh anggota badannya. Karena anggota badan akan jadi baik, disebabkan kebaikan hati. Dan menjadi rusak, disebabkan rusaknya hati.
(Tafsir as-Sa’di, hlm. 366).

6. Sebagai Sumber Keberkahan.

        Al-Qur’an diturunkan untuk dibaca dan direnungkan maknanya, serta dihayati petunjuknya, agar bisa menjadi sebab kebaikan bagi diri manusia, lahir dan batin

كِتَٰبٌ أَنزَلْنَٰهُ إِلَيْكَ مُبَٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوٓا۟ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran (Qs. 38 : 29).

PENUTUP

Rosulullah bersabda,
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : ‘Aku tinggalkan dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya yaitu Kitabullah dan Sunnahku, serta keduanya tidak akan berpisah sampai keduanya mendatangiku di Telaga (di Surga).” [Hadits shahih riwayat al-Hakim (I/93) dan al-Baihaqy (X/114).

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata, 
 “Allâh Azza wa Jalla mengabarkan tentang kemuliaan dan keagungan al-Qur’an, bahwa kitab ini memberikan petunjuk menuju (jalan) yang paling lurus dan paling mulia dalam keyakinan, amal dan akhlak. Sehingga barangsiapa mengikuti petunjuk yang diserukan dalam al-Qur’an, maka dia akan menjadi orang yang paling sempurna, paling lurus dan paling terbimbing dalam segala urusannya.


Wallahu 'alam
Penulis Abu Alby Bambang Wijonarso.
(Ta’lim Rutin Ustadz  Dr. Ahmad Mulyadi Kosim).





Read More..

Kamis, 21 Februari 2019

Siapakah Orang Munafik ?


Renungan HAti

Abu Alby Bambang Wijonarso

Blog : dakwahrenunganhati.blogspot.com


       Nifak atau pelakunya disebut munafik merupakan salah satu penyakit yang sangat berbahaya,
Apa itu nifak? Sebagaimana yang dikatakan Ibnu Katsir, nifak adalah menampakkan kebaikan dan  menyembunyikan keburukan. (Note : Kebaikan dan keburukan menurut maunya Allah dan RosulNya bukan menurut maunya manusia, untuk memahami kebaikan & keburukan maka harus lewat belajar agama).

Nifaq (kemunafikan) lebih berbahaya daripada kekafiran dikarenakan nifaq adalah menampakkan keislaman namun menyembunyikan kekufuran, sebagaimana dikatakan Ibnu Manzhur bahwa nifaq adalah salah satu nama syar’i yang ditetapkan oleh syara’ yang makna istilah (terminologinya) belumlah dikenal sebelum islam, maknanya adalah menyembunyikan kekufurannya dan menampakkan keislamannya. Oleh karena itu Allah swt mengancam para pelakunya akan dilemparkan ke dasar neraka, sebagaimana firman Allah swt.

إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ فِى ٱلدَّرْكِ ٱلْأَسْفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka (Qs 4 : 145).



Nifak (Kemunafikan) dibagi dua katagori yaitu Nifak Besar dan Nifak Kecil.

Ibnu Rajab mengatakan bahwa nifaq didalam syara terbagi menjadi dua :

1. Nifaq Akbar (terbesar), yaitu : seorang yang menampakkan keimanan kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir sementara dirinya menyembunyikan apa-apa yang dapat membatalkan sebagian atau seluruh perkara diatas. Inilah kemunafikan yang ada yang ada pada masa Rasulullah saw lalu Al Qur’an turun mengecam para pelakunya bahkan mengkufurkan mereka dan menginformasikan bahwa mereka kelak ditempatkan di dasar dari neraka.
Contoh dizaman Rosulullah adalah Abdullah bin Ubay bin Salul.

2. Nifaq Asghor (terkecil) atau nifaq amali yaitu seorang yang menampakkan keshalehan secara terang-terangan sementara dia menyembunyikan hal-hal yang bertentangan dengannya. bohong jika berbicara, ingkar janji, berkhianat terhadap amanah yang dititipkan kepadanya kemudian janganlah membiarkan apalagi membiasakan perbuatan-perbuatan semacam itu karena dapat menuntunnya kepada nifaq akbar (i’tiqodi).

Note :


• Antara nifak besar dan nifak kecil terdapat sejumlah perbedaan, yang paling mencolok ialah nifak besar dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam, sementara nifak kecil tidak.

• Nifak besar menggugurkan seluruh amalan pelakunya, sedangkan nifak kecil tidak.

• Nifak besar berhubungan dengan perbedaan antara lahir dan batin dalam hal akidah, sedangkan   nifak kecil berkaitan dengan perbedaan antara lahir dan batin dalam masalah perbuatan yang tidak   ada sangkutpautnya dengan akidah.

• Nifak besar menyebabkan pelakunya kekal di neraka, sedangkan nifak kecil tidak demikian.

• Nifak besar tidak akan muncul dari seorang mukmin, sedangkan nifak kecil terkadang timbul dari orang mukmin.Ghalibnya, orang yang terserang nifak besar tidak akan bertobat. Kalau toh bertaubat, secara lahiriah diperselisihkan statusnya, apakah diterima taubatnya atau tidak lantaran perkara tersebut sulit dibedakan karena pelakunya selalu menampakkan keislaman. (Lihat: Kitab AtTauhid hlm. 22 dan Nur Al-Iman wa Zhulumat An-Nifaq hlm. 41).

Tanda-tanda orang. Munafik

وَإِذَا لَقُوا۟ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قَالُوٓا۟ ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوْا۟ إِلَىٰ شَيَٰطِينِهِمْ قَالُوٓا۟ إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِءُونَٱ .للَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِى طُغْيَٰنِهِمْ يَعْمَهُونَ


Allah berfirman : Apabila mereka menjumpai orang-orang mukmin, mereka berkata, ‘Kami telah beriman.’ Namun jika mereka menyendiri beserta dedengkot-dedengkotnya, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami di pihak kalian. Hanya saja kami hendak mengolok-olok kaum mukmin.’ Allah akan mengolok-olok mereka dan menelantarkan mereka dlm kedurhakaan, sedangkan mereka dalam keadaan bimbang” (QS: 2: 14-15).


عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم – قَالَ آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
- Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,   “Tanda orang munafik itu tiga apabila ia berucap berdusta, jika membuat janji berdusta, dan jika diberi amanah/dipercayai mengkhianati. (HR Al-Bukhari).

Note : dipercaya/amanah ini salah satunya adalah seberapa besar dalam amanah mengemban agama ini pada masing2 individu muslim.

- Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang menunaikan shalat berjama’ah selama 40 dengan memperoleh takbiratul ihram imam, maka ia akan ditetapkan terbebas dari dua hal, yakni terbebas dari neraka dan terbebas dari kenifakan” (HR At-Tirmidzi).



-        -  Ibnu Juraij berkata bahwa orang munafik itu adalah orang yang perkataanya berlawanan dengan apa yang ia kerjakan dan batinnya menyelisihi lahiriahnya.


-    -  Ditanyakan kepada Rasulullah Saw: Apakah seorang mukmin bisa menjadi penakut? Beliau menjawab: Ya. Lalu ditanya beliau ditanya lagi: Apakah seorang mukmin bisa menjadi bakhil? Beliau menjawab: Ya. Lalu ditanyakan lagi: Apakah seorang mukmin bisa menjadi pembohong? Beliau menjawab: Tidak!
Hadits tersebut diriwayatkan oleh Malik dari Sofwan bin Sulaim dalam kitab Al-Muwatha. Bahkan Rasulullah sendiri melalui hadist di atas telah menyatakan bahwa berbohong bukanlah sifat seorang mukmin. Seorang mukmin mungkin saja bakhil dan penakut, namun ia tidak mungkin berbohong.


Pendapat para sahabat &Tabi'in.

- Al-Hasan Al-Bashri mengatakan, “Tidak ada orang merasa aman dari sifat nifak kecuali orang munafik dan tidak ada org yang merasa khawatir terhadapnya kecuali orang mukmin.”

- Huzhaifah bin Al-Yaman adalah seorang pemegang rahasia Nabi. Beliau pernah diberi tahu nabi nama-nama orang munafik. Oleh sebab itu, karena Umar bin Al-Khattab amat sangat khawatir terhadap sifat nifak, beliau memberanikan diri bertanya pada Huzhaifah apakah Nabi mengkategorikannya sebagai orang munafik, maka Huzhaifah pun menjawab, “Tidak. Setelahmu, aku tidak mau lagi memberi rekomendasi".

- Ibnu Abi Malikah pernah mengatakan, “Aku telah menjumpai tiga puluh sahabat Nabi, seluruhnya takut akan nifak. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengatakan, bahwa dirinya memiliki iman seperti imannya Jibril dan Mikail.

- Dikisahkan bahwa sebagian sahabat biasa berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya hamba memohon perlindungan dari khusyuknya nifak.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud khusyuk nifak?” Jawabnya, “Tubuh yang terlihat khusyu’ namun ternyata hati tidak.”

Kiat2 terhindar dari sifat munafik.

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam Mufsidat Al-Qalb: An-Nifaq hlm. 47-52 memberikan beberapa tips yang sebaiknya dilakukan:

1. Bersegera melaksanakan shalat jika waktunya telah tiba dan berusaha mendapatkan takbiratul ihram imam shalat jamaah di masjid (dalil hadits tsb diatas).

2. Berakhlak baik dan memperdalam agama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Ada dua sifat yang tidak akan pernah tergabung dalam hati orang munafik: perilaku luhur dan pemahaman dalam agama” (HR At-Tirmidzi).

3. Menghidupkan shalat malam. Adalah Qatadah pernah berkata, “Orang munafik itu sedikit sekali shalat malam.” Hal tersebut karena orang munafik hanya akan semangat beramal jika ada org yg menyaksikannya. Jika tidak ada, maka motifasi untuk beramal shalih pun tiada. Maka jika ada seorang hamba mendirikan shalat malam, maka itu menjadi bukti bahwa dalam dirinya tidak ada sifat nifak dan menjadi bukti keimanannya yang benar.

4. Memperbanyak zikir, Ka’b menyatakan, “Orang yang memperbanyak zikir, akan terlepas dari sifat nifak.” Sedangkan Ibnul Qayyim menulis, “Sejatinya banyak zikir merupakan jalan aman dari kemunafikan. Sebab, orang-orang munafik sedikit berzikir. Allah berfirman tentang orang-orang munafik, ‘Dan mereka tidak berzikir kecuali sedikit.’

إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَٰدِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوٓا۟ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُوا۟ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلً Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.(QS: 4: 142).

5. Bersedekah Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sedekah merupakan bukti” (HR Muslim). Bukti di sini maksudnya bukti akan keimanan. Oleh karena itu, orang munafik tidak suka bersedekah karena tidak adanya iman yang mendasarinya, kalaupun sedekah hanya untuk tujuan dilihat orang.

6. Banyak berdoa dari kekufuran & kemunafikan

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ وَالْكُفْرِ ، وَالْفُسُوقِ ، وَالشِّقَاقِ ، وَالنِّفَاقِ ، وَالسُّمْعَةِ ، وَالرِّيَاءِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran, kekufuran, kefasikan, kedurhakaan, kemunafikan, sum’ah, dan riya’.” (Doa ini diriwayatkan oleh al-Hakim (1944) dan dishahihkan Al-Albani).

Kesimpulan

Melihat bahayanya sifat nifak ini, hendaknya seorang mukmin berusaha semaksimal mungkin memasang jarak dari sifat nifak,  baik nifak besar maupun kecil. Bisa kita bayangkan para sahabat rosulullah diatas yang sekelas iman dan amal serta tauhidnya begitu hebat masih saja takut sekali atas sifat munafik ini, tentunya buat kita harus lebih waspada lagi dari mereka2 para sahabat..

Penutup

Mudah-mudahan Allah Ta’ala menjauhkan kita semua dari sifat kemunafikan ini dan segala sifat buruk yang melemahkan iman dan agar kita diwafatkan di atas cahaya keimanan dan bebas dari sifat kumunafikan aamiin aamiin aamiin

Wallahu 'alam
Abu Alby Bambang Wijonarso

Read More..